Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Bencana Ghaib


__ADS_3

Pintu rumah di ketuk berkali-kali, seorang wanita memakai tusuk konde besar, kipas merah sepadan dengan semua aksesoris. Sikap sombong mengangkat dagu masuk ke dalam rumah. Dia memilih sofa yang paling besar, sepatunya yang ber hak tinggi tidak di lepas. Kalau di pikir, kehadirannya bisa di hitung setahun sekali.


“Bu Muhyi apa kabar? Kok nggak kasih tau mau datang?”


“Hhmm, langsung saja bu. Saya mau menjemput cucu. Dimana mereka? Menantu aneh itu tidak punta pikiran, pergi menyusul Muhyi menitipkan anak-anaknya di rumah orang! Jujur saja bu Hamza, aku kurang suka dengan sikapnya!”


“Anak-anak lagi tidur bu. Ada baby sister yang membantu saya menjaganya. Mereka kan cucu saya juga, kalau tentang Yahya itu saya tidak berani ikut campur. Ibu saja yang menasehatinya.”


Danang membawa pulang cucunya, dia juga menyewa dua orang pria khusus mencari anak dan menantunya. Yaja dan Toton memulai pencarian, mereka menggunakan perlengkapan lengkap mendaki sampai menggunakan jimat yang mereka sangat yakini bisa melindungi dari gangguan makhluk halus.


Di bagian pintu masuk hutan, berdiri pria bertopi blankon memperhatikan keduanya dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Toton memijit lubang hidung, sikap jagoan memukul dada berjalan melaluinya.


“Kebanyakan anak muda Zaman sekarang tidak punya tata krama. Kau pikir dengan benda berkekuatan kecil itu bisa menyelamatkan mu di gunung keramat ini? Terlebih lagi sikap mu yang tidak pantas itu. Siapa penghuni sini yang mau menolong mu?”


“Hei pak tua, jangan kau menceramahi ku. Aku ini rajanya setan! Ahaha!”


“Ton nggak boleh gitu! Ayo cepat minta maaf” bisik Yaja pelan.

__ADS_1


“Ha? Haduh udah jangan banyak drama deh yuk kita naik.”


Toton berjalan meninggalkannya, suara teriakan Yaja tidak di pedulikan. Sebelum melewati si pria tua, dia meminta ijin dan meminta maaf padanya, ketakutannya timbul dari tanda-tanda kakinya yang seolah tidak menapak di atas tanah.


“Permisi saya numpang lewat ya mbah. Wahai penunggu Gunung Keramat, jangan ganggu aku! Hihh!”


Yaja kehilangan jejak Toton, dia membuka denah jalur jalan di dalam peta yang dia dapat dari kenalannya di kampung seberang. Dia mengakui ucapan temannya yang mengatakan kompas tidak bisa di pergunakan dan tenda juga tidak bisa di tegakkan. Dia berteriak memanggil Toton, setiap jalan yang di lalui tidak ada tanda-tanda bekas patahan ranting atau bekas sepatu yang di pijak di atas lumpur.


“Kemana perginya Toton?”


Berharap dan terus berharap dia selamat. Muncul bayangan hitam dari balik kabut putih. Anak-anak kecil berlarian dan kedatangan sosok wanita muda berpakaian kebaya hijau mengganggunya. Dia menari di dalam musik yang tidak terlihat, lekukan tubuhnya seolah ingin menggodanya. Sedikit lagi dia terpesona masuk ke dalam perangkap setan, Yaja menggelengkan kepala memukul kepalanya.


“Gadis desa yang cantik alami, kamu kok sendirian? Kalau abang culik gimana?” ucapnya merapikan rambut.


Dia tidak bersuara, tarikan tangan menggiring mendekati air. Toton yang tidak sabar mendekati wanita itu posisi tubuh lebih mendekat bahkan bersentuhan. Dia melepaskan tas dan jaketnya, gerakan wanita kebaya menekan jimat yang ada di kantungnya. Pria itu membuang jimat lalu tersenyum mendekatinya.


“Toton, mati lah kau!”

__ADS_1


Wanita itu berubah wujud sangat mengerikan, rahangnya robek dan wajahnya penuh belatung. Dia keluar dari air tapi kakinya di tarik masuk ke dalam. Si pria tua bertopi capit hanya menonton tanpa mau membantu.


Yaja berlari sekencang-kencangnya, kabut merata menghalangi jalan. Dia berhenti mengambil nafas melihat arah peta yang hilang. Menyalakan senter ponsel sama saja tidak kelihatan apapun. Dia mengusap matanya, meraba jalan di dalam kabut. Senter dia matikan mendengar bunyi ramai suara tapak kaki kuda.


“Perlu kamu tau Ja, berita yang beredar kalau ada kuda setan jangan pernah mengikuti atau menyalakan penerangan. Bersyukur kau masih selamat walau bersembunyi di lubang semut sekalipun. Mereka bisa merasakan kehadiran manusia” ucap pak Berto.


“Kalau tau gini jadinya di bayar berapa pun aku jangan menerimanya. Pasti anak dan menantunya sudah meninggal, cari mati aku!” batin Yaja menutup hidung.


Penampakan wanita kebaya yang ada di kereta kuda sama persis tadi yang mengganggu. Salah satu wanita kebaya yang memakai pakaian mirip wanita yang rambutnya lebih panjang menoleh seakan-akan mengetahui keberadaannya.


“Duh mati lah aku!” gumam Yaja yang pasrah berpikir akan di buru setan.


Menahan sesak buang air kecil, dia menunggu bunyi tapak kaki kuda dan rombongan pergi. Semua pesan yang di katakan Berto tidak seutuhnya menempel di pikirannya. Yang jelas dia akan sudah tidak tahan menahan sesak.


“Permisi mbah! Penunggu pohon besar ini, saya pamit minta ijin buang air kecil.”


Selesai itu dia segera berlari menjari jalan lain, ingatannya menghafal peta jika menemukan pos dua adalah tempat yang aman untuk beristirahat. Kakinya terasa ada yang menahan, langkah bertambah berat masuk ke dalam. Sosok kuntilanak yang tidak terlihat mengganggunya. Hujan deras di sertai angin kencang. Di dalam ruangan yang gelap di nyalakan senter besar yang dia bawa.

__ADS_1


Ada bekas tikar yang masih bisa di pakai, dia membersihkan debu di atasnya sambil menatap ke atas langit-langit.


__ADS_2