
“Tidak! Jangan tinggalin ibu nak! Farsya!”
Sering bermimpi buruk Kela melihat anaknya pergi. Membuka mata melihat dia berbaring di atas tanah berlumpur. Di sekitar banyak batu nisan, dia melirik makam yang ada di sebelahnya. Batu nisan tanpa nama terlihat sebuah tangan bergerak menggali tanah kuburan.
Dia berlari berteriak ketakutan, nafasnya sesak tidak terkendali. Kela membuka mata kedua kalinya melihat dia benar-benar ada di kamarnya. Suster Cemiti tersenyum melepaskan jarum infus. Dia menegakkan meja kecil di atas kasur, meletakkan semangkuk bubur, segelas air dan beberapa pil.
“Selamat pagi nyonya, bagaimana tidurnya? Jangan lupa sarapan dan obatnya. Hari ini adalah hari terakhir saya bekerja. Nanti sore saya akan pamit pergi.”
“Ya terimakasih banyak suster. Oh ya, suster lihat Ririn nggak?”
“Tadi pagi sebelum pergi bekerja. Bu Ririn berpesan pulang lusa, saya pamit ke kamar untuk mengemasi barang ya nya” suster Cemiti tersenyum menutup pintu.
Tidak biasanya anaknya pergi tanpa melewatkan satu hari pun berpamitan ke kantor atau melihat ibunya. Suara bunyi dekat jarum raksasa terdengar nyaring, tetesan air keran bersambut tawa keras suara kuntilanak. Pandangan ke kanan, kiri melihat cucunya merangkak dari balik tirai.
“Tarak..”
Kela mendekati menarik tirai, di baliknya kosong tidak terlihat ada sang cucu. Kasur melayang mengagetkan, dia berlari mencari jalan keluar namun pintu terkunci. Suara minta tolong tidak terdengar Cemiti yang memakai head set, dia sengaja menyalakan musih sekuat-kuatnya agar tidak mendengar suara gangguan makhluk halus. Cemiti berusaha menstabilkan emosinya, dia belum mengabarkan pada Ririn mengenai kepergiannya meninggalkan pekerja begitu saja.
“Aku tau kesalahan ku meninggalkan pasien yang masih sakit. Aku nggak mau jadi korban setan, aku tidak tahan di rumah ini” gumam Cemiti.
Kela berada di alam lelembut, dia melihat ada sisa sayap pesawat dan beberapa patahan anggota tubuh. Hanya di tempat itu sebagai tempat teraman, posko dua dan tiga akan selalu menjadi rumah peneduh di kala hujan dan jika terkena musibah;
__ADS_1
......................
“Kamu mendengar suara tangisan nggak?”
Kemuning menoleh dari jendela posko dua, sosok Ayu hanya mengangguk memperlihatkan wajahnya yang sangat pucat. Dia menunggu sisa para pendaki dan bertekad menjemput Farsya.
Cerita jatuhnya pesawat di gunung Keramat belum selesai di tambah berita mengejutkan mengenai proyek pembangunan di kaki gunung. Ririn menggunakan topi proyek mengomando para pekerja, alat berat yang di kerahkan menggali tanah sedalam-dalamnya tanpa persyaratan permohonan ijin pada para penunggu.
“Siapa yang berani membuat keributan di area pegunungan? Celaka lah kita” ucap salah satu warga yang berada di kampung seberang. Penampakan kehidupan di kaki gunung mulai menunjukkan wujud.
Beberapa orang bertubuh pucat bergerombol membawa senjata di tangan mereka. Dua orang pria bertubuh kurus berkulit hitam mendorong sampai menjatuhkan mesin bermotor menebang pohon. Ririn berjalan menghampirinya, dia bersiap menumpahkan amarah.
“Kita lanjutkan saja pak Zai, saya tidak begitu percaya dengan hal ghaib.”
Setelah kejadian yang menimpa adik dan keponakannya, pertemuan dengan kek Langsat malah menambah peristiwa di luar nalar. Dia masih berpikir dimana mereka, Ririn sengaja membangun pembangunan pembangunan Villa atas nama keponakannya Tarak.
