Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Kejahatan Makhluk gentayangan


__ADS_3

Tulang kering yang terpisah selama bertahun-tahun perlahan bersatu kembali di dalam jahitan yang terjadi di dalam bulan panas dimana terletak semua kejahatan terangkai dalam penyatuan jiwa. Sosok yang tertidur di bangunkan kembali sebagai penguasa gunung Keramat. Kaki pencakar di asah tajam mengisahkan banyak tragedi.


“Celaka! Siapa yang membangkitkan penghuni sesepuh jin penghuni tanah mematikan itu? Kabut tidak akan pernah hilang sepanjang jaman jika dia bangkit” ucap Beni mulai menyalakan obor mengelilingi area pekarangan halaman rumah.


“Tidak tau, cepat kita segera masuk ke dalam” jawab Manto yang selesai menyusun obor.


Perkampungan yang mulai di bangun itu tidak menanjak maju atau lebih banyak penduduk yang kembali. Dahulu tradisi melarang menyalakan api di malam hari pada masa kini lebih banyak menyalakan api. Banyak yang ketakutan kala mengingat peristiwa kedatangan penghuni kaki gunung yang mengambil jiwa manusia saat menyalakan api di malam hari.


“Bisa kau ceritakan sekali lagi paman? Aku mau mendengar hantu yang memiliki lidah menjulur mengambil anak kecil ketika menunggu abangnya membawa kayu bakar” ucap Tamara.


“Ya aku juga mau mendengarnya paman” Sincan tidak sabar menunjukkan ekspresi serius menatapnya.


“Baiklah tapi kalian harus janji sama paman agar segera tidur..”


Memulai cerita di bawah air hujan yang sangat deras, kedua keponakannya semangat menunggu bagian menegangkan, anak perempuan yang seusianya___


Cerita di tahun lalu.


Malam dingin di sebuah perkampungan tepat di bawa kaki gunung keramat. Sudah seribu hari mereka tidak menyalakan api. Cuaca ekstrim, udara dingin seperti salju yang menutup cerobong asap, rumah, dan butiran salju es kecil mengguyur tubuh. Kedinginan, kelaparan dan ketakutan melanda. Banyak yang tidak betah tinggal di perkampungan itu sehingga satu persatu memilih meninggalkan rumahnya. Mika dan Cilki menggigil kedinginan, mereka adalah anak yatim piatu.


Kedua orang tuanya meninggal, Mika menghangatkan sup dengan membungkus wadah minuman dengan kain. Cilki demam selama satu hari satu malam, dia mulai berhalusinasi sampai mengatakan ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya.


Suapan demi suapan minuman herbal dedaunan yang dia tumbuk tidak menghilangkan demam dan rasa menggigil kedinginannya.


“Kakak, aku sangat membutuhkan api. Aku akan mati kedinginan kak..”


Rengekan Cilki membuat Mika tidak tega melihat adiknya menggigil, wajah pucat, tangan bergetar menyentuhnya. Mika tidak tega melihat adiknya, dia meminta adiknya bersembunyi di dalam lemari. Dia akan mengambil kayu bakar untuk menghidupkan perapian.


Seluruh penduduk tidak ada yang menyalakan api. Mika memberanikan diri melangkah keluar mengambil patahan ranting kayu di halaman depan rumah. Dia mendekati cerobong, menghidupkan api. Sebatang korek api padam tertiup angin. Sisa batang terakhir menyalakan cerobong asap membakar semua ranting yang kering.


Hujan salju hanya terlihat seperti fatamorgana, dia melihat ranting kering kerontang seperti tersengat terik cahaya matahari. “Apa yang terjadi sebenarnya? Ku kira butiran es membasahi semua benda di atasnya” gumam Mika berlari keluar mengambil lebih banyak ranting.


Suara lengkingan di tambah hempasan angin membanting tubuhnya. Kepala Mika terbentur pondasi kayu, dia melihat ke atas langit ada sosok makhluk hitam mengambil jiwanya. Tubuhnya hangus tidak tersisa. Dari dalam, Cilki menunggu kakaknya kembali. Dia keluar dari tempat persembunyian memanggil kakaknya. Sosok hitam dari belakang mengambil jiwanya. Suara jeritan terbenam, tubuhnya mengering seperti patahan tulang hangus.

__ADS_1


Sosok pria yang membuka gerbang di alam lain mengambil alih kekuatan yang terselubung kegelapan. Dia menggunakan sisa kekuatan sebelum sepeninggalnya menjauhkan makhluk kembali ke sarangnya.


“Dimana tempat sarang itu paman?” tanya Tamara.


“Tidak ada sesi pertanyaan dan jawaban. Sesuai perjanjian, kalian tidur setelah cerita selesai.”


