Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Kematian korban Gunung keramat


__ADS_3

Pintu dapur sudah di perbaiki, rumah juga beres dan di pasang alat pengaman alarm yang berbunyi jika ada yang membuka pintu secara paksa. Kematian tiga anjing lainnya membuat ketakutan di hati mereka yang berpikir ada pembunuh berdarah dingin.


Makan malam terhenti mendengar lagi aungan suara anjing, kali ini yang tersisa hanya Skit di kandangnya. Tera tersenyum melihat dari kaca jendela, Yupi kembali berdiri di depan pintu. Dia menekan tombol pembuka pintu, di ikuti ayah, ibu dan kakaknya. Akan tetapi hewan itu terlihat lebih ganas dan mengeluarkan taringnya.


Robi menyuruh Tera mundur perlahan mendekatinya. Tera yang perlahan berjalan meraih tangan anaknya namun gerakan cepat Skit menggigit tangannya. Tarikannya yang kuat menancapkan taring yang dalam. Tera menyuruh Robi memanggil ambulan, dia menarik Tera yang di tarik Skit masuk ke dalam hutan. Robi mengambil batu yang sangat besar lalu memukul Skit sampai mati.


Pukulan memecahkan kepalanya, gigi taring yang belum terlepas itu tertanam di pergelangan tangan Tera. Tangisan kesakitan yang kuat perlahan berhenti, dia pingsan sebelum masuk ke dalam ruangan UGD. Isak tangis liya di peluk Gason sementara Robi masih tampak terkejut mengingat kejadian yang mengerikan itu.


Beberapa jam berlalu, dokter meminta pihak keluarg agar bersabar mengingat kondisi Tera yang belum di ketahui penyakitnya. Tidak ada tanda-tanda rabies walau sisa gigi yang di ambil dari pergelangan tangan anaknya.


“Bisa jadi ini adalah penyakit langka atau suatu penyakit yang belum tau jenisnya. Kita tunggu pemeriksaan dari laboratorium” ucap pak dokter menjelaskan.


Tera, Gaston dan Robi masuk ke dalam ruangannya. Mereka tersenyum memeluk, mengecup dahinya dan memberikan penguatan. Di pagi hari yang berawan gelap, Tera tidak selera dengan sarapannya. Dia mual tiap kali mencium aroma makanan dan minuman.


Menahan lapar sepanjang hari, dia melepaskan selang kantung darah dan menghisapnya sampai habis. Liya sangat terkejut melihat anaknya minum darah, dia merampas kantung lalu membersihkan mulutnya.


“Ini tidak baik Tera. Jangan lakukan hal seperti ini lagi.”


“Tapi aku sangat menyukainya ibu..”


Dokter yang masuk memeriksa menyatakan kesehatannya membaik. Liya menyembunyikan kantung darah di balik kajetnya. Dia tidak mengira setelah anaknya meminum darah maka kesehatannya membaik. Liya memutuskan merawat jalan Gaston di rumah. Gaston yang selalu menyetujui keputusannya langsung membawa pulang bersama-sama.


Dia tidak akan menduga bahwa darah segar adalah minuman pokok yang wajib di konsumsi anaknya. Puluhan kantung darah habis setiap kali Tera memintanya. Liya menyembunyikan sisa kantung dan memberikan darah segar ke anaknya tanpa sepengetahuan Gaston. Persediaan darah yang dia bawa itu habis, jarak dari rumah ke kota memakan waktu berjam-jam dan membeli sekantung darah sangat mahal.


Liya pergi ke pasar mencari beberapa ekor hewan untuk di sembelih dan di ambil darahnya. Dia memilih-milih hewan di kandang. Pilihannya terjatuh pada tiga ekor kelinci besar yang dia beli seharga dua ratus ribu rupiah. Di dalam gudang, dia memotong hewan itu lalu menampung darahnya di dalam botol.

__ADS_1


Sesuai jam sebelum tidur tanpa sepengetahuan Gaston, dia masuk ke kamar Tera memberikan tegukan darah dari dalam botol.


“Bagaimana perasaan mu sekarang sayang?”


“Aku lebih segar bu..” jawaban Tera membuat tangisan Liya tidak tertahan jatuh menetes di pelupuk mata.


Robi mendengar dari balik pintu, langkahnya di lihat Liya. Keributan di rumah itu terpacu sampai Robi melihat Tera terjatuh di lantai mengeluarkan buih dari dalam mulutnya. Diam-diam Liya mengambil darahnya sendiri, dia menyayat lengannya dan menampung darah di dalam botol. Dia tidak akan pernah menyerah, apapun obat atau penawar untuk kesembuhan anaknya akan dia berikan walau mempertaruhkan nyawanya.


Kembali ke rumah sakit dan berada tepat di ruangan yang sama. Diam-diam memberikan darah pada Tera, setengah botol darah di habiskan tanpa tersisa. Robi yang terbangun dari tidurnya menyaksikan semuanya. Suster yang masuk ke dalam ruangan memeriksa menyatakan keadaan suhu tubuh dan tekanan darah Tera normal kembali.


