Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Dunia hampa


__ADS_3

Figo tidak terbukti di nyatakan bersalah, pihak kepolisian menyataan adanya pembunihan berencana atau hewa buas yang tersesat keluar dari hutan. Menghindari ketakutannya, ibu agkatnya itu memulangkan dia kembali ke panti asuhan. Anak kecil yang cerdik itu menyimpan bekas baju yang bersimbah darah di dalam mesin cuci.


Anak-anak di panti asuhan tidak tenang melihat dia kembali. Mereka menghindariny a sedikit jarak pun mereka alihkan menjauh sejauh-jauhnya. Disana dia mendapatkan perhatian dari Nisa, sepeninggal bu Salma dia yang mengambil alih menggantikan semua urusan panti asuhan.


“Figo, kamu nggak makan? Kasian kak Nisa dan lainnya udah nungguin dari tadi” ucap Jeri merengut melihat sikapnya yang sombong.


Dia tidak bergeming, memalingkan wajah meneruskan ayunannya. Jeri yang kesal mendorong sampai dia terjatuh. Mata Figo berubah seluruhnya memutih, Jeri menjerit kesakitan sehinggan semu yang ada di ruang makan berlari menghampiri.


“Arghh! Ahh!” suara teriakan ketakutan anak-anak panti.


“Figo, lepaskan Jeri!” Nisa memeluknya dari belakang. Figo dan jeri sama-sama terjatuh pingsan, kehadiran Figo menambah kekuatan mereka.


“Kita harus beri pelajaran sama si Figo. Dia udah keterlaluan menggunakan ilmu setannya mau membunuh kita” ucap Bemo mondar-mandir sambil perpikir.


“Nggak boleh gitu nanti kak Nisa marah sama kita Be.”


“Kamu kalau nggak berani ya jangan gabung di kelompok kita Sem.”


Keduanya telah membaik, mereka kembali ke kasur masing-masing. Nisa terkejut mendengar suara berisik dari luar intu, dia mengintip melihat seseorang berlari masuk ke arwa taman. Nisa menahan ketakutannya membawa tongkat bulu tangkis membuka pintu melihat siapa yang berani menganggu rumahnya. Pria itu mengandap-endap mendekati Nisa. Mengangkat batu yang akan memukulnya, tubuh pria itu bergerak memukul dirinya sendiri.


Sosok Figo menggunakan kekuatan membungkam mulutnya, batu besar memecahkan kepalanya berjalan keluar area panti.


“Ayo masuk kak” Figo menggandeng Nisa masuk ke dalam.

__ADS_1


Sosok Capit yang ada di dalam tubuh anak itu tidak tahu mengapa mau melindunginya. Dia seolah memiliki getaran batin setitik belas kasihan. Lama sekali dia tidak merasakaniba sampai sosok wanita di depannya mirip anaknya Desi menyadarkannya. Capit kini berperan jadi pelindung di dalam rumah itu, dia tidak melahap organ tubuh penghuninya. Setelah Nisa tampak tertidur lelap dia mulai mencari makanan di luar. Merasakan darah yang tumpah, sosok pria pengganggu terkejut ada anak kecil di depannya. Tangannya menjulur merampas satu persau organnya.


Baju di penuhi dara, di pagi hari Figo di kelilingi anak-anak panti. Nisa ikut terkejut melihat keadaannya, dengan sabar wanita itu membersihkan tubuhnya. Semua telah berers, mengurus semua anak-anak panti dan rumah. Dia belum memasak karena sedai tadi memutar pikiran bagaimana mendapatkan uang yang halal di tengah para donatur panti yang jarang sekali memberikan sumbangan. Membuka upah cucian atau menyetrika baju perkilo sangat jarang di butuhkan di tengah krisi ekonomi terhitung lokasi wilayah mereka yang pedalaman.


Dia membuka laci mengambil satu-satunya harta yang paling berharga baginya. Sebuah cincin emas yang di tengah-tengahnya ada pertama berwarna merah delima.


“Maafkan aku ibu, aku harus menjualnya” gumam Nisa.


Dia berkemas menuju ke kota berbekal sebotol air putih untuk menghilangan rasa dahaga. Figo menarik tas selempangnya, Nisa menoleh tersenyum mengajaknya. Dia juga mengajak anak-anak panti lainnya. Perjalanan ramai mereka di hiasi gelak tawa.


