
Di saat suasana sedang damai, mendadak Arash yang sedang tidur di gendongan Asha, menangis begitu keras. Seperti ada yang mengganggunya. Padahal sejak tadi semua orang terfokus pada bincang-bincang. Tidak ada satupun yang jahil menggodanya. Bahkan orang paling jahil pun, yaitu aunty Paris juga tidak mempedulikannya tadi.
Asha berdiri sambil menimang-nimang putranya agar tenang. Namun baby Arash tetap menangis. Ini tidak biasanya. Yang paling bisa menenangkan baby Arash adalah Asha, tapi kali ini berbeda. Bayi itu masih menangis saat di gendong bundanya.
Arga segera mengambil alih, tapi bayi ini tetap saja menangis. Walaupun Arga berusaha keras menimang dan mengelus putranya, bayi itu tetap menangis rewel. Semua panik. Bahkan omanya juga di tolak mentah-mentah oleh bayi itu.
"Kenapa sama uty tetap tidak mau. Bukannya sehari-harinya kamu sama uty?" tanya nyonya Wardah terheran-heran. Akhirnya baby Arash kembali pada gendongan bundanya. Namun tangis Arash tetap saja seperti tadi. Bahkan lebih rewel.
Paris mendekat sambil merapatkan kedua alisnya.
"Bayi ini rewel banget sih. Sudah tadi tidur dengan nyaman malah bangun. Begitu bangun, langsung nangis. Mau apaan sih, Arashhh ...," gerutu Paris geregetan. "Sini aku gendong," pinta Paris pada Asha.
"Sudah, biar kakakmu saja yang gendong. Sana temani Biema itu lho," ujar nyonya Wardah menasehati. Karena beliau sudah pernah di tolak cucunya jadi dia menyarankan gadis ini menyerah ingin ikutan
"Iya. Biar aku saja. Arash sedang bad, bad mood," kata Asha yang sibuk mengayun-ayunkan tubuh putranya agar berhenti menangis. Dia sengaja menolak bantuan dari adiknya. Karena ini tidak biasa, sepertinya sulit meredakan tangisan Arash. Jadi ia ingin menenangkan bayinya dengan usahanya sendiri. Tidak mau merepotkan orang lain.
"Kali ini tidak segampang biasanya, Paris," kata Arga memperingati. "Sudah. Jangan membuat tambah parah tangisannya."
Bibir Paris menipis. Mencebik ke arah kakaknya.
"Enak aja. Enggak apa-apa kak Asha. Di coba. Kali aja mau," ujar Paris memaksa. "Sekalian nanti aku jahilin dia, biar tambah nangis," ujar Paris bercanda.
"Aku timpuk kamu kalau melakukan itu," ancam Arga geregetan sama adiknya.
"Hahahaha." Paris ketawa bercandaannya membuat kakaknya marah. Bagaimana tidak. Saat semuanya tidak bisa membuat bayi gembul Arash berhenti menangis, bahkan dirinya, Paris justru berkelakar.
Namun sungguh ajaib. Seketika bayi itu diam saat Paris baru mau menggendong.
"Eh, Arash diam," seru Asha terkejut. Semua juga ikut terkejut. Apalagi saat bayi itu kini berpindah pada lengan Paris. Memang suatu momen menakjubkan. Arash benar-benar diam. Meskipun masih ada sisa, tangisannya mereda.
"Kenapa jadi diam nih, bayi?” tanya Paris takjub dan terpana pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Hmm ... Arash maunya sama aunty-nya, nih ... Sering-sering aja gendongin Arash, Kak Paris," ujar Sandra yang bisa memanggil Paris dengan benar di depan keluarganya. Yaitu menempelkan embel-embel 'kak' di depan nama gadis itu. "Biar Kak Asha dan Tante Wardah beristirahat dari jadwal gendongin si Arash," kelakar Sandra yang di sambut tawa lainnya.
"Kenapa bisa berhenti nangis, putra ayah ini?" tanya Arga tidak percaya. "Padahal sama ayah tadi tetap rewel," keluh Arga pada putranya yang tenang di gendongan adiknya.
"Aku tidak tahu." Paris sendiri tidak percaya bahwa bayi itu memilih diam saat berada di dalam gendongannya. "Jadi aneh juga.
"Mungkin sudah waktunya buat Paris punya baby kali, ya ...," ujar mama Biema membuat gadis ini menoleh dengan cepat.
