
Meminta tanpa mendapatkan imbalan sama saja dengan omong kosong belaka. Sri telah berjalan sampai melewati lintas kaki gunung. Dia berbalik kembali melihat potongan tangan suaminya yang dia bawa. Tidak sampai hatinya meninggalkan tubuh suaminya sendirian, suara tawa jin merah menggema di langit.
“Tinggalkan aku sendiri! Hiks!” teriaknya.
Dia menyesal meminta kehidupan, seharusnya meninggal berdua bersama suaminya adalah jalan yang terbaik. Hujan mereda meninggalkan genangan hitam di jejak kaki yang harus dia jalani. Bersama jin merah, dia membangun sebuah rumah di kaki gunung keramat. Sebuah tempat yang di jadikan sebuah villa penginapan. Jalan yang di tempuh sama dengan alur cerita Sintya, dia semakin kerasukan berubah menjadi sosok lain yang mengancam keselamatan para pendaki.
Di bulan lalu masih menyisakan misteris para korban kecelakaan pesawat banyak yang menghilang belum di temukan. Suara para arwah gentayangan di gunung keramat menyisakan tragedy kejadian beruntun. Kebanyakan orang menjauhi tempat itu namun ada saja yang nekad dan penasaran menanggapi semua hal sebagai kecelakaan belaka.
Berujung berita mengenai kemuning sahabatnya, di sambung susulan adik kelas dan berlanjut para mahasiswa mahasiswi baru.
“Aku mendengarnya, suara teriakan orang minta tolong” ucap Farsya sambil melirik ke kanan dan kiri.
“Far! Kamu jangan buat aku takut deh! Far!” Kemuning mengguncangkan tubuhnya.
Farsya di liputi gangguan makhluk halus menyerupai Erik. Awal mula ingin kembali ke gunung untuk mencari tau bagaimana cara mengembalikan anak gendoruwo malah berujung penampakan godaan sosok Erik yang mengulurkan tangan padanya.
__ADS_1
“Aku siap jika harus bersama Erik, tapi tidak lagi dengan sosok lain yang menyerupai suami ku, Kemuning! Biarkan aku menyusul suami ku sendiri! Arghh!”
Farsya berlari tanpa alas kaki keluar tenda. Dia menghilang di dalam kabut putih pekat. Hantu Ayu menahan Kemuning pergi. Dia memperdengarkan suara tawa jin merah dan gangguan arwah Capit yang sangat kuat di sekitar wilayah itu.
“Apa yang membawa mereka mendekati wilayah ini? Bukan kah biasanya mereka ada di gua bebatuan?”
“Kemuning, ada banyak rahasia alam tanpa batas yang tidak bisa ketahui. Tapi percayalah, aku akan selalu menjadi sahabat yang menemani mu saat mendaki. Kamu jangan menyusulnya, dia akan masuk ke dalam perangkap sosok itu lagi.”
“kalau begitu sama saja aku membawanya kembali menjerumuskannya di dalam kesesatan. Ayu, bagaimana menyelamatkannya?”
“Sejak awal engkau telah lama memintanya sadar bahwa sosok itu bukan lah Erik. Cinta yang membutakannya membuatnya sengsara. Dia sengaja kembali mendaki meminta mu sebagai penunjuk jalan tidak lain bertemu sosok tersebut.”
......................
Dua pasang pendaki masih berada di jalur lintas antara hutan dan kota. Mereka mencari angkutan yang bisa mengantar sampai ke kaki gunung. Penjual buah-buahan di pasar memperhatikan pakaian mereka dengan seksama. Dia menatap tanpa henti sampai salah satu dari mereka menanyainya.
__ADS_1
“Adik-adik ini mau kemana?”
“Kami mau mendaki gunung nek” jawab Indro.
“Gunung Keramat? Kalian kalau masih saying nyawa sebaiknya pulang!” bentaknya.
“Kenapa nek?”
Pertanyaan Indro tidak di jawab. Wanita itu menutup warungnya. Tiga orang lain menariknya pergi, Dono mengarahkan langkah ke salah satu pengemudi mobil cervrolet yang sudah di bayar Dono untuk mengantarkan mereka sampai ke kaki gunung.
“Kamu bayar berapa No?” Tanya Indro berpegangan kuat pada badan mobil.
Posisi duduk di alam terbuka, laju mobil seperti orang mabuk. Dia memperhatikan keanehan pada pepohonan, sekujur bulu kuduknya merinding ketakutan. Dia mengerem mendadak, tiga orang yang duduk di belakang hampir terpelanting keluar.
“Arghh!” teriakan Rati dan Pana.
__ADS_1
Mereka protes pada pria bertato yang menyuruh turun. Dono meminta pengembalian setengah uang mereka namun pria itu dengan kasar memutar mobil meninggalkan mereka di tengah jalan. Keempat pendaki membawa tas berat mengikuti jalan sesuai petunjuk tanda jalan.
“Gais pelan-pelan dong. Gua capek banget nih”