Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Suasana di ruang baca


__ADS_3


"Kamu membawakan sesuatu untukku, Paris?" tanya Biema berusaha menetralkan suasana. Dia ingin kebekuan Paris mencair. Sesaat Paris hanya terdiam. Dia mendengar saat Biema bertanya padanya, tapi bibirnya bungkam tidak menjawab. "Paris?" tegur Biema sekali lagi. Lebih lembut daripada tadi.-


"Ah, iya," sahut Paris akhirnya. Dia sadar dari kebekuan barusan. "Aku membawakan camilan dan es buah untukmu dan Mela." Mela melirik sebentar mendengar namanya di sebut. Paris berusaha bersikap wajar. Biema diam sejenak melihat raut wajah gadis di depannya.


"Masuklah." Biema mengambil nampan dari tangan Paris dan mendorong pelan bahu gadis ini untuk masuk. Paris setuju untuk mengikuti perintah Biema. Langkah Paris mengajak tubuhnya untuk duduk di depan Mela.


Biema meletakkan nampan di atas meja. Situasi mereka hampir sama dengan pertemuan di ruangan Biema waktu itu. Hanya saja kali ini dengan posisi Mela tahu bahwa Paris adalah istri Biema.


"Aku membawakan es buah untukmu," ujar Paris seraya tersenyum pada Mela.


"Ya. Terima kasih."


"Kalian masih membicarakan pekerjaan?" tanya Paris sambil menoleh pada Biema dan Mela bergantian.


"Belum. Kita belum membicarakan pekerjaan," ujar Biema menyahuti. Dia sadar gadis ini pasti mendengar sebagian atau bahkan seluruh pembicaraan Mela dengannya.


"Jadi belum ya? Kalau begitu aku tepat berada di sini sekarang. Di saat kalian belum mulai membicarakan pekerjaan." Paris mengatakan dengan wajah tanpa dosa. "Aku jadi bisa ikut ngobrol dengan kalian. Benar kan Biem?" Paris menoleh pada Biema. Ada kilat tajam di tatapan mata gadis ini.


"Aku rasa, aku dan Mela tidak perlu basa-basi disini untuk membicarakan hal lain selain pekerjaan, Paris." Biema tidak setuju.


"Aku tahu kamu tidak setuju, tapi aku rasa Mela setuju. Sepertinya dia ingin kamu mengatakan sesuatu padaku tadi." Suara Paris terdengar tegas dan geram. Ada sebuah provoksai di sana. Paris sengaja menantang Mela untuk berbicara terbuka soal pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Paris ...," mohon Biema. Dia tidak ingin memperpanjang soal dia dan Mela.


"Jadi, kamu mendengarnya?" tanya Mela.


"Mela!" hardik Biema. Dia tidak menyangka Mela termakan tantangan Paris. Wanita ini menggiring Paris untuk masuk dalam perbincangan yang selama ini tersembunyi. "Apa tujuanmu melibatkan Paris dalam perbincangan kita yang tidak penting?" tanya Biema mulai marah.


"Mela tidak melibatkan aku, Biem. Namun aku sendiri yang sengaja ikut terlibat dalam perbincangan soal cinta kalian." Biema tertegun mendengar perkataan Paris.


Gadis ini sengaja menceburkan diri dalam keingintahuan Mela soal perasaannya yang tiba-tiba berubah. Dari mencintai Mela dan ingin mengajaknya menikah, hingga langsung menikahi Paris yang tidak ada riwayat perkenalan yang panjang bahkan cerita cinta.


"Ya. Aku mendengar perbincangan kalian." Paris tidak mengelak. Dia membenarkan bahwa dia mendengar semua isi pembicaraan mereka.


"Kamu tidak marah, Biema menikahimu hanya sebagai pelarian saja?" tanya Mela langsung tanpa basa-basi.


"Mela! Hentikan sekarang juga tingkahmu itu. Jangan membuat hubungan pertemanan kita hancur karena ulahmu!"


Biema di buat tertegun berkali-kali oleh gadis itu. Namun kali ini dia diam sambil mendengarkan gadis itu bicara. Sepertinya Paris bertekad melawan Mela.


"Namun, aku rasa ada orang yang jauh lebih tidak keren dari aku. Itu kamu. Kamu adalah orang yang paling ... paling ... tidak keren yang pernah aku temui." Kening Mela mengerut.


