Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Tidak pasti


__ADS_3


"Kamu kangen sama kak Biema, ya?" Mendengar ini Paris langsung mendongak. Bola matanya melebar sedikit. Itu pertanda dia sedang terkejut.


"Tentu," sahut Paris mengaku. Padahal Sandra pikir Paris akan mengelak. "Ketahuan karena salah bikin jus tadi ya ...." Bibir Paris tersenyum tipis karena merasa ketangkap basah.


"Bukan. Kelihatan aja dari raut mukanya. Kangen sama orang yang di sayangi menurutku wajar. Jadi enggak usah malu kalau kamu begitu." Sandra harus kasih pengertian karena sepertinya Paris masih enggan terbuka soal hatinya ke Biema.


Suasana makan pagi ini begitu hangat. Meskipun Biema tidak ada di sampingnya, hati Paris sedikit terhibur dengan keberadaan Sandra. Namun kehadiran Biema tetap diharapkannya.


Berangkat sekolah pagi ini sangat berbeda dengan biasanya. Jika hari-hari kemarin Paris tidak merasakan hal yang sekarang ia rasakan. Yaitu rasa tegang, takut, dan cemas. Kini semua rasa itu tengah menerpanya.


Ia belum tahu pasti apa yang akan di lakukan kakaknya dengan menyuruhnya berangkat ke sekolah. Namun dia yakin kemungkinan dia bisa kembali ke sekolah dan mengikuti ujian sangat besar.


Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, gadis ini terus saja diam. Tangannya basah karena tidak tenang dan cemas.


Mobil sudah sampai di dekat gerbang sekolah. Padahal dia hanya tidak berangkat ke sekolah satu hari. Namun rasanya sudah sangat lama dia tidak menginjakkan kaki di atas paving halaman sekolah. Ini masih terbilang pagi. Karena ujian sekolah di mulai jam 7.30.


Sandra melirik ke arah Paris yang menghela napas. Dia yang sudah di keluarkan dari sekolah, kini muncul tanpa ijin. Itu tentu saja sikap yang sangat berani. Paris sebenarnya ragu, tapi karena Arga yakin bisa menyelesaikan semuanya, dia akhirnya ikut yakin juga walaupun tidak seratus persen.


"Enggak apa-apa. Kamu harus yakin kalau kak Arga bisa menyelesaikan nya," ujar Sandra berusaha menenangkan.


"Ya. Itu benar." Mereka berdua berjalan masuk melalui gerbang sekolah. Langkah awal mereka tidak ada tanda-tanda yang begitu penting, tapi saat sudah hampir sampai di lorong kelas, semua mata mulai memandang ke arah mereka dengan heran. Mungkin bukan mereka berdua, tapi hanya memandang Paris.


Saat Paris mulai berjalan masuk semua mulai berbisik.


Mau tidak mau Paris menghela napas pelan dan melirik ke arah mereka. Tatap mata mereka menunjukkan bahwa mereka heran dan penasaran. Kenapa gadis ini masih ada di sekolah dengan memakai seragamnya, saat dia sudah di keluarkan dari sekolah?


Kasak-kusuk anak-anak semakin gencar. Bola mata Paris melirik lagi. Tatapan mereka melihatnya iba dan heran. Raut wajah berbeda dari apa yang biasanya dia terima. Apakah kini ada yang mulai mengiba karena sebutan cewek panggilan itu? Sepertinya bukan karena Sandra bilang status menikahnyalah yang menjadi trending di sekolah.


Berarti mereka punya pandangan berbeda. Sesaat Paris merasa salut kepada mereka yang bereaksi kasihan dengan sebutan yang di karang oleh Priski. Paris tersenyum tipis menanggapinya. Namun Paris salah. Mereka bukan sedang memperbincangkan dirinya yang terkait dengan panggilan tidak pantas itu. Kemungkinan mereka membicarakan status Paris.

__ADS_1


Bel ujian mulai berdentang. Sandra yang sejak tadi menemani Paris berdiri.


"Aku harus segera masuk kelas Paris."


"Ya. Kamu bisa masuk ke kelas."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku tidak tahu, tapi Kak Arga bilang akan datang sebentar lagi."


"Begitu ya ... Baiklah. Aku akan masuk kelas. Tunggu dengan sabar, kak Arga pasti muncul sebentar lagi." Sandra memegang lengan Paris dengan penuh perhatian lalu berjalan pergi menjauh dari tempatnya.


Sepeninggal Sandra, Paris mencoba menghubungi Arga. Lama sekali nada dering tunggu terdengar, hingga akhirnya Arga menerima panggilan.


"Kak Arga kemana, sih? Aku sudah di sekolah nih," sembur Paris kesal.


