
"Ayo, aku bantu ganti baju," kata Paris yang melihat Biema masih mengenakan kemeja kerjanya. Sebenarnya bukan hanya karena tidak makan malam, pria ini demam. Sejak peristiwa di kantor cabang, sampai masalah Paris di sekolah ... Biema belum benar-benar beristirahat. Mungkin inilah waktunya untuk tubuhnya berontak.
Dengan susah payah, Paris membantu suaminya membuka pakaian. Terlihatlah tubuh pria ini yang bagus. Sungguh suatu anugerah tersendiri baginya bisa menguasai tubuh tegap ini. Bibirnya tersenyum tanpa sadar karena silau dengan tubuh Biema.
"Apa yang kamu bayangkan sampai membuat bibirmu tersenyum malu-malu?" tegur Biema dengan suara lemah mengejutkan.
"Hah? Tidak," bantah Paris segera setelah keterkejutannya mendapat pertanyaan dari Biema.
"Benar?"
"Kamu sakit. Jangan mengajak debat, oke?" pinta Paris berusaha luput dari kejaran Biema.
Biema mendengus pelan. Karena merasa tidak kuat menahan tubuhnya tegak, ia segera menyandarkan kepalanya pada bahu Paris.
"Aku memang sakit," lirihnya seraya memejamkan mata.
"Eh, sebentar dong. Kamu harus pakai baju dulu," kata Paris panik. Pria ini belum memakai baju. Tubuh atasnya masih polos tanpa pakaian.
"Hmm," sahut Biema. Dengan susah payah, dia memakaikan kaos pada tubuh Biema. Setelah Biema kembali tidur, Paris keluar kamar.
"Biema kenapa sayang?" tanya mama yang panik saat melihat Paris dan Sandra sibuk mencari sesuatu. Beliau sampai mendekati Paris yang melintas di depan pintu dapur dengan tangan masih kotor.
"Badannya agak panas," sahut Paris.
"Putra Mama demam?" tanya beliau. Paris mengangguk.
"Ya, Ma."
"Sudah menelepon dokter?"
"Sudah. Sandra tadi yang menelepon."
__ADS_1
"Kak Paris! Ada!" Sandra menemukan termometer. Paris segera menghilang dari depan pintu dapur dan menghampiri adik iparnya. Sebenarnya Sandra sudah menghubungi dokter untuk datang. Hanya saja ia ingin tahu berapa suhu tubuh suaminya. Kebiasaan bunda saat anak-anaknya sakit.
Paris naik lagi ke lantai dua. Masuk ke dalam kamar dan meletakkan termometer di bawah ketiak suaminya.
"39," gumam Paris saat membaca termometer setelah satu menit meletakkan di bawah ketiak Biema. "Sepertinya lumayan tinggi." Suara derap langkah di luar kamar terdengar. Dari pintu kamar yang tidak di tutup, Paris melihat mama mertua datang bersama seorang dokter. Gadis ini berdiri menyambut kedatangan mereka. "Oh, dokter sudah datang," ujar Paris.
"Ini menantuku, Dok. Istrinya Biema," kata mama memperkenalkan. Paris mengangguk sambil tersenyum menanggapi. Setelah itu dokter meminta waktu untuk memeriksa. Paris bermaksud pindah dari sana untuk memberi ruang bagi dokter memeriksa, tapi tangan Biema menahannya.
"Ada apa?" tanya Paris heran. Mama dan dokter melihat tangan Paris yang di pegang oleh Biema.
"Jangan pergi," lirih Biema.
"Tapi dokter hendak memeriksamu. Aku hanya bergeser sebentar," sahut Paris lembut.
"Saya hanya periksa sebentar." Dokter itu menyakinkan.
"Jangan," pinta Biema makin membuat Paris tidak tega untuk menjauh dari ranjang.
"Tidak apa-apa. Istrinya ini tetap di sini. Saya akan memeriksa dari arah lain," kata dokter itu punya ide. Dia berjalan memutar menuju tepi ranjang yang lain. Paris lega bisa menemani Biema di periksa. Ia duduk di tepi ranjang sambil menggenggam jari Biema.
Rupanya Biema takut di suntik. Paris tersenyum geli saat Biema meremas tangannya dengan ketat saat dokter menyuntikkan cairan ke tubuhnya. Mama juga tersenyum geli.