“Ini adalah sebuah kabar baik, kami akan memanggil dokter” ucap salah satu suster.


Pandanganya kabur, Tera berjuang tetap menegakkan tubuhnya. Kesembuhan Tera yang membaik, dia di perbolehkan pulang ke rumah. Di dalam kamar mandi Liya mengeluarkan darah dengan menyayat pergelangan tangannya. DIa menekan kuat, di sampingnya ada Tera yang tiba-tiba muncul menyalakan mata merah tidak sabar menyerut darah yang keluar. Liya membiarkan anaknya meneguk darah yang mengalir deras itu sampai dia tidak sadarkan diri.


Liya tersadar berada di dalam Rumah Sakit, jarum infus terpasang di tangan. Dia tidak melihat kedua anaknya. Hanya ada Gaston duduk di sampingnya sambil mengernyitkan dahi.


“Aku tidak mau kehilangannya Gaston, dia putri kita satu-satunya..”


“Pasti ada obatnya, aku sudah meminta dokter memberikan penanganan yang terbaik untuknya.”


“Tidak, dia akan di karantina dan di jadikan bahan malpraktek. Dimana anak ku Gaston? Selamatkan Tera sekarang juga!”


Teriakan para suster mengejar pasien yang kabur dari dalam ruangannya. Gaston melihat pasien yang melarikan diri itu adalah Tera anaknya. Liya melepaskan jarum infus ikut berlari mengejar, dia tau pasti anaknya berlari ke dalam hutan. Gunung keramat seolah memanggil-manggil mereka pulang.


Dalam gelapnya hutan, Robi mengejar adiknya yang berlari ke lumpur hidup. Dia menarik tangannya, sampai tangannya kiri yang menopang tubuhnya terluka. Nyala darah yang terlihat membara di dalam mata iblis, Tera yang kerasukan melahap tetesan darah. Gigi taring keluar menakuti Robi yang tepaksa menendangnya.

__ADS_1


“Arghh!” teriakan Robi terdengar Gaston dan Liya.


Gaston menindih tubuh Tera yang mulutnya bergerak seperti akan menggigit. Liya memeluk Robi ketakutan, dia tidak menduga perubahan yang terjadi pada Tera. Tubuh Gaston terlempar ke dalam lumpur hidup, Tera kembali menari Robi seperti hewan yang mendapatkan mangsanya.


“Hentikan Tera!”


“Bu! Tolong aku bu! Argh!” teriak Robi kesakitan.


Tera bersiap menancapkan gigi taring ke lehernya. Liya menahan tubuh Tera, dia menyeretnya ke dalam lumpur pengisap. Gaston meraih bekas tali namun semakin banyak dia bergerak maka lumpur akan semakin cepat mengisap tubuhnya.


“Tutup mata mu Robi! Hiks”


“Bu, dia bukan adik ku Tera. Dia kerasukan setan bu, hiks” ucap Robi ketakutan.


Wajah Tera mirip sosok wanita tua, dia tersenyum menyeringai menjulurkan lidah yang sangat panjang. Bisikannya mengatakan bahwa telah lama anaknya sudah tiada. Sesudah gigitan makhluk gunung gunung keramat menggigitnya.


Liya menekan kuat tubuh wanita itu, rahang wajah setengah Tera dan setengah wajah wanita tua. Tekanan sekuat-kuatnya sampai tubuh Tera masuk ke dalam lumpur penghisap. Liya berlari membantu Gaston keluar dari dalam lumpur, dia dan suaminya terkejut melihat Fando mengarahkan belati ke leher Robi.


“Ternyata kau sumber masalah semua ini Fando, kau adalah teman baik ku rupanya musuh terbesar yang menghancurkan hidup ku!”


Fando tertawa terbahak-bahak, dia mengucapkan mantra ke Liya dan Gaston. Keduanya tidak berkutik menyaksikan Fando menyerut darah yang keluar dari telapak tangannya. Fando menggunakan ilmu hitam dari gunung keramat. Dia menggerakkan tubuh Tera keluar dari dalam lumpur. Keduanya melahap tubuh Robi. Suara retakan tulang, Liya yang tidak sanggup lagi melihat terjatuh di angkat Gaston pergi menjauh. Tera berlari menggunakan kedua tangannya, dia mendorong Gaston hingga Liya jatuh ke sisi jurang.


“Sadar lah Tera, aku ayah mu! Lawan iblis di dalam tubuh mu!”


“Hahaha” tawa Tera melengking di telinga.

__ADS_1


Liya yang mulai sadar melihat Tera mencakar Gaston dan menancapkan gigi taring di lehernya.


“Lari Liya! Lari!” teriak Gaston memegangi tubuh Tere sambil menahan gigitannya.


__ADS_2