"Maaf, Paris. Ponsel Arga tertinggal di rumah sakit." Itu bukan suara laki-laki. Itu kakak iparnya.


"Ya."


"Apa dia lupa bahwa sekarang dia harus ke sekolah karena akan mengurusi masalahku?" tanya Paris menggebu-gebu.


"Aku rasa tidak. Dia membahas ini denganmu tadi pagi bukan?"


"Ya, tapi sampai sekarang kak Arga belum muncul di sekolah. Bagaimana ini?" tanya Paris seperti putus asa. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Mencoba menghindari orang-orang yang kemungkinan lewat di taman tempatnya berdiri. Dia tidak ingin keberadaannya di ketahui banyak orang.


"Coba telepon Rendra. Kamu tahu nomornya bukan? Mungkin dia sedang kena macet di jalan."


"Baiklah." Klik. Ponsel mati. Asha menoleh keluar area tempat mertuanya di opname.


"Kenapa Arga tidak memberitahunya saja," sesal Asha. Dia sudah memberitahu Rendra kalau ponsel Arga ketinggalan dan meminta pria itu mengambilnya.

__ADS_1


Paris masih panik sendirian di tempatnya. Tangannya sibuk menekan papan ponsel miliknya. Mencoba menghubungi Rendra seperti yang di sarankan Asha. Namun nomor Rendra juga tidak segera memberi respon. Rupanya Arga masih sibuk menemui rekan bisnis. Jadi tidak bisa segera datang mengambil ponsel.


Satu persatu siswa siswi keluar dari ruangan. Sepertinya mereka sudah menyelesaikan ujian. Waktu berlalu begitu cepat. Hingga ini mengkhawatirkan. Apakah dia akan terus saja seperti ini? Berdiri dengan tidak pasti akan di tolong atau tidak.


Meskipun Paris berusaha tidak terlihat, beberapa anak berhasil menemukan dirinya. Dia memang tidak terlalu berniat bersembunyi.


"Sepertinya dia yang di kabarkan sudah menikah itu," ujar seorang gadis. Temannya ikut menoleh sekaligus memperhatikan Paris dengan seksama.


"Benar. Sepertinya dia anak itu."


Paris mendengkus dan menjauh. Bibir mereka masih berbisik-bisik menggunjing dirinya, meski gadis ini sudah menjauh. Saat itu gerombolan cewek sedang tertawa di ujung lorong.


"Hei, sepertinya itu cewek yang lagi tenar ya ...," ujar seseorang. Paris yang tengah sibuk dengan ponselnya mendongak. Menghela napas kemudian melihat siapa yang ada di sana. Rupanya itu Priski dan teman-temannya.


"Ya, dia Paris," sebut Priski dengan wajah menyepelekan. "Cewek panggilan itu," ujar Priski memperjelas. Paris diam sambil menatap gadis itu dengan tatapan lelah. Usai mendengarkan Priski bicara seperti itu, mereka pun tertawa mencemooh.


"Eh, ternyata dia sudah menikah lho," ujar salah seorang cewek. Paris masih memandangi mereka.


"Beneran?"


"Iya."


"Padahal ujian saja belum kelar. Dia sudah kawin saja. Keburu banget, kayak enggak laku aja." Lirikan mata julid mereka sungguh menyebalkan. Berita ini termasuk sangat cepat di ketahui publik. Ini baru dua hari sejak peristiwa itu. Namun mereka sudah mengetahuinya kemarin. Berita itu sudah menyebar dengan cepat bak wabah penyakit.


Melihat reaksi itu Paris akan berjalan pergi tanpa mendengar mereka lebih lama. Dia hanya perlu fokus menelepon Rendra agar dia bisa memberitahukan pada kakaknya untuk segera datang ke sekolah. Jika biasanya dia bisa cukup tenang saat menghadapi bahwa dirinya di sebut cewek panggilan, sekarang dia tidak bisa setenang itu. Karena kenyataannya dia memang sudah menikah. Dan justru fakta itulah yang memberatkannya untuk bisa ikut ujian.


"Hei ... kamu." Seorang cewek dengan tinggi tubuhnya sejajar dengan Paris mendekatinya. "Jadi setelah jadi cewek panggilan, sekarang kamu menikah, ya ... Hmmm ... Pasti kamu lagi bunting nih. Makanya pengen segera ganti status buat menutupi kesalahan," tudingnya tanpa pikir panjang.


Paris terkesiap. Dia yang akan pergi segera berbalik mendekati gadis itu. Tangannya mengepal dan melayangkan tinjunya ke arah gadis itu. Namun sebuah tangan menghentikan gerakannya.


__ADS_1


__ADS_2