
Berlari tertatih menuju Villa memberitahu dua teman mereka yang lain. Wilayah yang mereka jadikan objek wisata ternyata di selimuti kejahatan. Beto melihat jelas beberapa pria lain berwajah pucat menggerakkan tubuh kaku. Kuku panjang menjuntai, suara retakan tulang mengejar. Keanehan ketika Beto datang, para pria itu menghilang.
“Aku tidak tau pasti, pria yang lainnya manusia atau hantu. Kita harus meninggalkan tempat ini” ucap Beto.
Rode dan Penok yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka alami memastikan lagi luka Tedi. Darah di kepalanya masih mengalir meski telah di tutup kain. Melihat kondisinya yang kritis dan Iyem yang tampak ketakutan. Mereka menunda perjalanan pulang, Rode meminta Penok mencari dimana Sri untuk membantu.
Suara pecahan kaca jendela, semua orang yang ada di ruang TV terkejut melihat kepala tengkorak mengeluarkan belatung. Beto mengambil kain pelapis mengeluarkan dari ruang tamu. Di depan, tampak beberapa pria yang dia lihat ketika menyelamatkan Iyem.
Dia berlari menutup pintu, mereka berkumpul di kamar atas. Kamar yang di tempati Rode dan Penok, raut wajah Rode berubah masam karena acara berduaan dengan kekasihnya tertunda.
“Yang kapan sih kamu jadikan aku kekasih terang? Pria tua si suami kamu juga nggak mati-mati” bisik Penok mendekatinya.
“Hei! Di saat seperti ini kalian jangan bermesraan dong! Rishi gua!” ucap Beto.
“Iya nih, kami juga bisa loh. Lebih baik kalian bawain kami makanan atau minuman” kata Lele melirik Rode yang memilik gaun seksi di dalam kopernya.
“Huh, urusan dapur aku serahkan sama kekasih aku ya”
“Siap demi kamu deh! Kamu mau aku masakin apa?”
“Apa aja sayang.."
“Cukup! Kita nggak boleh ada yang keluar. Kita nggak tau apakah para komplotan itu ada di dalam rumah atau tidak. Kita harus menunggu pagi”
“Tapi Ber, apa kita diam saja menunggu di bunuh? Bagaimana kalau jumlah mereka lebih banyak dari kita? Duh! Kepala ku sakit banget ni” ucap Tedi menekan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu jangan banyak gerak, setidaknya disini tempat yang aman.”
Berdiskusi panjang di putuskan membuka pintu untuk melanjutkan mencari dimana Sri yang dan memastikan para penjahat itu tidak masuk ke dalam rumah. Suara teriakan yang tertindih, teriakan tidak terdengar menahannya berbaring di alam bawah sadar.
“Rode! Rode! Kau tidak melupakan janji mu kan? Hihih..” nyaring suara jin merah di udara.
Pada ratusan hari yang lalu, dia mencari aura kecantikan sebagai pemikat dan menjada dirinya tetap awet muda. Tidak ada yang mengetahui, meminta pertolongan pada iblis sama saja memberikan nyawanya sebagai pengganti.
Iblis merasuki mengubah dirinya haus akan belaian para pria. Dia merasa cantik, mudah memikat kekasihnya. Dia tidak tau konsekuensi apa yang dia hadapi. Susuk itu akan memakan darahnya, mengganti jadi kulit membusuk karena bagian tubuhnya tercampur dengan darah iblis.
Dia mengusap bagian dadanya, Rode berlari ke dalam kamar mandi. Dia gelisah melihat di cermin bagian dada mulai muncuk bercak merah, Pemasangan susuk pada area wajah, dada dan alat vital mulai mengubah kulitnya terasa teramat ganas.
“Pantangan apa yang telah aku makan? Gatal sekali!" Ucapnya menggaruk kulit.
Susuk mayat yang dia dapatkan berasal dari kuburan yang dia puja. Pemasangan pria berjanggut semula membuatnya sangat bahagia terganti kekacauan belaka.
“Mas kamu mau kemana?” ucap Rode mengikutinya.
