Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Di dalam mobil


__ADS_3

Tidak ada pembicaraan lagi dari bibir Biema setelah kalimat Juna soal Paris yang kabur ke rumahnya di kampung meluncur. Fikar pun menjalankan mobil dengan tenang. Walaupun begitu, bola matanya berulang kali melihat ke arah kaca kecil di atasnya. Melihat keadaan direkturnya yang mendadak diam. Padahal sejak tadi sibuk ingin marah.


Punggung Biema bersandar pada kursi mobil. Bola matanya menatap keluar jendela. Itu sudah sekitar lima belas menit setelah mereka keluar dari area sekolah. Ini agak mencurigakan. Paris gelisah. Mungkin dia senang salah paham soal siapa Juna, sudah selesai. Namun entah kenapa atmosfir di antara mereka bukan baik, tapi menjadi dingin.


Gadis ini berulang kali melirik ke samping. Pria itu masih diam. Tidak bicara sepatah kata pun. Paris menghitung angka saat dirinya bertekad untuk bertanya. Namun akhirnya urung karena dirinya belum siap.


Hhh ... Paris menghela napas.


Biema kenapa, ya?


"Biem ...," panggil Paris pelan. Pria itu menoleh.


"Ada apa?" tanya Biema dengan wajah datar-datar saja. Dia tidak tahu bahwa dua orang di dalam mobil sedang tidak tenang.


"Emm ... Kamu enggak apa-apa?" tanya Paris memberanikan diri untuk bertanya. Dia memaksakan diri untuk sanggup menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah sejak tadi ada di ujung lidahnya. Hanya saja berulang kali urung karena dia tidak siap.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Biema. Kini ada seulas senyum yang menyertai pertanyaannya. Seperti sedang menertawakan pertanyaan gadis ini. Paris bukan lega. Dia justru makin gelisah dan tidak tenang.


"Iya. Sejak tadi kamu diam," jawab Paris. Fikar yang duduk di depan juga sama. Dia mencoba sedikit membagi fokusnya pada jalanan di depan, juga dengan pembicaraan dua orang di belakangnya.


Bukan suatu hal aneh jika Fikar melihat pria yang menjadi teman sekaligus atasannya itu menjadi pria yang tidak banyak bicara. Hanya saja, belakangan ini pria itu makin banyak berekspresi dan kata-kata. Apalagi ada hubungannya dengan istrinya.


Namun, saat ini pria itu justru menjadi sangat aneh saat diam.


"Ada apa dengan itu? Aku tidak apa-apa. Hanya lelah." Biema menarik kepala Paris dan meletakkannya pada dadanya. Gadis ini menurut saja.


"Kamu bukan diam karena Juna bicara soal aku kan?" tanya Paris. Biema tersenyum tipis. Paris tidak bisa lihat itu. "Aku memang dulu sempat kabur karena menentang pernikahan kita." Paris mulai membahas dan mengaku.

__ADS_1


"Soal itu, aku sudah tahu. Tanpa Juna bilang pun kamu sudah menunjukkan bahwa kamu tidak mau menikah denganku." Biema benar soal itu. Awal menikah, gadis ini tidak peduli dengan perasaan Biema yang mungkin kesal dan geram dengan tingkahnya. Tanpa basa-basi, Paris selalu menunjukkan keseriusannya dalam membenci Biema.


"Dulu memang begitu," ulang Paris. "Perjodohan bahkan ke jenjang menikah tentu sangat mengejutkan buatku. Aku kan masih sekolah," ujar Paris merasa itu sangat wajar. Meskipun saat membicarakannya, hatinya berdebar sangat kencang.


"Aku tidak apa-apa ... Itu sudah lama." Biema mengelus lengan Paris lembut. lalu merapikan anak rambut yang berjatuhan di pipi istrinya.


"Tapi kamu jadi diam saat Juna membahas itu. Aku merasa tidak nyaman," ujar Paris sambil mendongak pada Biema. Pria ini diam seraya menundukkan pandangan ke arah istrinya.


"Aku hanya merasa bersalah," ungkap Biema akhirnya. Fikar yang tadinya hanya mendengar, kini mendongak ke atas melihat reaksi Paris saat tiba-tiba saja pria ini mengaku salah.


