
Tejah dan Aya mengikuti Sintya dari belakang berdiri sedikit berjauhan dari posisi tidur Muhyi. Mereka tidak sanggup berlama-lama di dalam kamarnya. Dua orang yang berpura-pura baru mengenal Muhyi itu berpamitan meminta ijin.
“Loh kemana pak Tejah dan bu Yahya pak? Minumannya belum di minum” ucap Sintya yang baru saja kembali dari kamar mandi.
“Mereka pergi, ada urusan. Jangan meminta bantuan pada orang-orang kampong sini, mereka sudah terlalu sibuk mengurusi masalah gangguan makhluk di gunung Keramat.
“Aku dengar bu Yahya mengajak Kemuning mencari bapak, apa bapak tau?”
“Yahya? Akkh kepala ku sakit! Aku tidak bias mengingat semuanya..”
Bahan persediaan menipis, tiap kali Sintya mencoba berbicara atau berbaur ke warga semuanya menjauh. Begitu pula dokter yang jarang ada di rumahnya, tatapan warga melihatnya penuh curiga.
“Kamu siapa? Oh ya kenalin aku Andik, Kenapa bisa sampai di kampung ini?”
“Saya Sintya. Ceritanya sangat panjang, aku sangat berharap ada yang bias menolong ku dan ayah kembali pulang.”
“Kami tidak berani keluar kampung apalagi sampai ke perbatasan. Hanya satu cara yaitu memutar haluan masuk ke hutan menembus batas wilayah kota. Wilayah kaki gunung ini di isolasi karena banyaknya angka kematian dan penyakit yang tidak wajar. Kalian tinggal di rumah warga?”
“Aku dan ayah tinggal di gubuk. Oh ya hari mulai senja, aku haris kembali”
Sintya berjalan masuk di ikuti Andik yang memperhatikan dari luar, Dia berpikir wanita itu mengalami amnesia tidak mengingat Andik sahabat kecilnya. Di pagi hari, Andik menunggu Sintya di tempat dia melihatnya sibuk mencuci baju di sungai.
“Sintya, ayo ikut aku. Kita kan minta tolong pada ayah ku agar membantu kau dan ayah mu balik ke kota.”
__ADS_1
Dengan semangat dia pergi ke rumah Andik, dia duduk di kursi menunduk menunggu pria yang duduk sambil memegang tongkat itu mengeluarkan persetujuan. Dia melirik tajam Sintya, matanya menunjukkan amarah.
“Kau mau minta bantuan ku? Apa kau tidak ingat si Muhyi itu pernah membuat istri ku celaka! Aku tidak sudi melihat mu atau si Muhyi bangsat itu! Pergi!”
Bentakan dan ucapan kasar membuatnya menangis. Andik mengejar namun ayahnya melarang mengikutinya. Dia takut anaknya ikut tertimpa bencana, larangan keras membantu atau bertemu wanita itu atau mendekati rumahnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Semua orang kampung bersikap aneh, kenapa banyak yang membenci ayah? Hiks” ucapnya menangis sambil berlari.
Persediaan makanan telah habis, ayahnya malah merengek lapar di depan anaknya. Sintya tidak habis pikir akan sikap ayahnya yang semakin terlihat berbeda. Dia gagal mendapatkan ilmu yang dia minta dari gunung keramat berujung membuatnya menjadi gila.
“Aku lapar Sin. Cepat carikan aku makanan”
“Tidak ada makanan lagi ayah, aku masih bingung memikirkan bagaimana pergi dari tempat ini. Tidak orang kampung yang mau membantu kita. Apakah ayah tau sebabnya?”
“Aku sama dengan mu, terjebak di gubuk terkutuk ini. Arghh! Tangan ku semakin sakit! Cepat panggilkan dokter kampung itu!”
“Sekarang keadaan ku seperti ini jadi kau yang harus menjadi tulang punggung keluarga, cepat carikan aku makanan dan obati luka ku!” bentakan keras Muhyi melukai hatinya.
Dia menangis menggelengkan kepala, Sintya berlari keluar rumah menekuk lutut terduduk di bawah gelapnya malam.
