
Paris sudah terlelap saat Biema pulang dari kantor. Dia tertidur di sofa dengan tv di biarkan menyala. Biema mencium kening gadis ini sebelum akhirnya menggendongnya. Membawa tubuh itu ke kamar untuk ditidurkan di sana. Menutupi tubuh gadis ini dengan selimut agar nyaman saat tidur.
Biema memilah baju yang di tata rapi di lemari. Dia ingin mandi air hangat. Setelah menyelesaikan membersihkan diri, ia menuju ke pantry. Membuat makanan untuk makan malamnya. Dia berniat membuat kejutan untuk Paris dengan mengajaknya makan malam di luar. Namun apalah daya ternyata gadis pujaan hatinya tertidur lelap saat ia pulang.
Meskipun gadis ini masih membuka mata, sepertinya rencana makan malam akan tetap gagal. Terdengar rintik hujan turun di luar. Awalnya pelan, makin lama makin turun dengan deras. Ponselnya berdering di atas meja pantry. Ternyata mamanya yang menelepon. Karena dia masih sibuk dengan rencana membuat makanan, dia mengubah panggilan ini menjadi mode loud speaker.
"Halo, Ma."
"Biema. Ajak Paris kerumah mama besok, ya ..."
"Aku tanyakan dia dulu."
"Bukannya besok sekolah sudah free karena selesai ujian?"
"Biema tahu, tapi aku harus bertanya dulu. Mungkin saja dia lelah atau ada perlu." Biema tidak mau langsung mengiyakan. Dia tidak ingin memaksa gadis itu untuk selalu mengikuti keinginan mamanya. Bukan mengajari tidak hormat. Hanya saja Biema tidak ingin Paris tertekan jika tidak berkenan.
"Ih, kamu ... Biar mama bicara sendiri sama Paris. Bisa panggil istrimu?"
"Dia sedang tidur."
"Ini masih belum malam. Paris pasti belum tidur. Mama akan telepon sendiri ke handphonenya." Mama masih mencoba memaksa bicara dengan menantunya.
"Ma, Paris memang lagi tidur. Jangan mengganggunya." Biema terpaksa berkata dengan tegas demi melindungi kenyamanan gadis itu dalam tidurnya.
"Ya, Ma. Paris di sini." Biema terkejut mendengar suara gadis ini begitu dekat dengannya. Kepala pria ini menunduk melihat ke arah perutnya. Gadis ini tengah memeluk dirinya. Tahu-tahu gadis ini muncul di sampingnya seraya menyelipkan tangan pada bawah lengannya. Biema menoleh ke samping, ke arah Paris yang sedang bicara.
"Oh, Paris!" seru mama Biema senang. "Biema bilang kamu tidur dan mama tidak boleh mengganggumu. Padahal mama ingin bicara dengan menantu mama ini," ujar mama mengadu.
"Paris memang sedang tiduran barusan Ma, tapi sekarang sudah bangun kok." Bibir Paris tersenyum saat bicara. Lalu mendongak melihat ke arah wajah Biema. Tersenyum lagi ke arahnya. "Mama ingin bicara denganku?" tanya Paris yang memang sempat mencuri dengar ketika berjalan mendekat ke pantry.
"Ya. Mama mau buat kue untuk arisan. Kamu kan lagi free sekolahnya. Bisa kan datang ke rumah mama untuk bantu-bantu," pinta mama mertua. Biema menggelengkan kepala saat mata mereka beradu.
__ADS_1
"Tentu, tentu bisa." Isyarat Biema meminta Paris menolak gagal. Rupanya gadis ini justru ingin mengabulkan permintaan mertuanya. Bibir Biema menipis mendengar keputusan Paris.
"Aduh, senangnya mama ... Besok mama tunggu ya sayang ..."
"Iya Ma."
"Menantu mama memang baik. Biema masih di sana?" tanya mama heran. Karena suara putranya tidak terdengar sama sekali.
"Iya. Biema masih di sini," jawab Biema.
"Tuh, Paris sangat bersemangat dapat undangan dari mama. Besok antar istrimu ke rumah mama ya. Jangan pagi-pagi. Agak siangan aja, Paris." Mama merasa menang. Karena tadi beliau sempat dihalang-halangi untuk bicara dengan menantunya.
"Iya, Ma," sahut Paris.
