Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Lapar


__ADS_3

"Jangan bilang kamu dengan mudah membiarkan cewek itu tenang saat kamu berulang kali di buat kesal."


"Enggak sih. Aku sebenarnya juga ingin menghajarnya," ujar Paris tergelak. Asha ikut tertawa juga. Terdengar suara Bik Sumi di belakang Asha.


"Kakak ada dimana ini?" tanya Paris.


"Aku ada di rumah. Sebentar lagi mau berangkat ke rumah sakit."


"Bunda sehat, Kak?"


"Ya. Meski sempat terlihat lesu karena memikirkan ayah, beliau sehat. Oh, iya Paris. Berkunjunglah ke rumah sakit. Sepertinya bunda ingin bertemu. Tiba-tiba saja sore tadi beliau bilang kalau merasa ada yang tidak beres. Bahkan beliau mengira kakak kamu yang sedang dalam masalah."


"Bunda sudah tahu masalah ini?" Paris cemas. Dia langsung berpikir ini ada hubungannya dengan masalah yang sedang ia hadapi.


"Tidak. Meskipun sepetinya ada hubungannya dengan masalah sekolah kamu, aku yakin beliau masih belum tahu."


"Lalu kenapa bunda merasa ada yang enggak beres?"


"Beliau itu kan yang melahirkan kamu dan Arga. Jika sesuatu terjadi pada kalian berdua, pasti hati beliau juga akan ikut merasa tidak tenang. Naluri seorang ibu pada anaknya sangat kuat. Walaupun enggak tahu siapa yang bermasalah, naluri beliau tepat. Makanya bunda sangat khawatir." Asha memberikan penjelasan yang sebenarnya ia kutip dari kata-kata yang di ambil dari ibunya sendiri.


"Terus bagaimana? Aku enggak mau bunda tahu soal ini. Bunda sudah banyak pikiran tentang ayah yang sakit, masa harus mikir soal aku juga." Paris mencemaskan bunda.


"Enggak. Bunda memang harus enggak tahu soal itu. Makanya kamu coba ke rumah sakit. Bukannya masalah sudah selesai? Jadi bunda tidak perlu lagi khawatir."


"Iya, Kak. Rencananya aku memang mau kesana sama Biema. Namun Biema kan masih capek karena baru pulang dari luar kota. Udah gitu harus berangkat lebih awal buat ngurusi masalahku di sekolah. Jadi aku belum cerita soal ayah."


"Paris ...." Suara Biema terdengar dari balik punggungnya. Paris menoleh ke belakang. Bibirnya tersenyum.


"Biema ya?" tanya Asha.


"Iya, Kak." Melihat Paris mendekatkan ponsel di telinganya, Biema tahu kalau gadis ini sedang berbincang dengan seseorang lewat handphone. Jadi dia mendekat tanpa bersuara lagi.

__ADS_1


"Kalau gitu aku sudahi dulu teleponnya, ya. Nanti nanti aku telepon lagi. Yang penting aku sudah tahu bahwa semuanya sudah beres. Sudah ya Paris." Asha tahu diri dan menyudahi perbincangan mereka.


"Ya. Salam buat Arash."


"Oke." Paris menyelipkan ponsel pada saku piyamanya lagi. "Kamu sudah bangun?" tanya Paris yang mulai memperhatikan Biema.


"Iya. Siapa yang menelepon?" tanya Biema yang duduk di kursi makan.


"Kak Asha. Dia tanya apakah persoalan di sekolah sudah selesai apa belum. Dia cemas. Aku bilang kalau kamu sudah menyelesaikannya." Biema mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Kamu sedang apa?" tanya Biema akhirnya setelah penasaran dengan kegiatan istrinya. Kepalanya melongok ke meja dapur.


"Mau buat mie. Lapar."


"Kenapa enggak pesan makanan saja?"


"Enggak perlu. Makan ini saja. Kamu mau? Aku mau buatin juga buat kamu." Paris menunjukkan mi instan pada Biema. Setelah melihat mie instan yang ada di tangan Paris, pria ini berdiri. Berjalan mendekat lalu melongok ke arah meja dapur. "Kamu mau ngapain?" tanya Paris bingung.


"Membuatkan kamu mi."