Kemuning masih saja melakukan pendakian di dalam alam bawah sadarnya. Dia melihat sosok Capit hidup kembali di dalam sosok manusia yang lain. Perkumpulan orang-orang sesat memujanya, dia bersembunyi di anatta pepohonan dan gua yang tidak terlihat. Pria iblis itu memperluas kekuatannya, dia mulai memperlihatkan diri ke pendaki dan meminta belas kasih.
Mendapatkan perangkap dan mangsa yang bagus, dia di bawa ke kota dan di masukkan ke dalam panti asuhan. Setengah hari menunggu di jemput orang tua asuh yang datang menjemput. Dia menyamar bertingkah sebagai sosok anak kecil yang dia tempati.
__ADS_1
Riwayat Figo yang tinggal di dalam hutan sendiri membuat kedua orang tua angkatnya merasa iba. Seorang wanita muda yang duduk di sampingnya itu memeluknya sangat erat. Dia memberikan segala fasilitas kemewahan, ada dua pelayan di rumah yang khusus menjaganya.
“Bu Raisa, besok kita harus terbang ke pulau Y, ibu harus menghadiri beberapa pertemuan penting” ucap sekretarisnya di dalam panggilan telepon.
......................
Di dalam kamar, seorang pelayan memanggil mencarinya. Sosok monster Capit memukul wanita dari belakang. Dia melahap organ tubuhnya, jari jemari kecil tidak menghalanginya memangsa korban. Sangat lama dia menanti merasakan darah segar kembali. Sisa tubuhnya di masukkan ke dalam lemari wanita itu. Agar mengelabui orang-orang, dia mengikat tubuh mayat yang meneteskan darah itu dengan tali.
Pelayan kedua melihat dengan jelas bagaimana wanita itu di bunuh anak kecil yang mereka jaga. Dia melarikan diri keluar rumah dari pintu belakang. Memanjat pohon menaiki gerbang pembatas sampai melompat dari ketinggian, tubuhnya yang seperti mau remuk di tegakkan berlari menjauh dari rumah itu.
Figo memukulnya saat langkahnya melewati jalan yang sepi. Dia menghilang membawa ke kaki gunung menyantap makanan segar kedua kalinya. “Ahahah, aku sangat puas sekali!”
Laporan yang di terima mengenai data Figo memperlihatkan sebuah foto yang di ambil secara sembunyi-sembunyi oleh salah seorang pendaki. Figo menyantap daging manusia dan menelan organ tubuh. Dia meninggalkan rumah dan anak perempuannya, suaminya yang sibuk bekerja pasti tidak akan pernah memikirkan semua urusan rumah.
Membatalkan penerbangan hari ini, laju kendaraan cepat ibu angkatnya di rasakan Capit. Dia mengurungkan niat membunuh Linda dan berpura-pura terlelap di dalam kamar. Langkah cepat Aya mencari anaknya, dia mengusap dada melihat anaknya tidak tersentuh apapun.
“Kemungkinan besar Figo difoto ini sedang kerasukan. Dia tinggal di hutan sendirian, tidak di manga hewan buas saja sebuah anugerah yang menyelamatkannya sampai di temukan pendaki” gumam Aya perlahan menutup pintu.
Membuka pintu kamar Figo melihat anak angkat tertidur sampai mendengkur. Dia tersenyum melihatnya, pandangan beralih mendengar tetesan dari dalam lemari. Darah yang jatuh menggenangi lantai.
“Darah siapa ini?” gumamnya.
Membuka isi lemari, dia terkejut melihat tubuh manusia yang wajahnya tidak lagi bisa di kenali memperlihatkan isi perut dan semua organ tubuh terburai dan separuh menghilang. Sisa usus yang menambah nyari penglihatan. Sambil mengangkat Figo, dia menuruni tangga memanggil semua pekerjanya.
__ADS_1
"Pak, bibi, mbok, tolong!"
Dia yang histeris meminta para pekerjanya memanggil polisi. Mayat yang di temukan di lemari Figo tidak lain wanita muda yang di tugaskan bekerja di rumah itu.