Penok berlari memasuki hutan mengejar kemana Penok pergi. Ada sri sedang bermesraan dengan pria itu, dia mengeluarkan suara jeritan memanggil namanya sangat keras. Penok menoleh, wajahnya berubah mengeluarkan bulu dan gigi taring.
“Arhhhh!” Rode berlari menjauh.
“Rode, kau mau kemana? Bukan kah susuk mu berasal dari pemujaan pada ku? Hihih…”
Jin merah sangat bahagia, hari demi hari para pengikutnya semakin bertambah.
__ADS_1
Orang-orang berwajah mengerikan menyiram pisau dengan air yang berisi bunga. Suara nafas tersengai-sengal, Rode terjatuh, tangan berpegangan pada ujung bebatuan. Di bawah, mulut jurang terbuka menunggunya. Jemari jin merah menyentik, Rode tidak bisa meraih tangannya. Dia telah berjanji pada sang dukun yang memberikannya susuk mayat agar tidak beralih ke jin yang lain.
Tidak pada hari ini, dia menerima uluran tangan jin merah berharap dia selamat. Berdiri di atas jurang, dia tidak menyangka sosok itu tertawa terbahak-bahak menghilang melihat kedatangan Penok.
“Wajah kamu kenapa De? Aku sedari tadi mencari mu setelah menemukan mbak Sri. Dia ada di belakang berjarak beberapa kilo dari kita..”
“Tidak dengan siapapun mas, aku hanya berhalusinasi.”
Berjalan ke Vila, Sri menyeringai melihat Sri yang menjadi sambungan pengikut jin merah. Mau atau tidak, terpaksa di harus menjadi satu suku pemakan organ. Bisikan jin merah agar mengikuti semua yang di perintahkan Sri. Di malam yang larut, mereka berdua mulai membantai pendatang Vila.
Tedi terbangun, mencari obat pereda nyeri. Dia mencari segelas air, menyorot senter sampai ke dapur. Gerakan cepat bayangan hitam dari belakang menarik tubuhnya masuk ke bawah kolong anak tangga. Sekali putaran saja, Sri menghabisi tanpa menguras tenaga. Dia mengambil pisau menyuruh Rode memotong organ dan mengambil jantung untuk di berikan pada jin merah.
“Ayo cepat De, sebelum yang lainnya bangun”
“Aku tidak sanggup__” ucap Rode menjatuhkan pisau.
Srek__srek_
Lele mengambil senter Tedi yang terjatuh di atas lantai. Dia mencari dan memanggilnya. Ada seretan bekas darah dan perban di kepalanya yang terlepas. Jantung berdegup kencang mengikuti kemana tetesan darah terhenti. Tepat di bawah tangga, dia melihat organ tubuh Tedi terburai keluar. Iyem menjerit sekuatnya. Penok, Lele dan Beto melihat mayat Tedi di kerumuni lalat. Aroma busuk menyengat, Lele memuntahkan isi perut berlari keluar rumah. Dia menangis ketakutan, Beto mengejar. Punggung Lele tidak tampak lagi, mulutnya di bungkam Rode. Dia mulai memberanikan diri mengikuti semua yang di perintahkan Sri.
Dua jantung dalam satu malam, si jin merah menghitung-hitung satu jantung pemberian Sri dan satunya lagi dari Rode. Malam yang mengenyangkan, selesai melakukan tindakan pembunuhan. Dia membiarkan jasad Lele di atas rerumputan. Panggilan Beto di tengah derasnya hujan, dia hampir di bunuh Sri kalau tidak melangkah masuk ke dalam.
Villa kematian, satu persatu nyawa melanyang dengan keadaan kematian yang sama. Beto dan Penok melihat Iyem yang tidak mau melepaskan jasad Tedi. Dia menangis sejadi-jadinya, dia mengambil pisau mengangkat tepat menusuk jantungnya.
“Jangan Yem, kalau Tedi tau pasti dia akan sedih” ucap Beto membuang pisau dari tangannya.
__ADS_1