
Menggendong Figo masuk menutup pintu, di belakang di kagetkan si mbok berdiri dengan sengitnya menyodorkan teplok melewatinya. Enil memperhatikan semua kegiatan yang di buatnya, memasak pada tengah malam. Keluar rumah menebar sesuatu dan menyalakan lilin sebanyak-banyaknya di kamarnya.
Enil masih menggendong Figo meski perutnya sedikit tertekan. Dia mengunci pintu kamarnya lalu meminta Figo bersembunyi di dalam lemari.
“Jangan keluar sebelum ibu memanggil mu ya..”
Tok, tok, tok.
Mbok Mijan berkali-kali mengetuk pintu dan memanggilnya. Dia seolah akan mendobrak paksa dari luar. Enil menahan pintu, dia ketakutan mengingat kejadian pada waktu lalu. Tenaga si mbok lebih kuat sampai Enil tersungkur ke lantai. Dia membawa pisau dan seutas tali, sepasang mata bengis menangkap gerakan membanting sampai dia pingsan.
Terbangun di tengah menahan kepalanya yang sakit. Dia melihat tangan dan kakinya di ikat, senyuman si mbok, kedatangan ibunya dan orang-orang yang berbaju hitam, di sampingnya ada Figo yang menatapnya datar tanpa rasa kasihan sedikitpun pada ibunya. Bili masu ke dalam kamar membawa sebuah keranjang besar dan kain berwarna putih.
“Bagaimana mbok, kita mulai saja.”
“Mas Bli, tolong aku mas!”
“Tolong kemana Enil? Ini rumah kita, kamu lupa kalau Figo juga lahir di tempat yang berbahagia ini?”
“Stthh! Jangan berisik, nanti tuan Capit marah” ucap si mbok tersenyum membungkuk menghadap Figo.
“Enil, kau jangan lupa bayi yang tidak kau inginan itu di ganti sukma tuan Capit. Sekarang, bayi yang ada di dalam perut mu itu mendapatkan kekuatan dari tuan Figo. Bukan begitu pak Bili?”
“Nggak mas, jangan mau di tipu wanita licik itu. Anak kita pasti akan di ambilnya!”
Si mbok mendorong perutnya persis saat Enil di ikat di gudang dulu. Rasa sakit yang tidak tertahankan, dia tewas di atas lantai tanpa beralas. Si mbok mengingkari janjinta, dia menikmati daging yang di tunggu. Dahulu dia mengincar Figo, akan tetapi karena sukma Capit menginginknnya maka dia mencari cara mendapatkan dari anak kedua sang pewaris aliran setan.
Figo menghilang tidak memperdulikan apa yang terjadi pada orang tuanya. Si mbok mengulang lagi kejadian silam. Pembakaran rumah mewah, sosok iblis menyala di dalam api yang membara. Capit kembali ke hutan. Gunung Keramat tempat dia bersemedi dan meramu ilmu.
__ADS_1
......................
Pencarian pak Muhyi tidak membuahkan hasil, Kemuning dan bu Yahya dapat melalui rintangan di bantu sosok hantu pendaki Ayu. Wajah murung Kemuning menunggu sosok sang nenek yang tidak kunjung tiba. Di malam yang larut pada pos tiga. Suara mirip nek Mindun memanggil Kemuning membangunkan dari tidurnya.
“Kemuning, kemarilah. Kemuning anak yang baik..”
Kemuning membuka pintu melihat di bagian pohon arah jalan berlawanan ada neneknya berdiri memanggilnya. Dia yang tidak sabar bertemu sang nenek langsung berlari memeluknya. Pelukan terlama walau tubuhnya lebih dingin dan berbau anyir.
“Nenek jangan tinggalin Kemuning ya nek..”
Sang nenek menghilang bagai asap tebal membuyar di tangannya. Dia melihat sosok lain berdiri, wanita tua yang memakai kebaya dan tusuk sanggul dari patahan tulang tengkorak manusia. Kata-kata indah di utarakan bersama kebohongan bercampur dusta.
“Kemuning, kau bias bertemu nenek mu lagi bahkan bias bersama selama-lamanya dengannya. Asal kau mau menjadi teman ku. Semua keinginan mu akan terpenuhi, ayolah Kemuning raih tangan ku.”
