Pendakian Kemuning

Pendakian Kemuning
Iblis merajai


__ADS_3

Wanita itu masih terlihat kebingungan, foto yang di tunjukkan Edi menambah ketakutan. Dia melepaskan jarum infus berlari mendorong suster yang berjalan di depannya. Dia berlari sampai ke atas gedung di kejar Edi sampai gerakan tangannya memegangi kuat. Dia mencoba melakukan percobaan bunuh diri, hidupnya terasa hancur setelah pergi ke gunung keramat.


Ketakutannya jika jin merah kembali lagi meminta tagihan janji. Kesepakatan yang tidak jelas mengubah harinya yang suram. Tangan kanan Bela di pegang kuat Edi dari atas. Bela bergerak kuat menghentakkan tubuhnya agar terlepas. Tinggi gedung sepuluh lantar itu membuatnya berpikir dapat mengakhiri hidupnya yang kelam.


“Jangan kau lakukan ini Bela, aku akan membantu masalah mu”


“Nggak! Aku mau mati! Aku nggak mu hidup lagi!”


“Aku akan bertanggung jawab semua yang ada pada mu. Aku janji..”


Bela berhasil di selamatkan, dia menangis memeluk erat Edi bersama pandangan matanya yang mengintai. Edi membawanya kembali ke kamar, melihat gerakan wanita itu membuat Mila cemburu buta. Berpura-pura tidak melihat semua perlakuan Edi, dia menunggu wanita itu benar-benar terlelap. Jarum infus yang terpasang di tangan dia cabut lalu di ayunkan ke pergelangan tangannya.


“Arghh!” Bela kesakitan , mulutnya di tutup rapat Mila lalu mengancamnya.


“Edi itu milik ku! Siapa kau berani menggoda suami ku? Aku tidak akan tinggal diam!” bisiknya tersenyum berjalan ke kasurnya.


Bela pingsan hingga pagi menjelang. Suster yang masuk ke dalam kemar memeriksa Bela dan Mila terkejut melihat jarum menusuk tangan Bela. Dia segera di tangani dokter dan di pindahkan ke ruangan lain.


“Kenapa bias seperti ini sus?” Tanya Edi.


“Kami menemukan pasien tertusuk jarum infus pak..” suster yang sedang sibuk itu tidak menjelaskan semuanya, dia buru-buru masuk membawa beberapa alat steril.


Berselang hari dimana Bela di tempatkan di sebuah apartemen yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dia membelikan semua kebutuhannya, Bela yang tampak ketakutan menahan tangan Edi agar tidak pergi.


“Bela, aku harus pergi. Anak dan istri ku menunggu ku di rumah”

__ADS_1


“Ayah..” panggilan Mena yang tiba-tiba hadir di depan pintu.


“Mena sayang, bagaimana kau bisa sampai sini nak?” Edi menggendongnya berdiri di samping Bela.


“Mena menunjukkan pintu, sosok Sintya dan jin merah tersenyum melihatnya. Bela menjerit sekuat-kuatnya dia berlari masuk ke dalam lemari.


“Bela kau kenapa? Bela!” panggil Edi.


Tanpa keputusan Mila, wanita itu di bawa ke rumahnya. Semua barang-barangnya di angkat ke dalam. Bela masih ketakutan melirik ke sekeliling, dia menggigil duduk di sudut sofa. Mila melotot tidak mengizinkannya tinggal ataupun menginap walau hanya satu malam.


“Bawa wanita gila ini pergi mas! Kau pilih aku atau dia?” bentak Mila yang mulai hilang kendali.


Gelas yang berisi air menyiram wajahnya, tangannya mengepal kuat. Edi mencoba menangkan meminta dia berbicara di dalam ruangan lain. Perundingan yang di janjikan tanpa ada maksud lain disetujuinya. Wanita itu yang terlihat ketakutan melihat Sintya kemungkinan besar mengenalinya. Kerena trauma atau mengalami hal buruk jadi dia masih belum siap mengatakan dimana dia berada.


“Kasian Mena, dia harus tau siapa ibu kandungnya”


Kamar yang di tunjukkan Mila untuknya berada di samping kamar pembantu. Ruangan yang kotor, berdebu dan banyak di penuhi sarang tikus. Bela menerima dan mengucapkan terimakasih. Edi menari Mila menjauh, dia tidak ingin istrinya melakukan perbuatan yang kejam.


