
Menapak ketakutan, berhasil keluar dari bus berhantu, mereka mulai melakukan awal pendakian. Jalan masuk di pintu gerbang memperlihatkan pemandangan langka, banyaknya arwa gentayangan para pendaki berdesakan masuk. Yahya tersenggol salah satu pendaki yang memegang tas ransel di punggung. Ada seorang anak kecil yang duduk di atasnya. Wajah pucat bagian kepala di penuhi luka.
Kemuning belum sempat mengatakan mereka adalah hantu. Bu Yahya menyodorkan beberapa lembar tisu di berikan ke tangannya.
“Anak kamu terluka, kasian masih kecil kok di ajak mendaki gunung pak?” Tanya Yahya.
“Bu Yahya, yuk kita jalan duluan” Kemuning menariknya pergi.
“Kemuning, ibu kan lagi bicara sama orang tadi, kok di udah di potong?”
“Bu, perhatikan baik-baik. Semua orang disini apakah manusia?”
Kemuning menunjuk ke setiap pendaki, sedetik Yahya tersadar mengusap dahi. Tanpa jawaban, dia menggandeng erat tangan Kemuning. Di bagian sisi pintu masuk di kaki gunung, bukan suatu pemandangan yang baru, orang-orang yang sibuk memberikan sesajen dan meminta berbagai macam keinginannya.
“Banyak sekali sesajennya, lihat mereka yang tidak pernah sadar apa jadinya kalau anak di tumbal kan. Duh, saya ini ngomong apa ya? Suami ku juga tidak ada bedanya” celetuk Yahya meneruskan langkah.
“Bu, jangan lupa baca do’a ya. Kita mulai di awal memasuki alam yang berbeda. Jangan teriak atau bersuara keras, suara kita bias memicu kedatangan sosok makhluk halus.”
“Ya ibu ingat Kemuning, sebenarnya berat meninggalkan anak-anak. Tapi ibu nggak mau kehilangan.”
Dua jam yang lalu mereka di ganggu para penunggu bus dan pendaki. Di hadapan memperlihatkan suasana perkampungan yang seolah tampak nyata. Bahkan Kemuning saja tidak bisa membedakan di hadapannya suasana manusia atau alam lain. Wanita memakai baju sederhana, ada kain panjang yang melilit pinggangnya, dia berhenti menumbuk pada alat mirip dengan lesung. Senyumannya terkesan menyeramkan, dia melambaikan tangan lalu berjalan menghampiri.
“Ibu dan adik ini mau kemana? Iklim di gunung lagi tidak mendukung mendaki, menginap saja sejenak di gubuk.”
__ADS_1
“Kami mau mencari seseorang bu. Duh, maaf kami takut ngerepotin. Kami melanjutkan perjalanan saja.”
“Kemuning kenapa di tolak, tuh gerimis juga udah turun.”
“Lihat baik-baik punggungnya bu..”
Sosok Ayu mulai membantunya, tangannya yang pucat mengarah ke bagian belakang punggung yang bolong. Raut wajah Yahya ketakutan, dia berjalan cepat di depan Kemuning yang meminta ijin pada ibu-ibu pemegang lesung. Dengan adanya kedatangan Ayu, dia merasa aman. Kemuning tersenyum lega, di balik tantangan mendaki ada sahabat yang selalu membantunya.
“kemuning.. jauhi tempat ini.”
Suara hantu pendaki Ayu yang tidak pernah berubah dan salah satu kalimat yang selalu dia ulang. Berjalan di pos satu, ada kerumunan orang membuat mereka berdua ingin melihat kejadian apa didalamnya. Tangan Yahya semakin kuat memegang legan Kemuning, di dalam lingkaran kerumunan ada seorang wanita yang menangis memeluk lututnya. Kemuning mau menyentuhnya namun Yahya yang takut kalau dia wanita yang tidak di kenal itu berniat buruk, dia menarik keluar dari tempat itu.
“Ibu tunggu disini ya..”