"Bukannya kamu sudah menolak Biema? Makanya dia berlari menghampiriku. Lalu sekarang apa? Kamu mendadak emosi dan ingin menuntaskan rasa ingin tahu dan keherananmu karena Biema tiba-tiba menikahiku yang masih sekolah. Padahal bisa di bilang baru saja Biema mengatakan ingin menikahimu." Meski tidak menunjuk dengan ujung jari secara langsung, Paris mengatakan itu seperti menunjuk-nunjuk ke arah wajah Mela.


"Jika kamu hanya merasa kecewa karena Biema ternyata bisa menghilangkanmu dari hatinya, lebih baik diam saja. Jangan mengumbar kekecewaan secara terang-terangan seperti itu. Itu menyedihkan," nasehat Paris yang lebih merujuk pada mencemooh. Mela membenarkan posisi duduknya. Kalimat Paris menohoknya.

__ADS_1


"Apakah dia mencintaimu? Apa kamu tidak ingin tahu, bagaimana sebenarnya perasaan Biema padamu?" tanya Mela yang masih punya stock pertanyaan. Biema menggeram kesal pada mantan wanita yang di cintainya.


"Itu bukan urusanmu. Berhenti menelusuri perasaanku dan Biema. Kalaupun kita berdua tidak saling mencinta, tapi akhirnya menikah. Kamu pun tidak perlu repot-repot untuk memberitahu kami bahwa pernikahan ini percuma. Tutup saja mulutmu dan urusi dirimu sendiri." Mela menutup bibirnya tanpa sadar saat Paris mengatakan dengan bengis.


"Cukup dan hentikan. Aku sudah berbaik hati membiarkan mulutmu terus saja meracau karena kita pernah berteman, Mela. Aku memilih tidak profesional dengan memutus perjanjian kerja sama kita, jika kamu terus saja seperti ini. Kamu bisa pergi sekarang." Biema langsung mengancam Mela yang terdiam merasa kalah. Dan itu lebih terasa karena lawan dia hanya gadis SMA. Biema menoleh pada Paris dan hendak mengatakan sesuatu. Namun Paris segera berdiri untuk menghindari.


"Jangan. Dia tidak harus kehilangan kerja sama denganmu. Aku rasa dia cukup tahu bahwa sekarang mulutnya tidak akan bicara sembarangan," ujar Paris mencegah Biema. Mela menghela napas. Kelihatan sekali dia sangat kesal dan malu. Namun rupanya kerja sama ini begitu berharga hingga Mela memilih diam di tempat dan tetap mendengarkan cemoohan Paris.


"Sudah cukup juga aku menjadi pengacau di perbincangan kalian. Silakan nikmati camilan dan es buah yang sudah di sediakan mama untuk kalian. Aku akan pergi." Paris berinisiatif terlebih dahulu. Biema berdiri dan mengikuti langkah Paris.


"Paris ..." Di balik pintu, Biema menangkap tangan gadis ini. Paris diam. "Jika kamu mengijinkan, aku ingin bicara banyak soal Mela padamu nanti. Sekarang aku akan cepat menyelesaikan ini, dan menyuruhnya pergi."


"Silakan selesaikan pekerjaanmu. Soal Mela jangan khawatir. Kamu tidak perlu menjelaskan. Aku sudah cukup melampiaskan kekesalanku padanya tadi. Aku lelah."


"Baiklah. Namun aku tetap harus mengatakan banyak hal padamu nantinya."


"Terserah. Biarkan aku istirahat saja." Biema melepas tangan Paris. Gadis itu pergi menjauhi ruang baca. Biema kemudian masuk lagi ke dalam dengan wajah lebih serius daripada pertama kali masuk.


"Aku harap kali ini pembicaraan kita benar-benar pekerjaan Mela. Jangan lagi menguji kesabaranku seperti tadi. Aku bisa bertindak lebih dari yang bisa kamu bayangkan selama ini." Biema langsung memberi ancaman.


"Aku sudah kalah telak Biema," ujar Mela sambil menatap lurus kedepan. Biema berjalan melangkah mendekat ke sofa. "Sebelum aku berada di ruangan ini, sepertinya aku sudah kalah oleh gadis itu. Paris. Gadis muda yang bersemangat. Berani mengambil langkah menikah muda denganmu yang belum tentu mencintainya." Mela mengatakan dengan sungguh-sungguh.


Biema mendengkus mendengar kalimat Mela.

__ADS_1


"Siapa bilang aku tidak mencintainya ..." ujar Biema.



__ADS_2