"Kalau begitu kita memasaknya bersama," ujar Biema seraya mendekat. Paris terkejut karena dia masih menghadap ke arah pria ini. Matanya mengerjap berulang kali saat Biema berdiri tepat di depannya. Berdiri sangat dekat dengan dirinya. "Kamu akan tetap pada posisi ini saat kita memasak?" tanya Biema. Kompor berada tepat di belakang gadis ini. Jika tubuh Paris masih saja menghadap ke depan, bagaimana bisa pria itu melakukan semua.


Wajah gadis ini tersipu. "Tentu tidak." Tangan Paris mendorong pelan tubuh Biema dan mulai membalik tubuhnya menghadap kompor. Sekejap Paris terkesiap saat ada sebuah lengan sedang melewati pinggangnya. Meskipun tidak menyentuh kulit, gerakan ini membuat Paris sempat menahan napas.


"Apa harus begini?" ujar Biema memiringkan kepala melihat raut wajah Paris yang sedang menunduk sembari tersenyum menggoda.


"Lebih baik jangan," sahut Paris setelah menelan ludah.


"Kenapa?" tanya Biema sengaja mengulur waktu.


Aku bisa meleleh dan tidak mengontrol diri, tahu.

__ADS_1


"Posisi ini tidak nyaman untuk memasak, Biem," ujar Paris masuk akal. Biema tergelak.


"Begitu ya ..." Biema menarik lagi lengannya yang berada di sela pinggang Paris. "Baiklah. Bisa geser sebentar? Aku tidak bisa menjangkau panci jika kamu berada tepat di depan kompor." Biema menunjuk kompor di depan Paris.


"Kamu tidak harus ikut memasak, Biem. Biarkan aku sendiri. Duduklah. Kamu sudah cukup banyak membantuku di sekolah, jadi sekarang waktunya aku melayanimu."


"Melayaniku?" tanya Biema sambil tersenyum penuh arti.


"Kenapa wajah kamu begitu? Apa yang kamu pikirkan?" protes Paris yang entah kenapa ikut tersipu. Biema tergelak lagi.


"Banyak. Banyak yang aku pikirkan. Aku bantu. Aku rindu melakukan ini bersama. Kemarin, sudah cukup lama untukku ninggalin kamu sendirian di apartemen."


"Ada Sandra, kok."


"Aku tahu, tapi aku yang kebingungan tidak ada di dekatmu," ujar Biema sambil mengusap kepala Paris dengan lembut. Ini membuat Paris langsung setuju Biema membantu. Kemudian pria itu menyambar mi instan di tangan Paris. Menyiapkan semua sendiri dengan cekatan. Paris hanya berdiri melihat tanpa bisa melakukan apa-apa. Semuanya sudah di lakukan dengan baik oleh Biema.


"Kalau begitu, lebih baik aku duduk saja. Sepertinya aku tidak di perlukan di sini." Paris melihat dia tidak berguna.


"Tidak. Tetap di dekatku." Biema menahan bahu Paris. Mencegahnya pergi dari sana. "Diam di sini, gadis. Tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya menemaniku." Paris jelas makin luluh. Dia memilih tinggal di samping pria ini. Rupanya Biema bukan hanya sekedar membuat mi instan seperti yang dia lakukan. Pria ini menambahi  dengan sayuran dan telur. Juga ada beberapa sosis dan keju yang baru saja di ambil dari dalam lemari pendingin.


"Bukannya mau buat mi instan? Kok banyak sekali bahan-bahannya?" tanya Paris melihat semua bahan di atas meja dapur dengan heran.


"Hanya sekedar mi instan tidak menarik. Jadi kita harus tambahi topping agar cantik dan lezat," sahut Biema tanpa mengalihkan pandangan dari sayuran hijau yang sedang di potong. Paris mengangguk. "Kalau di rumah bunda, gimana?"


"Di rumah bunda sih, sekedar mi instan saja. Enggak ada isian yang lain. Bik Sumi enggak pernah buat mi instan dengan banyak bahan seperti ini."


"Jadi kamu tidak pernah buat sendiri?"


"Emm ... Kan waktu itu lagi males. Capek." Paris menaikkan alisnya karena ketahuan kalau membuat mi instan masih menyuruh pembantu di rumah. Biema tersenyum. "Lagian lebih enak di buatin daripada buat sendiri."


"Oh, ya?"

__ADS_1


"Ya. Dulu aja kak Arga langsung bilang mi instan yang di buat kak Asha sangat enak. Padahal itu enggak buat sendiri." Paris jadi ingat soal mi instan saat kakaknya memuji kak Asha yang sudah buatin mi instan untuk dirinya.



__ADS_2