
"Food truck?" tanya Biema tidak percaya.
"Ya. Emm ..." Juna melihat ke arah ponselnya sebentar. "Bukannya Anda, yang memesan truk ini atas nama istri Anda, Paris?" Juna berusaha memenangkan jiwa Biema yang sedang membara karena jealeous.
"Oh, food truck ini yah ... " Fikar langsung paham setelah melihat seragam yang di pakai Juna. "Perintah yang kamu berikan padaku tadi," bisik Fikar. "Aku lupa memesan memakai nama kamu. Lalu aku ganti dengan nama Paris."
"Jadi food truck ini darimu, Biem?" seru Paris takjub. Biema menoleh pada istrinya. Mata Paris berbinar. Sesaat Biema juga senang melihat binar indah itu.
"Ya. Aku sengaja memesan untuk kamu." Biema langsung membusungkan dada. Semua murid masih menyempatkan melihat sosok Biema. Mereka masih takjub dengan kisah Paris dan Biema.
Guru-guru yang muncul di dekat truk makanan ini melihat kedatangan Biema.
"Wah, Pak Biema!" Mereka berbondong-bondong ikut mendekat. Biema yang tadinya akan mengintimidasi Juna karena dekat dengan Paris tidak jadi. Fikar juga jadi serbuan mereka. Juna lolos. Dia aman sejenak karena perhatian Biema teralihkan oleh para guru.
"Suamimu cemburu," ungkap Juna pelan.
"Ke kamu?" tanya Paris mengerutkan kening seraya menoleh ke Juna. "Benarkah?"
Biema masih di sibukkan oleh para guru yang mencoba bersikap tahu diri sudah di beri makanan gratis dengan porsi sesuka hati. Biema menggeram dalam hati melihat interaksi Paris dan Juna yang berlanjut. Dia tidak bisa menolak berbincang dengan para guru karena nanti mendapat kesan buruk. Sementara Juna dan Paris masih mengobrol dengan nyaman.
Sepertinya Juna tahu saat ini Biema berusaha mencuri pandang ke arah Paris dan dirinya. Tatapan tajam itu terus saja mengawasinya di sela-sela bincang-bincang mereka. Bocah tengil ini tahu dan sengaja mengerjai Biema.
"Masa' enggak tahu sifat posesif suami, sih?" tegur Juna meremehkan.
"Bukan begitu. Cemburu ke kamu kan percuma," kilah Paris. Bibirnya menipis mengejek Juna.
"Namanya juga posesif, Non. Kadang ngawur juga cemburunya. Lagian kamu enggak peka banget sih?" tanya Juna jadi gemas sama iparnya.
"Bukan enggak peka. Kamu gitu lho di cemburuin. Standar pria tampanku kan jadi turun," ejek Paris sambil mencibir.
"Kampret," umpat Juna. Paris dan Sandra tertawa. Bola mata Biema mendelik melihatnya.
Parissss ....
"Eh, Pak Biema kenapa?" tanya seorang guru yang sempat melihat mata pria ini melebar. Fikar melihat ke arah Biema karena mendapat pertanyaan itu.
__ADS_1
"Ya?" tanya Biema sambil senyum setelah tadi segera merapikan raut wajahnya yang terlihat gusar.
"Oh, tidak. Anda terlihat tertekan tadi. Itu bukan karena kita banyak bicara, kan?" tanya para guru itu.
"Oh, tidak." Biema masih mencoba bersikap ramah meski hatinya kali ini ingin marah.
"Ternyata kakakmu pencemburu berat," ujar Juna memberitahu Sandra dengan wajah horornya. Dia menjauh dari sisi Paris agar selamat.
"Memang," timpal Sandra seraya tersenyum geli. "Dia belum tahu kamu. Makanya begitu."
"Ngeri. Aku mau bantu mereka saja," ujar Juna kepada teman-temannya. Aku mau kabur."
"Ya. Kabur saja." Sandra setuju.
"Terima kasih, ya Pak ..." ujar para guru menyelesaikan perbincangan mereka.
"Ya. Sama-sama," sahut Biema menanggapi. Setelah melayani sapaan para guru, Biema kali ini fokus lagi ke arah istrinya yang menoleh ke arah lain. Gadis itu sedang menyaksikan saudara iparnya kabur. Biema tidak lagi melihat pria itu di dekat Paris. "Kemana dia?" tanya Biema seakan mencari seorang pencuri yang lolos dari pandangannya.
"Dia sudah menyibukkan diri," kata Paris.
"Biema, dia itu ..."