“Dia itu manusia Mila, itu sama sama kita menempatkannya di gudang” bisiknya sangat pelan.


“Kenapa? Kalau mas tidak suka ya suruh saja dia pergi. Aku sangat rishi ada orang ketiga di rumah tangga ini. Calon pelakor!”


Kebencian Mila tidak sebanding dengan kebencian sosok anak kecil yang memasang topeng wajah malaikat pada Edi. Asalnya tetap dari Gunung Keramat, dia tidak akan selalu terpanggil kesana. Di kaki gunung tempat sesajian yang di tumpuk penuh. Sosok Desi menyeringai melihat kedatangan Mena, dia memberikan sepotong daging mentah. Mena dengan senang hati menerima, dalam hitungan detik saja keduanya sangat akrab. Mena leluasa bebas keluar masuk pohon beringin tua dan bermain ayunan di akar yang menggantung.


Sebelum pagi dia masuk ke dalam kamar, gerakannya sangat cepat dan seringkali mengeluarkan suara aneh. Edi masuk melihat sekitar mulut Mena di penuhi bekas darah. Bajunya yang kotor dan telapak kaki berlumpur. Dia meletakkan tas kerjanya, Membangunkan Mena untuk membersihkan tubuhnya. Di sampingnya muncul Bela, dia ikut membantu membersihkannya kemudian merapikan kamarnya.

__ADS_1


Bela terlihat tampak tenang, Edi yang tidak sabar bertanya mengenai Sintya meminta dia menjawab semua pertanyaannya.


“Apakah kamu mengenal wanita di dalam foto yang aku tunjukkan waktu itu?”


“Dia.. dia adalah iblis. Teman ku di bunuh dan organnya di makan seperti hewan buas yang kelaparan. Hiks..”


“Maksud mu Sintya masih hidup? Kamu ingat dimana tinggal?”


“Tidak! Aku mohon kamu jangan kesana Edi. Ada sosok lain di sampingnya, dia__” suara Bela bergetar ketakutan.


Nada dering panggilan suara ponsel Edi memutuskan pembicaraan. Dia berpamitan pergi ke kantor. Di dalam perjalanan, hati dan pikirannya tidak tenang dengan apa yang di katakan Bela. Ingatan Edi melalang buana memikirkan cerita yang selalu membayanginya. Dia menunggu kabar dari para detektifnya, tapi kabar pak Tatang atau Bon lenyap tanpa bekas.


Rumah yang di rasakan Mila seperti api yang membakar jiwanya. Hatinya tidak terima ada wanita lain masuk di dalam rumah tangganya. Terlebih lagi, anak angkatnya Mena sedari kecil menunjukkan rasa tidak senang. Terakhir kali anak kecil itu mau membunuhnya, hari ini dia seperti kerasukan memegang pisau berjalan merangkak.


“Mena, kau kenapa nak? Jatuh kan pisau itu. Jangan bermain-main dengan benda tajam” ucap Mila.


Dia menyayat lengannya, darah ibu tiri itu di jilati. Tubuhnya menahan saat Mila menghindari ayunan pisau. Mendengar suara berisik dari dapur, Bela terkejut melihat Mena akan membunuh ibunya. Dia melepaskan pisau dari tangannya.


“Mena kesurupan kak!”


Bela berlari mencari tali mengikat Mena yang tertawa menikmati darah dan daging yang dia robek.


Mila menahan darahnya berlari mencari ponsel, dia menelepon Edi di dalam suara teriakannya yang histeris. Kemunculan Mena dari belakang menikam lalu menebas perutnya. Bela yang ketakutan memukul Mena menggunakan kursi.


Praghh__

__ADS_1


Keduanya saling terjatuh, tubuh Mena masih sanggup bergerak merayap lalu melompat mengambil organ dalam Mila. Bela ketakutan berlari keluar, dia pingsan tepat di saat kedatangan Edi. Melihat Mena yang sangat rakus memakan organ istrinya, Edi mengeluarkan mantra yang dia ingat saat dahulu Capit menundukkan bangsa jin.


__ADS_2