"Mana? Mana suara putra Mama? Kok enggak bersuara?" tanya mama masih menggoda putranya.
"Biema dengar ucapan Mama. Iya. Besok Biema antarin Paris ke rumah mama kalau dia tidak capek." Rupanya Biema gigih menahan mamanya meminta Paris untuk datang. Bola mata Paris membulat sekejap.
"Iya, Ma." Paris menjulurkan satu tangannya untuk menekan tombol merah di layar. Namun ternyata tampilan ada panggilan segera lenyap karena pihak yang menelepon memutus panggilan dengan segera. Biema melepaskan tangannya dari perabot yang di pegangnya. Ia menarik tangan itu untuk kembali memeluk dirinya.
"Kenapa mengabaikan kode yang aku kasih buat menolak permintaan mama?" tanya Biema sambil merapatkan tubuh Paris yang memeluknya dari belakang. Ini pelukan belakang pertama dari gadis ini tanpa dirinya meminta. Gadis ini tersenyum.
"Iya, maaf. Kan kasihan Mama mengundang aku kesana masa' di tolak."
"Aku lebih kasihan ke kamu." Biema mendekatkan kepalanya ke kepala Paris dari samping. Hingga beradu dengan lembut.
"Sama mama sendiri kok gitu, sih?" protes Paris. Biema melepaskan lengan Paris dan berbalik menghadap gadis itu. Bersandar pada meja dan memeluk pinggang istri kecilnya.
"Sebelum ada kamu, mama sudah terbiasa membuat kue sendiri tanpa bantuan Sandra. Mama tidak akan kesusahan jika hanya di bantu bibi. Aku takut kamu kelelahan," ujar Biema.
"Aku tidak akan kelelahan," bantah Paris. "Memangnya mama akan membuat banyak kue untuk arisan?"
"Ya." Biema mengangguk. "Bukan hanya kue, tapi juga masakan." Mendengar perkataan Biema, Paris yakin itu akan banyak sekali. Dia jadi ragu.
__ADS_1
"Masa sih?"
"Mama suka sekali menyambut tamu datang. Jadi mama akan membuat banyak hidangan untuk teman arisannya itu," jelas Biema.
"Wah ... Repot juga ya." Paris jadi sedikit berpikir-pikir lagi. Dia akan ke sana atau tidak. Karena Biema sudah siap bermacam alasan untuk membuat Paris tidak perlu datang.
"Makanya aku menolak mama meminta bantuan kamu." Biema menyentil hidung istrinya dengan lembut. Paris mencebik.
"Tapi enggak sopan juga menolak permintaan mama. Masa menantunya enggak mau bantuin." Wajah Paris di tekuk tidak setuju.
"Jadi kamu mau tetap ke rumah mama?" tawar Biema.
"Iya dong. Sekalian belajar buat kue juga. Kali aja kamu mau aku buatin kue seperti itu," canda Paris. Biema tersenyum.
"Oh, aku pasti mau. Namun, takutnya habis acara, kamu akan kelelahan, gimana?"
"Kan ada kamu. Kamu bisa pijitin aku kalau badanku sakit semua sehabis bantu-bantu di sana. Tenagamu kan banyak. Tubuhmu juga kuat." Paris menekan-nekan tubuh Biema. Manik mata Biema melirik ke arah jari-jari Paris di atas kulitnya.
"Tubuhku memang kuat. Tenagaku juga banyak. Mau mengetesnya?" tanya Biema menatap lurus gadis ini. Paris menghentikan jari-jarinya menekan-nekan tubuh Biema. Lalu mendongakkan pandangan menatap pria yang ada di depannya. Pandangan mereka bertemu. Bola mata Paris mengerjap menyadari arti dari kata-kata suaminya.
"Kamu ... tidak lapar?" tanya Paris gugup.
"Aku bisa menundanya untuk hal ini."
"Kamu bisa sakit jika memaksa tidak makan," ujar Paris masih berusaha mengalihkan atmosfir hangat di antara mereka.
"Aku tidak akan sakit. Bahkan akan makin sehat saat melakukannya." Biema merapatkan tubuh Paris padanya.
"Emm ..."
"Kamu bisa tahu sendiri saat kita sudah melakukannya," lirih Biema yang mendekatkan wajahnya pada Paris. Menyentuh lembut bibir gadis ini dengan bibirnya.
__ADS_1