Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Itu aku dan Paris


__ADS_3

"Pantai?!" seru Fikar terkejut saat menelepon Biema karena pria ini tidak muncul lagi di perusahaan. "Bukannya kamu sedang menjemput istrimu dari sekolah? Mengapa tiba-tiba kamu ada di pantai?"


"Yaa ... Itu semua karena Sandra." Biema menceritakan garis besarnya. Bagaimana ia bisa sampai ikut gerombolan konvoi anak-anak sekolah.


"Jadi tanpa sadar kamu juga ikut konvoi? Walaupun tidak mengendarai motor seperti mereka." Fikar menyimpulkan.


"Begitulah." Biema tergelak merasa lucu cerita tentang dirinya ini.


"Astaga Biema. Aku menantimu sejak tadi. Aku pikir kamu masih berada di apartemen, tapi ternyata ... Kamu ikut konvoi anak-anak lulus sekolah! Kenapa kamu tidak sekalian mengajakku? Bukankah itu sangat menyenangkan?" Fikar gemas karena ia tidak di ajak.


"Sudah aku katakan aku tidak sengaja ikut."


"Oh, aku ingin sekali ikut denganmu sekarang. Bisa aku bayangkan bagaimana serunya konvoi kelulusan itu." Biema menghela napas mendengar Fikar heboh sendiri.


"Sayang!!!" seru Paris melambaikan tangan. Biema membalasnya.


"Sudah. Karena sudah di sini, aku akan bersenang-senang. Selesaikan pekerjaan di kantor Fikar. Kamu bisa aku andalkan." Setelah mengatakan itu, Biema menutup ponselnya. Dia yang sudah melepas jas kerjanya, kini hanya memakai kemeja warna putih bersih. Lalu berjalan menuju istrinya yang sedang bermain air laut.


...****************...


Perayaan kelulusan masih teringat jelas di ingatan. Paris masih takjub bahwa ia bisa ikut dalam konvoi perayaan kelulusan yang pastinya hanya satu kali saja seumur hidup itu.


"Itu aku dan Paris," kata Biema mengetahui headline news suatu surat kabar yang terbit hari ini. Ia memamerkan foto itu pada Fikar. "Lihatlah. Bahkan media pun meliput kita berdua." Biema tersenyum sambil menggelengkan kepala takjub.


"Mereka bukan sengaja mengambil gambar mu dan istri. Mereka hanya meliput kegiatan perayaan kelulusan yang memang sepertinya setahun sekali ada sebagai suatu tradisi. Itu yang mereka bahas." Fikar tidak terima. Ia masih iri karena Biema ikut konvoi itu meski tidak sengaja. "Lagipula fotomu tidak jelas. Buram," imbuh pria ini layaknya bocah yang iri.


"Terserah. Aku juga punya koleksi pribadi yang mengatakan aku berada di sana kemarin." Biema sengaja memanas-manasi.


"Jangan membuatku sangat iri padamu, Biem." Akhirnya Fikar mengaku. Biema tergelak.


"Kita sudah jauh dengan dunia mereka. Tidak mungkin kamu akan ikut konvoi saat pekerjaan mu menumpuk bukan? Kamu pria dewasa yang sibuk, Fikar." Biema melipat koran di tangannya dengan hati-hati. Lalu meletakkan dalam lemari dokumen. Fikar mencibir di belakang punggung Biema.


"Meskipun begitu, jika ternyata ada kesempatan ... bahkan itu denganmu, aku juga ingin sejenak mengingat masa indah sekolah Biem ..."

__ADS_1


"Sudahlah. Sekarang yang penting itu adalah ... segera cari pasanganmu untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan punya anak." Nasehat Biema membuat Fikar menipiskan bibir.


"Mentang-mentang sebentar lagi akan jadi seorang ayah, lagaknya sudah menasehati segala ..." cibir Fikar.


"Kamu salah. Meskipun aku masih lama akan menjadi ayah, itu nasehat bagus buatmu. Bukannya kita wajib menikah?" Biema mulai duduk lagi di kursi kerjanya.