Neneknya Umu masuk ke dalam kamar, senyumannya tidak pernah pudar. Dia Neneknya Umu masuk ke dalam kamar, senyumannya tidak pernah pudar. Menyuruh Manto ke keluar dari kamar, mereka harus berjaga semalam suntuk saat mendengar lagi raungan campuran suara yang berasal dari gunung.


......................


Di wilayah gunung, Kemuning mendekati wanita yang menekuk kaki pandangan posisi berjaga. Dia melihat ke sekeliling, mendengar suara berisik dari luar membuat dia semakin ketakutan. Di antara ramai suara yang mengerikan, dia mendengar teriakan Tompi dan Dedes.


“Apakah kau mendengarnya? Teman-teman ku membutuhkan pertolongan ku, makhluk itu kembali!”


“Kamu siapa? Apa yang membuat mu ketakutan seperti itu?”


“Saya Ega, tolong bantu saya menyelamatkan teman-teman saya dari tempat ini”


“Tenang,kamu sudah aman disini” ucap Kemuning mengusap punggungnya.


“Ampun Ge, aku tidak sanggup lagi melihatnya!” ucap Ruben meringis.


Mendekati mengamati keadaan luka di kakinya. Ruben mengeluarkan semua isi perutnya. Dia tidak sanggup mencium aroma busuk, tanpa terasa berjalan menjauh dari Pos. Melihat penampakan Ge yang lain, sosok berdiri memakai kain kafan di bungkus pocong.


“Ge! Ge!” panggilnya.


“Hei adik kecil! Kamu jangan jauh sendirian dari pos!” panggil Kemuning.


“Huh! Kakak senior! Aku lihat Gege disana!”


“Abaikan saja, bantu aku membungkus luka di kaki Gege.”


Kemuning mengeluarkan dedaunan yang setengah mengering. Dia menumbuk halus lalu menekan lukanya. Suara jeritan menggigil tangannya sendiri sampai terluka. Ruben menahan tangannya, dia menahan rasa mual bertubi-tubi tidak kuat mencium aroma bau.

__ADS_1


Kemuning tidak memperdulikan cacing dan belatung yang menempel di tangan. Selesai mengikat, dia menempelkan lagi sisa daun herbal di atas kain yang melapisi luka. Sisa potongan kaki di pegang Kemuning, tangannya bergetar ketakutan. Dia meminta Ruben menggali tanah, mengubur potongan tubuh lalu menutupnya dengan tumpukan dedaunan.


“Tutup lebih dalam lagi tanahnya” ucap Kemuning.


Aroma udara darah, para makhluk penghuni gunung menggelegar bernada kencang. Musim sekarang, para penghuni kaki gunung menyalakan banyak penerangan di malam hari guna menghalangi gangguan sihir atau kedatangan kiriman sihir.


Adanya penampakan manusia yang mirip dengan sanak saudara masuk ke dalam rumah berganti posisi seolah dia adalah orang sebenarnya.


“Bagaimana riwayat teman ku? Tolong lah, bantu aku menyelamatkan mereka” kata Ega menggoyangkan lengan tangannya.


“Kita akan mencarinya setelah membawa Ge turun gunung.”


“Tapi, aku masih was-was dengan sosok arwah penasaran. Siapapun yang terlihat olehnya tidak akan bisa selamat dari maut”


“Kemuning, hari akan berganti di pergantian pagi. Jangan keluar sebelum awal bulan baru. Bulan Suro memperkuat kekuatan makhluk penyembah iblis berkuasa di atas muka bumi. “


“Apakah aku harus membiarkan luka pria ini membusuk?”


“Kau tidak punya pilihan Kemuning. Sekalipun engkau keluar dari garis aman ini maka aku atau mbah Mindun tidak bisa menjamin keselamatan mu" ucap hantu Ayu.


Mengingat bagaimana perjuangan almarhumah nenek, air mata menetes sederas hujan yang turun. Dia tidak mau lagi neneknya terlibat dalam masalahnya.


"Kapan sosok nenek kembali menemui ku?" gumamnya membasuh tangisan.


Melewati malam tepat di pergantian tanggal awal. Mereka membawa Gege sampai menaiki bus antar lintas. Di Halte, Gege meringis kesakitan.


"Aku tidak sanggup lagi menahan luka ini! tolong biarkan aku mati!"


"Jangan bicara seperti itu Ge! bukan kah engkau ingin mengatakan pulang ke kampung halaman? bus telah tiba, aku akan membantu mengangkat mu ke dalam."


Kemuning berinteraksi dengan supir bus berhantu. Dia berinteraksi memohon dengan bahasa telepati agar mengantarkan temannya sampai tujuan. Ruben memperhatikan keanehannya.


Mereka melihat bus mulai berjalan sampai bagian belakang tertutup kabut.

__ADS_1


"Kenapa semua orang menatapku dengan wajah mengerikan?" gumamnya.


Ada seorang pria yang kedua kakinya terputus tapi bisa berjalan leluasa di dalam bus menggunakan bagian putung kakinya.


__ADS_2