Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Mengunjungi Paris


__ADS_3

Sandra keluar dari gerbang sekolah sendirian. Sopir rumah mendekat ke arah nona mudanya berdiri dengan mobilnya.


"Antar aku ke apartemen kak Biema ya...," ujar Sandra saat sudah masuk ke dalam mobil.


"Baik Non." Sopir menyahuti dengan patuh. Beberapa detik hening. Sopir rumah hanya melihat ke arah dalam gerbang terus menerus. Sandra mengerjapkan matanya. Mesin mobil masih belum menyala meskipun tadi, Sandra sudah memberitahu kemana tujuannya. Dia tidak menemukan tanda-tanda mobil akan berangkat.


"Kok enggak jalan? Memangnya masih ada yang ketinggalan?" tanya Sandra menoleh keluar jendela juga. Mengikuti apa yang di lakukan pria ini.


"Bukannya harus menunggu Nona Paris datang, Non?" tanya sopir rumah yang sudah hapal dengan menantu majikannya itu. Menolehkan kepalanya sedikit ke belakang, untuk bersikap sopan pada majikannya. Sandra menggerakkan bola matanya lagi. Dia tidak menyangka sopirnya menunggu Paris. "Saya mendapat perintah dari Mas Biema untuk menjemput dan mengantar pulang istrinya."


Sandra paham.


"Sepertinya dia sudah pulang sejak tadi." Sandra berbohong.


"Pulang, Non?" tanya dia terkejut.


"Iya. Dia ada di apartemennya," sahut Sandra.


"O..." Pria yang sudah lama menjadi sopir keluarga Biema ini mengangguk-anggukkan kepalanya. Mungkin bermaksud menunjukkan bahwa dia mengerti apa yang di katakan nona mudanya. Namun Sandra tahu bahwa sopir itu sedikit merasa aneh dengan jawabannya.


Dia tahu saat ini semua siswa kelas 3 SMU menjalani ujian. Dia heran gadis yang menjadi menantu keluarga majikannya itu tidak muncul bersama nona mudanya. Padahal mereka satu kelas. Namun tentu saja pria itu tidak berani bertanya lebih lanjut karena dia hanya bawahan.


"Dia sakit, jadi tidak masuk sekolah." Sandra menambahi sedikit informasi yang sekiranya bisa meredakan rasa penasaran dari pegawai keluarganya. Dia tahu itu.


"O ...," ujar pria ini lagi sambil mengangguk. Kali ini lebih tepat karena sepertinya dia memahami. Setelah membeli semua hal yang di inginkan Paris, gadis ini langsung menuju ke apartemen. Sesuai dengan apa yang di tawarkan nya pada Paris, gadis ini membelikan semua yang di inginkan Paris.

__ADS_1


"Aku sudah sampai di depan gedung. Bukakan pintu sebentar lagi." Sandra mengirim pesan pada Paris.


"Ya."


"Aku agak lama. Kalau kamu mau pulang tidak apa-apa. Nanti aku telepon. Terus jangan bilang pada mama kalau Paris sakit," ujar Sandra membuat sopir itu terlihat heran lagi. "Paris tidak nyaman kalau harus di jenguk oleh mertuanya."


"Iya." Setelah itu dia masuk ke gedung apartemen. Langkahnya di percepat daripada biasanya. Dia ingin segera bertemu iparnya.



Sesampainya di depan pintu, Paris sudah siap di sana. Jadi Sandra hanya tinggal masuk saja. Gadis ini terkejut dengan bawaan iparnya yang banyak.


"Minggir," kata Sandra meminta ruang lebih luas untuknya. Karena Paris tetap berdiri di depan pintu dengan raut wajah terpana dengan bawaan Sandra. Tubuhnya pun bergeser memberi jalan.


"Apaan itu, San?" tanya Paris yang menutup pintu dan mengikuti adik iparnya dari belakang.


"Pesanan? Memangnya aku pesan apa?" tanya Paris sambil mengerutkan alisnya. Dia tidak ingat sama sekali telah memesan sebanyak itu. Kaki Sandra membawa mereka berdua menuju pantry. Lalu gadis itu meletakkan kresek berwarna putih di atas meja.


"Makanan yang aku sebutkan tadi. Juga beberapa snack yang bisa kita makan bersama. Ada juga es krim dan buah-buahan." Sandra menjelaskan apa saja daftar isi belanjaannya. Bagai seorang ibu-ibu yang habis pulang belanja dari pasar, Sandra mengeluarkan semua makanan dari dalam tas kresek yang di bawanya. Paris hanya memperhatikan apa yang di lakukan adik iparnya.