"Mama lupa. Suamimu itu memang takut di suntik sejak dulu," ujar mama pelan. Beliau menowel pundak Paris sambil menunjuk Biema yang masih memejamkan mata dengan dagunya. Setelah dokter sudah selesai memeriksa dan menyuntik, beliau keluar dari kamar.
"Aku antarin mama dan dokter keluar," bisik Paris pada Biema yang benar-benar terlelap. Gadis ini ikut berjalan keluar mengantar kedua orang itu.
"Biema itu jarang sakit, tapi sekali sakit ... bisa agak lama. Semoga saja kali ini tidak," pesan mama. Paris menganggukkan kepala mengerti, saat mama memberi tahu di ambang pintu. "Biema itu juga enggak rewel saat sakit. Dia bukan anak manja," imbuh mama mertua. "Jadi kamu enggak perlu khawatir."
"Iya, Ma."
"Mama tinggal ke bawah ya. Semua masakan harus jadi karena untuk arisan nanti." Mama meminta ijin untuk meninggalkan mereka berdua. Paris mengangguk. Setelah kepergian mama dan dokter, gadis ini menutup pintu dan kembali duduk di tepi ranjang menemani Biema. Pria itu tidur miring dengan tubuh terbungkus selimut.
__ADS_1
"Aku ambilkan makan, ya. Lalu minum obat?" tawar Paris.
"Enggak."
"Enggak? Lalu kamu enggak makan? Nanti ya tambah sakit ...," omel Paris. Kepala Biema menggeleng. Tangannya bergerak meraih tangan Paris dan meletakkannya di pipi. Tubuhnya juga meringkuk mendekat pada gadis ini.
"Aku enggak mau di tinggal," kata Biema lirih.
"Aku bukannya mau ninggalin kamu. Aku hanya ke lantai bawah untuk ambil makan buat kamu. Lalu kesini lagi," terang Paris. Biema tetap menggelengkan kepala. Pria ini bagai bayi kecil yang manja pada ibunya. Bola mata Paris mengerjap melihat itu.
Bukannya kata mama, Biema itu enggak rewel dan enggak manja?
"Tetap di sini," kata Biema.
"Lalu makannya?" tanya Paris bingung. Biema tidak menjawab. Dia tetap berbaring miring sambil menggerak-gerakkan pipinya pada tangan Paris.
"Peluk," pinta Biema.
"Peluk?" tanya Paris ingin memperjelas. Suara Biema pelan. Karena itu ia takut salah dengar. Kepala Biema mengangguk. Paris menaikkan kakinya ke atas ranjang. Ikut berbaring di samping Biema. Lalu memeluk tubuh besar itu dari samping. Raut wajah Biema terlihat sangat nyaman.
"Terima kasih," bisik Biema masih dengan suara lemah. Paris mengusap kepala pria ini yang begitu dekat dengannya. "Kalau begini kan aku enggak bisa ngapa-ngapain," gumam Paris. Dia bagaikan ibu yang menidurkan putranya.
Pelan-pelan ia merasakan Sesuatu menggelitik di tubuhnya. Makin lama makin terasa.
"Biema!" pekik Paris. Pria itu tidak mendengar pekikan gadis ini. Dia terus saja mendesakkan wajahnya pada tubuh Paris. Ini membuat tubuh Paris menggeliat dan hendak menjauh dari tubuh Biema. Namun lengan pria ini menahan punggung Paris untuk tidak beranjak kemanapun. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Paris geram.
"Sebentar." Biema lumayan nakal untuk orang yang sudah disebut sebagai orang sakit. Ia mengendus tubuh depan milik Paris.
"Kamu enggak boleh melakukannya ... Kamu sakit," ujar Paris memaksa Biema menjauh dari tubuhnya. Karena pria ini dalam kondisi lemah, dengan mudah Paris lepas dari pelukannya. Biema membuka mata. Mata itu satu karena panas di tubuhnya. "Kamu ini," kata Paris geram. Ingin rasanya ia menjitak kepala suaminya untuk melampiaskan kekesalan karena kenakalan Biema. Namun tentu ia tidak tega melakukannya karena pria ini sakit. Paris akhirnya berdiri. "Aku harus kebawah, ambil makanan untuk kamu. Jangan merengek minta di temenin," sergah Paris segera saat pria itu ingin mencegahnya.
"Ya," sahut Biema pasrah.
__ADS_1