“Ririn, kenapa kamu tidak berpikir dari mana kau bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Keponakan mu yang diam-diam meletakkan batangan-batangan emas setiap kali meminum ASI Farsya. Sekarang dia telah pergi dan kembali ke asalnya. Kau harus bekerjasama dengan ku agar kekayaan keluarga kalian tidak habis. Hihih…”
“Bohong! Pergi kau!”
Sosok jin merah mulai mengincarnya, dia melemparkan membuka sepatu kiri lalu melempar ke arahnya. Tanpa alas kaki berlari mengemudikan mobil pulang ke rumah. Mencari dimana ibunya, dia berdiri di samping kasurnya. Ibunya berbaring lemas, Ririn mengepalkan tangan berharap ibunya tidak mengetahui apa yang di katakan si iblis.
__ADS_1
“Kau pasti ingin mempertanyakannya kan? Ibu tidak bisa menjawab apapun. Farsya yang memilih jalan ini, dia tidak mau kau terluka.”
Perkataan ibunya membuat dia depresi mengurung diri di dalam kamar. Pembangunan terhenti di lanjutkan oleh sekertarisnya hingga suatu hari pria muda yang bersikap sangat baik itu mulai meletakkan hati padanya. Ririn perlahan-lahan sembuh dan kembali sadar.
Edo telaten menjenguk dan membantu segala perawatannya. Sepeninggal Kela yang menitipkan sebuah surat wasiat agar menikahi Ririn. Pesta sederhana, membangun rumah tangga yang aman dan tentram. Sore kelabu, Ririn dan Edo berziarah membawa tumpukan bunga, daun pandan dan air di dalam botol.
Tangisannya tidak terbendung, dia tidak memeluk batu nisan ibunya. Kata maaf hanyalah kesia-siaan, Sepanjang sisa umur Kela berjuang menyembuhkannya. Semua yang di lakukan hanya untuk kedua anak dan cucunya. Perjuangan mencari Farsya dan Tarak tetap berjalan meskipun Kela telah meninggal dunia.
Di dalam perjalanan pulang, Edo mengusap air matanya. Dia ingin membantu mengobati semua luka di hidup wanita itu. Di balik kehidupan lain yang di jalani, Farsya merasakan hidup yang normal bersama Erik suaminya. Tarak juga berubah wujud seutuhnya menjadi manusia. Berlari meraih bayi Tarak yang ada di dalam buaian Erik. Dia tersenyum bahagia merasakan keluarga telah lengkap.
“Kita pulang mas..”
Rumah besar yang kosong tidak berpenghuni. Ada cacatan alamat terakhir kakaknya Ririn dan kabar ibunya yang meninggal. Rasa menyesal tidak ada di sisi ibunya di saat detik terakhir dan meninggalnya ke gunung keramat. Farysa menggunakan telepon rumah menghubungi kakaknya. Tapi nomor tersebut tidak aktif. Kabar kepulangan Farsya terdengar oleh Ririn, dia sangat senang dan meminta agar Edi mengantarkan pulang ke rumah peninggalan orang tuanya. Dia tau kesukaan adiknya, ayam semur berbumbu rempah-rempah dan sayur yang selalu dia minta di masak setiap akhir pekan saat berada di rumah.
Sup Iga panas menggunakan banyak merica. Ririn menyiapkan masakan dan membawa beberapa barang kesukaan adiknya. Terdetak di pikiran bagaimana nasib keponakannya Tarak. Para anggota almarhumah ibunya tidak mengatakan kembalinya Tarak. Mereka hanya melihat Erik di malam hari. Tidak sabar bertemu adiknya, di depan pintu setelah membuka pintu dia memeluk erat tubuh adiknya yang sangat dingin dan kaku. Suara tangisan yang tidak asing, Tarak di bawa Erik menuruni tangga.
“Apa Kabar kak? Maafkan kami yang baru kembali.”
“Halo kak Ririn, sudah lama tidak bertemu” ucap Erik bersuara menggema.
”Ya tidak apa-apa, kakak mengerti, kenalin ini mas Edo, suami kakak”jawab Ririn menatap pandangan Erik mengerikan. Edo berjabat tangan denga kedua adik iparnya, dahinya mengernyit merasakan tangan bagai es batu, berbulu dan kulit yang kasar.
__ADS_1