"Niat banget beli ini semua?" Tangan Paris menyentuh makanan yang sudah bertumpuk di atas meja.


"Iya. Aku memang sengaja beli banyak-banyak." Sandra merundukkan tubuhnya karena ingin meletakkan sekotak es krim ke dalam kulkas. Demi menjaga kebekuan dari es krim itu sendiri. "Semua aku lakukan untuk menemani kamu agar cerita tentang semuanya," ujar Sandra dengan serius. Kali ini tubuhnya berdiri tegak dan menghadap ke arah Paris.


"Cerita soal apa?" tanya Paris polos. Tangannya terlepas dari makanan di atas meja.

__ADS_1


"Soal kamu yang di keluarkan dari sekolah. Bahkan di suruh menghentikan ujian." Sandra masih memasang wajah serius.


"Oh, itu. Tidak perlu bahas lagi soal itu. Aku sudah menyerahkan semuanya ke kak Arga. Dia pasti bisa menangani." Sandra merapikan semua makanan yang ia bawa.


"Sudah makan apa belum?" tanya Sandra melihat ke kanan ke kiri. Tidak ada perabotan yang kotor. Itu bisa di artikan gadis ini tidak makan apapun. Karena dia tidak ingin keluar saat semua gadis SMU seperti dirinya sedang menjalani ujian. Dia tidak ingin orang-orang di sekitar apartemen akan bertanya kenapa dirinya bisa ada di rumah.


"Sudah."


"Kok enggak ada bekas kamu habis makan atau minum? Ini sangat bersih dan rapi. Jadi aku rasa kamu berbohong," tuding Sandra langsung. Dia tahu gadis ini sedang gundah. Bisa jadi Paris tidak makan sama sekali.


"Jangan menuduh. Aku sudah makan." Paris mengibaskan tangannya di depan wajah Sandra. "Tadi sudah pesan makanan online. Karena tidak banyak kegiatan, aku jadi rajin dengan bersihkan semuanya. Makanya terlihat rapi dan bersih." Paris menjelaskan kenapa pantry ini terlihat apik.


"Oh, gitu." Sepertinya Sandra menerima alasan Paris. "Oke. Jadi sekarang waktunya makan ... Snack!" seru Sandra sambil menyeret kakak iparnya menuju ke sofa. Tak lupa ia membawa beberapa Snack dan roti isi. Paris mengikuti tanpa melawan. "Nonton apa ini?" tanya Sandra sambil mengerutkan kening melihat kartun cantik yang terlihat di benda tipis di depan mereka. Sepertinya tv itu sudah menyala sejak Sandra muncul.


"Aku enggak sengaja lihat. Karena sejak tadi aku ketiduran. Tv itu hanya temani aku yang sangat lelah," sahut Paris malas. Dia memang tidak sungguh-sungguh ingin menonton tv.


"Bukan lelah. Kamu itu hanya lagi galau dan sedih aja. Makanya kalau lagi ada masalah itu cerita. Jangan di pendam sendiri. Lagipula, di sekitarmu itu banyak orang baik yang peduli. Termasuk aku." Sandra mengatakannya dengan meletakkan apa yang di bawanya. Lalu menatap wajah Paris yang di ajak duduk bareng di sofa dengan geregetan.


"Paham ... Kamu itu memang baik." Paris Akhirnya duduk dengan tenang. Lalu menaikkan kaki agar bisa menyilangkannya di atas sofa.


"Enggak. Kamu itu enggak paham. Buktinya, saat aku tanya kemarin ada apa kamu di panggil ke ruang guru, kamu enggak jujur bilang kalau kamu lagi dapat masalah." Sandra menyebutkan bukti bahwa Paris enggan berkeluh kesah padanya. Sandra kecewa. "Padahal kan aku ini multifungsi."


"Multifungsi apaan?" tanya Paris menjauhkan wajahnya dari Sandra. Heran dengan pemakaian kata-kata yang di pakai sahabatnya.


"Jadi teman bisa. Jadi adik ipar bisa. Multifungsi kan?" Sandra melebarkan matanya. Membuktikan dirinya benar. Paris tergelak. "Aku ini adik ipar kamu, sekaligus sahabat kamu."

__ADS_1


"Iya. Itu benar." Paris membenarkan pernyataan Sandra sambil menepuk lengan gadis itu. Sungguh menyenangkan menjadikan sahabat sebagai adik ipar. Pertemanan tetap awet dan tambah langgeng.



__ADS_2