“Sudah aman, kamu kenapa sendirian disana?” Tanya Kemuning memberikannya sebotol air mineral.
“Terimakasih banyak, saya mencari kakak saya yang hilang di gunung. Waktu itu__”
Cerita si wanita muda posisi tubuh masih memeluk lututnya.
Aku mendengar kabar banyaknya kasus para pendaki yang hilang di gunung. Angka kematian yang semakin bertambah dan juga gunung ini banyak yang mengatakan sebagai gunung penjemput manusia. Beredar cerita rahasia ada pesugihan keramat mengambil keluarga dan anak sebagai tumbal mereka.
Aku semula tidak tau mereka semua adalah hantu, aku sempat mendirikan tenda dan menginap satu malam. Sepanjang perjalanan sebelum mencapai pos satu, aku merasa ada yang mengikuti. Terlebih lagi ada yang mengganggu ku saat aku keluar tenda menyorot sosok aneh yang tiba-tiba berlari mengejar ku. Aku berlari sangat kencang hingga terjatuh di dalam tanah mirip tempat bekas galian kubur.
__ADS_1
Aku terjatuh ke dalamnya, sekujur tubuh ku berlumpur. Aku sempat tidak sadarkan diri selama berjam-jam. Aku seakan bermimpi melihat diri ku sendiri berjalan di atas tebing yang sangat tinggi. Kaki ku telah di ujung tebing. Sosok saudara ku dating menarik ku hingga aku tersadar. Aku pun keluar dari dalam berlari meminta pertolongan. Tapi sepanjang jalan aku melihat banyak mayat berjejer, tubuh mereka di tutupi kain hitam. Kaki ku yang tidak sanggup lagi berjalan terduduk menekuk ketakutan. Sepanjang malam menjerit melihat berbagai bentuk makhluk yang mengerumuni. Sampai kalian berdua datang menarik ku pergi.
“Aku tau ini berat, tapi kalau tekad mu telah bulat maka aku hanya bisa berharap engkau menemukan saudara mu. Besok kita akan mencari sumber air setelah memasuki pos dua. Jembatan gantung yang di bawahnya penanda jalan jalur aman. Oh iya nama kamu siapa?”
“Saya Tama, kalau kamu?”
“Saya Kemuning dan itu bu Yahya, saudara ibu saya.”
“Kalau kalian ngapain mendaki ke gunung ini?”
“Kami mencari pak Muhyi, ada banyak hal lain yang masih menyulitkan kita ketika keluar dari pintu itu.”
Di luar banyak terdengar kegiatan orang-orang melakukan aktivitas. Kemuning yang terjaga tidak bisa memejamkan mata memilih berdzikir di dalam hati. Dia membawa foto neneknya, besar harapannya bosa bertemu kembali hingga memeluknya.
“Nenek…”
Dunia yang tidak bisa cukup di katakan sebagai alam lain, terutama poros yang berputar masih menjadi rahasia langit tentang batas menembus kehidupan makhluk halus. Masih tergolong misteri mengungkap isi di dalamnya. Kemuning yang mulai terlelap merasa ada hawa yang sangat dingin mendekatinya. Sepasang matanya yang sulit terbuka hanya merasakan sosok itu semakin mendekati.
“Kemuning,..”
Baru kali ini dia membuka mata merasakan cahaya mentari terik menelusuri masuk diantara celah lubang di dalam pos. Tama berdiri tegak bersiap melanjutkan perjalanan, begitu pula dengan bu Yahya di susul kemuning berkemas beranjak pergi. Mereka saling berpegangan pada tali sebagai tanda penghubung sepanjang jalan. Yahya berdiri paling depan berhenti melihat pria memikul patahan ranting pohon di pundaknya. Langkahnya sangat cepat tanpa menolehnya, dia ingat kaos oblong yang di pakai suaminya sama persis dengan kaos yang di kenakan pria itu.
Yahya menarik tali berjalan keluar jalur mengikut pria tersebut, Kemuning yang tidak tau bu Yahya mengubah jalan sehingga merek tetap mengikuti.
__ADS_1