“Jangan kemuning! Arghh!”
Sosok Ayu terhempas menghilang di dalam kegelapan.
Sinar kerlip cahaya putih menghentikannya, kedatangan aura sinar terik mengusir sosok tadi. Kemuning melihat wujud neneknya yang berwajah pucat tersenyum melihatnya. Sudah di pastikan itu adalah nenek yang paling menyayanginya.
Sosok iblis nek Mindun mengganggu pendaki maupun para pemberi sesajen di gunung keramat. Melihat Kemuning tidak berhasil dia goda, incaran selanjutnya pada Udin warga kampung seberang yang keluar masuk hutan mencari kayu bakar.
Hari ini seperti biasa Udin, Beni dan Manto mencari kayu dan jamur di hutan. Mereka hanya berani berjalan di sekitar kaki gunung. Beni dan Manto mengurungkan niat mengambil jamur di dekat dinding bebatuan yang jaraknya sedikit jauh dari pintu masuk. Hujan deras yang dating membuat ketiganya berkemas mempercepat kepulangan.
“Nanggung banget kita udah sampai disini padahal jamur langka udah di depan mata. Lumayan ioh buat tambahan bahan makanan.”
“Besok aja Din, kabut putih pasti menutupi lereng gunung. Ayo cepat si Manto udah jalan duluan tuh” ucap Beni berjalan mendahuluinya.
__ADS_1
“Heh, lemah, penakut banget sih jadi lakik! Duluan aja deh kalian!”
Udin membanggakan diri yang tidak takut pada apapun karena memiliki jimat penangkal yang dia terima dari sosok dukun tua. Bermandikan air hujan mengambil jamur tanpa memperdulikan ada sosok yang mulai mengawasi.
“Udin, kau mau uang tidak? Hihih!”
“Siapa itu? Jangan berani mengganggu ya!”
“Udin! Aku bias mengabulkan semua keinginan mu, ayo.. lebih mendekat ke pohon di samping mu”
Langkah pendek mendekati ke pohon beringin yang menjulurkan akar-akar gantung. Beberapa akar itu bergerak sendiri, ada sosok wanita tua tersenyum mengulurkan tangannya. Udin menerima tangannya yang basah. Sosok itu tersenyum kegirangan, Udin berhasil masuk ke dalam perangkapnya. Udin medengar bisikan setan, dia setengah sadar kembali ke rumah memikul bakul di punggungnya.
Berjalan melewati pos siskamling tanpa menoleh panggilan Manto dan Beni, dia bertingkah aneh dan tak lagi mau melakukan kegiatan patrol rutin desa atau ke hutan bersama temannya.
“Ada yang aneh dari Udin setelah kemarin. Jangan-jangan dia kesurupan” ucap Manto.
“Iya kamu benar juga Man, kita beritahu saja pak Kades.
Ajuan pemberitahuan, laporan atau kasus lainnya, pak Kades yang mulai beranggapan masa bodoh. Dia juga terlihat bertingah aneh, bukan hanya itu saja di pandangan mereka melihat sosok pak Kades yang tidak lagi sama.
“Kalian ini kalau mau mengeluh jangan jam segini. Saya masih istirahat, langit juga masih gelap.”
“Balik Man, ada yang nggak beres sama si bapak” bisik Beni.
Cuaca cerah tapi dia mengatakan masih malam hari. Tatapan pak Kades juga mirp penampakan hantu yang pernah mereka temui di hutan. Mereka berpamitan lalu segera berlari pergi. Keanehan desa, orang-orang dan kabar penampakan di gunung Keramat semakin geger di perbincangkan. Kali ini ada yang mengatakan sosok si juru kuncen berganti dengan seorang wanita tua yang memakai pakaian kebaya jaman dulu.
“Man, nanti malam aku nggak meronda ya. Makin seram aja ini desa!”
__ADS_1
“Ya ben sama aku juga balik ke rumah ya. Hati-hati di jalan!”
Desa dan Perkampungan seberang serta wilayah batas perkotaan terkena wabah ilmu hitam yang di beritakan di khalayak public.