"Oh, mungkin. Bayi kan peka banget sama orang. Bisa jadi Paris memang sudah punya naluri keibuan yang bikin Arash betah," imbuh bunda membuat Paris mendelik.
Bayi? Aku? Yang benar saja ...
Paris meringis di dalam hati. Dia tidak tahu ada satu hati yang mendadak berdebar mendengar itu. Hati seorang lelaki.
Paris dan Biema tiba di apartemen saat matahari sudah tenggelam. Bersamaan dengan pulangnya keluarga Biema. Gadis ini langsung tiduran di atas sofa.
"Besok kamu kerja?" tanya Paris mendongak ke arah pintu kamar Biema yang dekat dengan sofa di depan tv. Pria itu masih belum masuk ke kamar. Dia masih memegang handle pintu. Karena Paris bertanya dia menoleh ke arah gadis ini sambil tersenyum.
Klik! Suara pintu kamar di kunci. Paris menoleh ke arah pintu dengan cepat. Lalu setengah tubuhnya berputar melihat pintu kamar yang sudah tertutup sepenuhnya.
Dia sudah mau tidur? Aku pikir masih ada sesi berbincang berduaan. Hhh ... suasana bagus tadi ternyata tidak membuat perbedaan besar dalam kehidupan di apartemen.
Paris membetulkan letak rebahannya. Kini ia kembali rebahan dengan benar sambil menatap langit-langit apartemen.
Klek!
Suara pintu kamar di buka membuat Paris bergerak melihat ke arah pintu. Pria itu muncul dengan kaos dalam warna hitam dengan lengan pendek. Kemudian berlalu menuju ke kamar mandi.
Paris kembali rebahan. Tangannya meraih remot televisi. Melihat secara acak tanpa ingin menontonnya. Hanya menemani dirinya yang tengah bosan. Mungkin sekitar 10 menit, Biema muncul dari balik kamar mandi. Harum wangi sabun semerbak dari tubuhnya. Paris melirik. Pria itu masuk lagi ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Biema terlihat mondar-mandir kebingungan.
"Kenapa sih, dia? Apa aku tidur aja, ya ... Bukannya hari ini belum istirahat." Terdengar nada pesan masuk di ponselnya yang tergeletak di atas meja. Tangannya meraih dan membuka kunci layar. Rupanya dari operator. Masa aktif data selular di ponselnya mau habis.
Suara pintu di buka terdengar. Biema sudah rapi dan keluar dari kamar.
"Mau makan?" tawar Biema. Suaranya terdengar aneh.
"Enggak. Aku sudah kenyang. Kamu mau kemana?" tanya Paris heran. Pria ini terlihat rapi.
"Aku mau keluar sebentar," ujar Biema dengan suaranya terdengar makin aneh. Paris bergerak berdiri menghampiri Biema. Ada yang aneh dengan pria ini. Suara pria ini mendadak menjadi serak dan sengau. "Ada apa?" tanya Biema melihat Paris bertingkah aneh. Kaki Biema mundur saat gadis ini mendekatinya.
"Kamu enggak enak badan, Biem?" tanya Paris terkejut. Alisnya menyatu.
"Enggak. Aku tidak apa-apa."
"Suara kamu serak."
"Hanya sedikit pilek. Aku keluar sebentar."
"Di luar hujan."
"Enggak. Sudah reda." Suara hujan tidak lagi terdengar di luar. Itu menandakan hujan sudah reda.
"Baiklah. Hati-hati." Biema mengangguk.
"Tidurlah jika sudah mengantuk. Bukannya tadi sudah seharian di rumah sakit?"
"Ya. Sepertinya aku mengantuk." Paris setuju. Karena dia memang sempat berkeinginan seperti itu. Biema keluar dari pintu meninggalkan Paris.
"Memangnya dia mau kemana sih?" ujar Paris penasaran. "Ah sudahlah. Aku ngantuk. Tapi ... sepertinya mandi air hangat dulu enak. Badanku lengket. Tidur bisa nyenyak jika tubuhku bersih." Paris segera menuju ke kamar mandi dengan riang. Lalu menyalakan air dan memenuhi bathup dengan air panas.
__ADS_1
Sebelum mandi, Paris sedikit bermain-main dengan air. "Hangat ... Enak nih, nanti mandinya." Paris bersemangat. Segera ia masuk ke dalam bathup yang sudah berisi air panas. Hawa dingin di luar membuat mandi air hangat begitu menenangkan.