"Maaf Biem," potong Fikar pada kalimat mereka. Biema langsung menoleh dengan wajah ingin melahap dirinya. Fikar mengumpat dalam hati. "Kepala sekolah ingin bertemu denganmu. Beliau sekarang ada di ruangannya."
"Aku masih bicara dengan istriku," tolak Biema dengan rasa menahan marah.
"Kalian bisa bicara nanti, tapi kepala sekolah mungkin tidak punya waktu lagi." Fikar memberi nasehat. Biema mengerjapkan mata kesal karena tidak punya pilihan lagi untuk memilih berbicara dengan istrinya sekarang.
"Oke. Baiklah. Kita akan menemui kepala sekolah." Mata Biema menuju ke arah Paris.
"Denganku?" tanya Paris tidak percaya.
"Tentu saja denganmu, Paris. Kalian kan pasangan suami istri. Temani Biema ke dalam menemui bapak kepala sekolah." Sandra harus membuat mereka berdua bersama. Jika tidak, kakaknya akan terus saja memakai laser matanya.
"Hhh ... Baiklah." Biema dan Paris melangkah di ikuti Fikar di belakang mereka menuju ke ruang kepala sekolah.
__ADS_1
Priski yang sejak tadi ada di sana terus saja melihat ke arah mereka dengan tidak suka. Dia tidak mendekat sama sekali ke truk makanan karena tahu itu dari Paris. Kini ia lebih tertarik pada Juna yang sedang tersenyum melayani orang-orang.
"Aku harus mendekati dia. Mungkin aku bisa mendapatkan informasi soal Paris." Gadis ini melangkah menuju truk makanan guna mendapat waktu bicara dengan Juna. Sandra yang kini menjauh dari sana tidak tahu sama sekali soal Priski yang mendekati Juna. "Halo," sapa Priski manis. Juna yang sedang mengisi ulang piring dan mangkuk kertas menoleh. Matanya melebar sekilas.
"Ya? Ada yang bisa di bantu?" tanya Juna ramah.
"Aku lihat tadi kamu sedang bicara dengan seorang cewek." Juna terdiam sejenak. Bola matanya mengerjap. "Paris."
Rupanya Paris. Akhirnya dia mendapat jawaban.
"Ya. Ada apa dengan dia?" tanya Juna masih ramah.
"Kamu siapanya dia?" Pertanyaan aneh menurut Juna, tapi Juna membiarkan. "Kamu mantannya dia?" Juna hanya tersenyum mendengar pertanyaan baru.
"Lalu kamu siapanya Paris?" Juna ikut bertanya menirukan pertanyaan Priski tadi.
"Aku? Tentu saja temannya." Priski sepertinya terkejut mendengar pertanyaan dari cowok ini. Namun dia segera menjawab.
"Benarkah?" tanya Juna yang sadar bahwa gadis di depannya pasti bukan teman iparnya itu.
"Tentu saja." Priski membetulkan rambutnya.
"Aku rasa jika kamu benar-benar teman dekat dia, kamu tidak akan bertanya siapa aku."
"K-kenapa? Kalian selingkuh?" tanya Priski makin membuat Juna yakin. Bibir adik Asha ini tersenyum geli. Bagaimana tidak? Tadi saja Paris sudah mengejeknya kalau dia tidak pantas bersaing dengan Biema, sekarang cewek ini justru menyimpulkan bahwa mereka selingkuh.
"Kesimpulan mu ini makin menunjukkan kamu memang benar bukan teman Paris." Kening Priski mengerut. "Paris itu bukan gadis kepo. Itu sangat jauh dengan kamu yang terlihat begitu ingin tahu soal orang lain. Seperti sekarang. Kamu mendekatiku hanya ingin tahu soal dirinya. Padahal jika memang seorang teman, kamu tidak perlu mencari tahu siapa aku. Apalagi dengan pertanyaan tidak berkelas seperti itu."
"Sebagai cowok, Kamu banyak bicara juga ya." Priski mendengus sebal.
"Aku perlu bicara banyak untuk menyadarkan kamu. Jangan pernah sekali-sekali mengulang pertanyaan seperti tadi. Itu terdengar seperti kamu menunjukkan sendiri pada orang lain kamu seperti apa. Bicaralah hal baik. Orang lain akan menilai kamu baik juga dari omongan yang keluar dari mulut kamu."
"Huh. Sok bijaksana." Priski menjauh. Juna menghela napas.
"Wajah cantik, tapi mulut dan hati burik. Jadi sia-sia punya wajah begitu. Kasihan sekali dia ..." ujar Juna yang menyayangkan kombinasi tidak tepat itu. Karena dia sempat senang tadi di sapa seorang gadis cantik.
__ADS_1