Nisa meminta mereka menunggu di dalam, akan tetapi Figo berlari keluar mengikutinya.


“Anak itu nggak pernah berubah, kalau nggak karena kak Nisa aku malas duduk di sampingnya.” Ucap Didik terlihat wajahnya yang memerah menahan amarah.


“Kalau aku udah nggak sabar menunggu di pergi dari panti. Dia itu pandai berpura-pura baik di depan kak Nisa.”


Di dalam toko, Nisa mengantri di temani Figo yang datang duduk di sampingnya. Selesai mendapat ruang berdiri menyodorkan sekotak cincin. Penjual itu mengerutkan dahi mengamati cincin tua yang telah using. Dia malas sekali membongkar atau melihat kadar dan menimbang. Dia menghela nafas memberikan kembali padanya.


“Jual di tempat lain aja ya. Huhh” ucap si penjual.


“Cincin buluk gitu palingan harganya paling banter seratus ribu!” gumamnya.


Dia terkejut melihat tatapan anak kecil yang ada di sampingnya. Figo mengucap mantra pelan sampai wanita itu memanggil mereka lagi. Nisa ragu mendorong kotak cincinya, si penjual tampak ketakutan mempercepat gerakan memberikan lima lembar uang lima ratus ribu rupiah.

__ADS_1


“Terimakasih banyak bu_” Nisa tersenyum menerimanya.


Nisa menggandeng Figo masuk ke dalam mobil. Sebelum pulang, dia menepikan kendaraan memberi es krim dari pedangan eceran. Sepuluh bungkus es krim berbagai macam rasa. Nisa memasuki area pasar membeli membeli beberapa kebutuhan pangan. Figo tidak pernah berhenti membuntuti. Dia memegang pucuk jaket Nisa. Setiap berhenti di salah satu pedangan, Figo meminta Nisa memberikan antung-kantung plastik belanjaan yang berat.


Meski Nisa menolak, dia tidak memperdulikan mengambil dari tangannya.


Beberapa kambing yang terkurung di dalam kandang di samping meja pedangang. Daging kambing segar yang menggantung dan penjual yang memotong mengeluarkan organ di dalamnya. Dia menelan ai liur menahan hawa ilbisnya yang mulai mengeluarkan kuku tajam.


“Kamu mau kakak masakan kari kambing? Tunggu disini ya..”


Nisa memberi dua kilo daging, di perjalanan pulang si anak kecil berselubung orang tua itu menahan aroma anyir daging yang menari di ujung hidungnya.


Sesampainya di depan rumah, Fizo berlari masuk membanting pintu. Para anak panti lain membantu menurunkan belanjaan, mereka memperhatikan Figo yang aneh kemudian melihat raut wajah masam Nisa.


“Kak, ini belanjaannya di letakkan dimana?” Tanya Iman.


“Di dapur saja, nanti kakak yang bongkar.”


“Kami boleh bantu ya kak, sekalian biar tau cara memotong bawang” ucap Kila.


“Ya benar kami juga ya kak” Isah tersenyum mendekatinya.


Anak-anak panti tergolong rajin dan patuh, mereka mengambil tugas masing-masing membersihkan halaman dan membantu mengumpulkan ranting pohon yang kering. Untuk menghemat pengeluaran, mereka memasak di luar menggunakan kayu. Tungku di atas api telah tersedia, daging mulai di rebus di sampingnya juga mulai memasak bumbu dan sayur. Ada sungai yang mengalir deras letaknya sedikit jauh dari rumah. Nisa melarang anak-anak laki-laki pergi kesana, dia lebih memilih menmba air di sumur dari pada mengijinkan mereka mencari air dii sungai. Rawannya tingkat kecelakaan, dia juga selalu bermimpi buruk melihat Fizo berdiri di atas batu memperlihatkan wujudnya yang menyeramkan.

__ADS_1


Tanpa di sangka ada tambahan tamu anak yatim piatu yang di titipkan seorang wanita sambil memabwa beberapa dokumen penerimaan dana bantuan setiap bulan dan menjamin kebutuhan kelima anak tersebut. Nek Danang sebelum meninggal menuliskan semua harta yang dia miliki untuk cucunya.


“Kenapa tidak di urus ibu saja selaku walinya? Terhitung anak-anak juga tidak kekurangan. Oh ya tunggu sebentar ya bu, saya selesaikan dulu masakan saya..”


__ADS_2