Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
kembalinya iblis lain


__ADS_3

Hanya kepada Allah kita meminta perlindungan dan berserah diri kepada-Nya.


قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ


ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَقَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ


Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya".


...🔥🔥🔥...


Selesai menyiapkan hidangan, Nisa mengajak tamunya ikut makan bersama. Tapi mereka buru-buru pergi setelah mendapatkan tanda tangan dari Nisa. Piring makan, gelas, sendok dan kursi bertambah di atas meja. Kehadiran mereka di sambut baik anak-anak panti lainnya. Tatapan sangar Figo menakuti ke empat balita itu balita itu. Nisa menyenggol Figo agar meneruskan makan, dia masih kikuk mengurus balita apalagi bayi yang belum genap setahun di gendongannya.


Tangisan bayi kecil bernama Serina menghentikan makan Nisa. Dia berjalan mengambil air hangat, membuatkannya susu hangat di dalam dot. Serin tenang meneguk susu sambil di buai. Namun saat Nisa duduk di kursi, dia menangis sampai Isak nya memuntahkan susu yang dia minum.


“Anak-anak, kalian makan duluan ya. Jangan lupa selesai makan mejanya di rapikan.”


“Ya kak..”


Mengurus anak bukanlah hal yang mudah, dia tidak bisa membayar pekerja untuk membantu Karena krisis keuangan. Dokumen yang di serahkan padanya setiap kali ada orang tua yang berpakaian mewah menitipkan anak-anaknya tidak semuanya asli dan perkataan yang akan memberi biaya itu tidak pernah terlaksana. Tapi kali ini berbeda, kehadiran kelima balita kembar itu membantu sedikit kebutuhan hidup panti. Seorang pria yang berdasi menyodorkan uang muka sebagai biaya perbulan, Nisa juga akan di datangkan dua pekerja khusus membantunya di panti.


......................


Petir menyambar, suara aneh membanting dapur dan teriak anak-anak yang ketakutan. Nisa menyalakan lilin lalu menenangkan mereka semua. Dia menghitung-hitung jumlah anak, Nampak kasur Figo yang kosong mencemaskannya melihat ke luar jendela.


“Anak-anak, kalian tau Figo peri kemana?”

__ADS_1


“Nggak kak, kalau malam si Figo memang jarang ada di kasurnya. Aku sering mengintip menaiki tangga kasur” jawab Iman.


Melihat ketakutan anak-anak, dia membentang dua lapis tikar, ambar tebal dan selimut. Berjejer kelima balita kembar itu lalu menyalakan senter agar bertambah terang.


Suara ketukan pintu yang keras mengagetkannya, Nisa menuruni tangga. Menyorot kaca jendela melihat dari luar ada seorang wanita tua yang memakai bayu kebaya membalas tatapannya. Matanya mendelik keluar, gigi merah, tubuhnya tidak basah kuyup meski di luar sedang hujan deras. Dia menutup tirai rapat, mengingat dalam mimpi sosok itu selalu hadir mengganggu. Kini dia Nampak nyata berdiri di depannya.


“Permisi bu..”


“Nenek ini siapa? Ada perlu apa?” Tanya Nisa bernafas terengah-engah.


Dia menjawab dari balik pintu, menyibakkan sedikit tirai melihat dia masih berdiri menunggunya. Ada sebuah tas yang dia bawa, rambutnya rapi terselip tusuk sanggul dan terlihat kakinya berdiri menginjak lantai. Nisa membukanya tapi di belakang ada Figo menarik wanita tua itu hingga dia terjatuh. Nesa merasa kasihan , dia menggelengkan kepala membisikkan ke telinga Figo supaya bersikap baik.


“Nek, sebentar saya ambilkan handuk ya.”


“Ada apa tuan ku? Apakah tubuh yang engkau diami itu mengubah mu? Wanita yang di hadapan mu tadi sangat cocok di jadikan santapan. Bagaimana kalau kita ritualkan untuk membangkitkan Desi?” ucapannya yang manis mengiming-imingnya.


“Desi?”


“Ya, anak tuan ku yang di gunung keramat, apa tuan ku melupakannya?”


“Tidak Mijan, justru aku tidak mau menambah penderitaannya. Tidak semua para manusia penganut iblis yang berilmu tinggi menerima tubuh yang lain. Setiap detik menahan kesakitan yang sama. Merasakan kematian lalu hidup menahan kesakitan. Desi tidak boleh merasakan itu lagi Mijan.”


Nesa menuruni tangga membawa bayi yang sedang menangis, dia memindah tangan ke Figo dan meminta meminumkan botol dot dengan benar.


“Nek, ini handuknya. Sebentar saya mau ke kamar kecil dan mengambil air hangat untuk nenek.”

__ADS_1


“Tidak usah repot-repot. Saya justru dating kesini untuk membantu.”


Suaranya berbayang keras melebihi deras air hujan yang masih tumpah selama berjam-jam. Dia tersenyum mau menyentuh bayi yang di tangan Figo. Tapi gerakan sosok sukma Capit di dalam tubuhnya menjauh menunjukkan dengusan dan amarah.


“Makanan yang lezat, tunggu apalagi tuan ku. Ilmu mu akan bertambah..”


“Aku peringatkan pada mu Mijan,jangan pernah menyentuh keluarga ini! Atau aku akan membunuh mu dengan satu ketukan jari”


“Baiklah tuan ku..” Mijan ketakutan melihat Capit.


Dia tetap mencari cara bagaimana ******* habis makanan kesukaannya. Nisa menunjukkan kamarnya dia juga memberitahu letak kamar bayi dan ruangan lainnya. Memperkenalkan anak-anak panti, matanya ketakutan bersalaman menyentuh tangan Capit.


Kerja keras membersihkan bagian atas rumah yang bocor dan air yang masuk. Di dalam kamar, Mijan membasuh air liur yang menetes di bibirnya, Figo tetap memantu gerakannya, dia berkomat kamit menusuk dahi si mbok agar tidak bisa menggunakan kekuatannya.


“Kenapa kau lakukan ini tuan ku? Aku sangat lama mengabdi pada mu. Tolong jangan kunci kekuatan ku..”


Iman melihat mereka berdua, dia ketakutan berlari pergi. Kelereng yang terjatuh dari sakunya di pungut Figo sambil tersenyum menyeringai. Iman bersembunyi di bawah kasur, Figo masuk ke dalam memanggil Iman. Baru kali ini dia mendengar jelas suaranya yang menyeramkan.


“Iman, sudah berapa ayat yang sudah kau hafal? Ayah mu mengatakan seseorang yang ahli ibadah. Kenapa kau tidak mengikuti jejaknya?”


Suara bisikan Figo yang tiba-tiba di sampingnya. Dia memejamkan mata, berharap Figo tidak mencekik seperti dia mencekik Jeri.


“Aku tidak akan memberitahu kak Nisa.”


Sosok Figo menghilang, pintu terbanting kuat. Duduk menahan di depan pintu menunggu Figo benar-benar pergi.

__ADS_1


__ADS_2