"Tentu saja. Aku juga ingin merasakan sepertimu yang melakukannya di pantry," bisik Fikar membuat Biema tersenyum pada akhirnya. Ia jadi ingat lagi percintaan panas kala itu.


"Ah Paris ... Aku jadi rindu," desah Biema sambil tersenyum.


"Jangan pulang! Jangan pulang!" cegah Fikar panik. "Sudah cukup kamu sering tidak bekerja saat selesai makan siang, Biema. Kamu bilang aku harus mencari pasangan untuk menikah. Jika kamu terlalu sering melimpahkan semua pekerjaan padaku, mungkin aku stress tidak punya waktu mencari perempuan."


"Hahaha ... Tenanglah. Aku tidak akan pulang saat selesai makan siang," ujar Biema menenangkan. Fikar menipiskan bibir mendengar Biema seperti sedang meledeknya.


***


"Tahu berita di koran pagi ini?" tanya Biema saat dia dan istrinya duduk santai di depan tv petang ini.


"Aku bukan penggemar baca koran. Lagipula jarang sekali anak muda sepertiku yang giat baca koran pagi." Paris mengutak-atik remote di tangannya.


"Nanti. Kalau lagi mood," jawab Paris asal. Biema merapatkan tubuhnya pada lengan istrinya.


"Ada berita soal konvoi kelulusan."


"Apa ada yang kena razia polisi?" tanya Paris masih tetap dengan melihat ke depan, ke arah tv.


"Enggak. Aku hanya terkejut ada secuil foto kita berdua saat di tepi pantai."


"Benarkah? Mungkin itu yang di maksud anak-anak tadi pagi di grup sekolah. Aku enggak paham, tapi sepertinya soal berita itu.


"Kamu mulai aktif di grup sekolah?" tanya Biema heran. Karena Paris sempat malas mengurusi itu. Apalagi Priski yang sibuk mengusiknya.


"Karena Priski tidak lagi bertingkah, mereka juga menyambut baik. Jadi aku coba aktif. Sekilas aja ... tadi aktif. Lagipula sebentar lagi kita lulus. Grup sekolah akan bikin kangen saat teringat sekolah."

__ADS_1


"Ya. Masa sekolah memang indah." Biema setuju.


**


Satu bulan lebih setelah konvoi kelulusan.


Paris sedang menuju ke salon untuk creambath. Ia yang tidak terlalu memperhatikan soal diri kini mulai mencoba terjun dalam perawatan karena bujukan Asha.


"Jadi Biema enggak suka kalau aku enggak cantik, gitu?" tanya Paris terang-terangan saat Asha membujuknya.


"Itu tidak mungkin. Kamu itu mikirnya apa, sih?"


"Karena ini pemaksaan namanya kalau aku di suruh ke salon sementara akunya enggak mau," gerutu Paris malas.


"Creambath itu enak, lho. Entar di pijit-pijit juga. Jadi bikin kita rileks. Apalagi saat hamil gini. Nyesel banget dulu aku enggak memanjakan diri," kata Asha yang duduk di kursi mobil bekakang.


"Iya Non. Kalau bisa ada juga creambath laki," celetuk Angga di depan. Siang ini mereka ke salon di antar Angga.


"Kamu juga pingin jadi cantik?" tanya Paris heran.


"Eh, bukan Non. Maksudnya enak juga kepala di pijit-pijit gitu."


"Kok tahu?" serbu Paris.


"Dia kan sering nganterin bunda." Asha menjawab sambil senyum. Angga mengangguk mengiyakan. Paris mencebik. Lalu ia melihat ke samping lagi.


**


Banyak pegawai resto sedang mempersiapkan sebuah pesta. Mereka kesana kemari menyiapkan segala sesuatunya untuk mempercantik setiap gazebo yang di bangun di atas kolam ikan di bawahnya. Dengan konsep ini, orang-orang mengenalnya dengan restoran terapung.


"Semua sudah siap?" tanya Fikar kepada ketua tim kru persiapan ini.


"Ya, Pak. Kru saya sudah hampir menyelesaikan semuanya. Sebentar lagi semua sudah siap."

__ADS_1


**


__ADS_2