"Bersalah? Kenapa?" tanya Paris heran. Dia langsung bangkit dari rebahannya pada dada Biema. Pria itu menatap Paris yang menanti jawabannya dengan tanda tanya besar.


"Ternyata aku sudah membuat kekacauan karena begitu saja menyetujui perjodohan itu. Aku sudah membuatmu susah waktu itu." Biema benar-benar sedang merasakan apa yang dirasakannya kala itu. Itu terlihat dari wajahnya yang sendu. Tangan Paris terulur menyentuh garis pipi Biema.


"Soal itu aku juga pernah melakukannya. Aku yakin sudah membuatmu susah. Malah sering." Paris berusaha menghapus rasa bersalah Biema padanya.


"Juga lewat lebam yang kamu sematkan pada wajahku," imbuh Biema jenaka membuat Paris tergelak. Lalu mendongak lagi.


"Salah sendiri mendekati aku dan kak Asha waktu itu," kata Paris sambil memukul dada Biema pelan. Gadis itu tertawa yang juga akhirnya menular pada dirinya.


"Jadi istri Arga itu mirip denganmu, ya ... " Kalau begitu kemungkinan Juna juga mirip dengan Asha. Jadi dia dan Paris merasa cocok, ujar Biema di dalam hati senang. Dia menemukan alasan yang pas kenapa Paris dan Juna terlihat akrab selain karena mereka saudara ipar.


"Ya. Kak Asha asyik jadi teman," ujar Paris bangga.


"Lagipula, bagaimana bisa kamu tidak tahu aku ini kakak sahabatmu?" tuding Biema. Telunjuk Biema menyentil hidung gadis ini. Membuat Paris mencebik setelah meringis.


"Aku tidak pernah ke rumah kamu. Kita kan sekolah di asrama."

__ADS_1


"Benar juga," ujar Biema mengingat lagi bahwa adiknya memang pernah sekolah di asrama wanita. "Dan Sandra memilih keluar dari sekolah asrama karena sahabatnya juga keluar." Bola mata Biema menatap Paris menyalahkan.


"Aku tidak mengajaknya, dia sendiri yang ikut." Paris enggan di salahkan. Biema tersenyum. Jika dulu dia geram dengan teman adiknya ini, tapi kali ini dia justru gemas.


Fikar tersenyum juga melihat kehangatan mereka berdua. Kali ini dia tidak lagi menguping. Fokusnya hanya pada jalanan yang ada di depannya.



"Kenapa ini anak?" tanya Arga yang terkejut perbincangan di teleponnya diputus oleh Paris secara sepihak. Di lihat lagi layar ponselnya. Apa benar adiknya itu memutuskan sambungan telepon. Layar ponsel menghitam yang artinya tidak ada aktifitas apapun di ponsel. "Ah sudahlah ... Dia mungkin sungguh iseng. Tunggu ... Bukannya tadi Paris bilang Juna. Juna adik istriku?" Tangan Arga meraih ponselnya lagi. Segera ia menekan tombol 0 yang artinya itu adalah istrinya. Tombol panggil cepat khusus untuk Asha.


"Ya, sayang ada apa?" tanya Asha yang sedang menimang Arash gembul tidur.


"Aku rindu kamu," ujar Arga spontan. Asha tergelak.


"Aku juga lagi rindu." Iseng Asha membalas kata-kata suaminya.


"Aku ingin pulang."


"Ya sudah pulang saja sekarang. Aku tunggu


Aku sudah siap," kata Asha justru memberi ide bagi pria ini untuk segera pulang.


"Aku jadi benar-benar ingin pulang," ujar Arga seperti kalah. Asha tergelak lagi.


"Sudah, sudah. Jangan pulang. Ini waktunya bekerja." Asha menyudahi bercandanya karena bisa-bisa suaminya pulang dan tidak kembali lagi ke kantor. "Ada apa?"


"Kamu mengalihkan pembicaraan," sungut Arga. Asha mendengus geli. "Memangnya Juna sudah dapat kerja ya?"

__ADS_1



__ADS_2