Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Satu figuran lagi


__ADS_3

Beberapa gadis mendekat ke arah Paris dengan wajah riang. Tangan mereka masing-masing membawa sebuah mangkuk dan piring kertas berisi berbagai makanan yang di sediakan oleh truk makanan yang ada di sana.


"Mmm ... Selamat ya, udah bisa ikut ujian susulan."


"Iya. Meskipun kemarin enggak bisa ikut ujian bareng kita-kita tapi sekarang udah bisa ujian juga."


Bermacam komentar seputar ujian susulan dan kasus dirinya di bahas. Bukan dengan nyinyir dan penuh dengan cemoohan, tapi dengan pujian dan rasa ikut bersedih layaknya keluarga.


Nih anak pada mabuk kali ya ... kenapa mereka tiba-tiba perhatian? Bukannya mereka dulu suka jelekin aku? tanya Paris tidak bereaksi mendengar kalimat-kalimat mereka.


Di pinggir lapangan, Priski menatap mereka geram.


"Sedih pasti ya, enggak bisa ikut ujian waktu itu," lanjut yang lain.


"Enggak. Enggak sedih. Kenapa sedih? Kan bisa santai di rumah sama suami. Bisa shopping dan spa. Iya kan Paris?" Paris hanya tersenyum datar saat mendengar mereka mengoceh sendiri.


"Bahagia bener dapat suami perhatian banget. Semua cewek pasti maulah jika cowoknya begitu."


"Suami? Yang tampan itu? Yang oke itu?" Semua berbicara tentang Biema. Paris menghela napas lelah.


"Terima kasih ya, Paris atas makanannya." Bermacam ungkapan terima kasih terlontar dari bibir mereka.


Mereka terlihat sangat bermuka dua. Waktu itu saja mereka beramai-ramai membully Paris karena gosip soal open BO. Terus heboh juga karena gadis ini ketahuan menikah. Sekarang giliran mereka dapat gratisan yang sepertinya mengatasnamakan Paris, mereka gencar kasih pujian.


Paris masih mencari biang kehebohan ini. siapa?


Mata Paris membola saat melihat Sandra dan seorang pemuda yang sangat ia kenal berdiri di dekat truk makanan. Juna. Adiknya Asha.


Kaki Paris segera di percepat untuk mendekati mereka.


"Kenapa kamu di sini?" sembur Paris pada saudara iparnya.


"Kenapa?"


"Kenapa-kenapa. Ini jam sekolah tahu."


"Terus?" tanya Juna santai.

__ADS_1


"Sekolah kamu gimana?"


"Kan udah selesai ujian."


"Dia belum selesai ujian, Jun. Makanya lupa kalau kita ini sudah bebas." Sandra memberi informasi. Paris mencebik.


"Eh, masih ujian? Kenapa?" Juna jelas heran.


"Dia ketahuan berstatus menikah oleh pihak sekolah. Jadi sempat di D.O gitu," ungkap Sandra.


"Jadi nikahnya masih lanjut nih sama kakak kamu?" tanya Juna di seperti sedang mencibirnya. "Aku pikir sudah bubar." Setahu dia gadis ini benci banget saat di jodohin sama Biema.


"Ya iyalah lanjut. Gimana sih, kamu," sembur Paris. Juna terkekeh.


"Sekarang terlihat beda." Juna mengamati saudara iparnya dengan seksama.


"Apaan? Makin cantik, kan?" canda Paris.


"Bukan," jawab Juna.


"Jadi Paris enggak cantik, Jun?" tanya Sandra.


"Lagak kamu," cibir Paris tapi senyum juga.


"Kamu terlihat sedikit lebih tua daripada terakhir kita ketemu."


"Apa? tua?!" sembur Paris.


"Kan biasanya gitu. Saat yang laki nikah sama yang muda. Pasti suatu saat si wanita ngikut tuanya. Padahal si laki ini tetep. Enggak nambah tua, tapi si istrinya malah serasa seumuran."


"Sialan," maki Paris sambil meninju lengan Juna, tapi itu cowok jago menghindar rupanya. Juna terkekeh lagi. "Terus kamunya ada perlu apa di sini?"


"Bekerja."


"Bekerja? Kerja apaan yang pakai main ke sekolah orang. Lagipula kamu tidak tinggal di sini bukan?" tanya Paris masih ingin tahu kenapa cowok ini ada disini. "Aku kasih tahu kak Asha, lho. Biar bapak tahu," ancam Paris.


"Jangan pakai mengadu segala, dong." Juna protes tidak setuju. Dagu Juna menunjuk ke arah truk makanan yang ada di dekat mereka.

__ADS_1


"Ini? Maksudnya?" Paris masih tidak paham.


"Dia jadi pekerja paruh waktu di truk makanan ini." Rupanya Sandra sudah mendapatkan informasi terlebih dahulu karena dia yang sudah bertemu dengan Juna sejak tadi. Paris mengangguk. Akhirnya dia mengerti.


"Kok enggak bantuin?" tanya Paris heran. Karena bocah ini hanya berdiri mengamati saja bak mandor.


"Aku hanya jadi sopir. Bukan pekerja seperti mereka." Ada dua orang lagi yang ada di sana melayani siapa saja yang mau mengambil makanan. "Bukannya truk ini kiriman atas nama kamu?" tanya Juna heran.


"Aku tidak tahu." Paris melihat food truk dengan pandangan asing. "Jangan bilang ini semua belum di bayar, Jun." Tiba-tiba Paris panik. Jika memakai namanya, apakah tagihan juga akan memakai namanya?


"Tidak. Semua sudah di bayar lunas."


"Bagus. Aku bisa lega."


"Aku juga heran sih kok kaya kenal nama ini. Ternyata ini sekolahannya kalian, toh."


"Namun aku masih ingin tahu orang mana yang berbaik hati memberikan makanan pada mereka?" Paris mengedarkan pandangan ke anak-anak yang asyik makan. Guru-guru yang datang ingin mengambil makanan juga tersenyum seraya mengucap terima kasih.


"Mm ... Sebentar. Aku punya informasi soal siapa yang mengirim ini memakai nama kamu." Juna membuka ponselnya. Dari arah lorong luar terdengar hiruk pikuk yang tidak biasa. Sandra menoleh lalu tersenyum.


Paris sendiri masih berdiri menunggu Juna mencari informasi soal siapa sebenarnya yang memesan truk makanan itu. Karena begitu penasaran, tubuh Paris mendekat ke Juna hingga bahunya bersinggungan.


"Mananya yang di lihat, Jun?" tanya Paris menggebu. Hingga lengan Juna terdorong berulangkali.


"Tunggu sebentar, dodol," ujar Juna kesal. Dia jadi geregetan sama saudara iparnya ini. Selain karena tangan Paris jadi ikut-ikutan menyentuh layar ponsel miliknya, tubuhnya jadi harus menahan beban berat tubuh Paris. Lantaran gadis itu meletakkan setengah beban badannya pada bahu Juna.


"Enggak bisa nunggu, Jun. Kali aja itu dari pemuja rahasiaku. Aku kan enggak bisa menerima hadiah sembarangan," kata Paris membuat jari-jari cowok itu berhenti.


"Mimpi kali. Pemuja rahasia apaan?" ejek Juna sambil mendorong tubuh Paris menggunakan bahunya.


"Dia tidak mimpi. Aku adalah pemuja gadis itu," ujar Biema dengan posesif yang menggelikan. Juna dan Paris mendongak bersamaan. Muncul pria itu dengan couple kesayangannya tentunya. Dia fikar. Berdiri di sebelahnya.


Sandra menutup bibirnya menahan senyum geli. Paris melebarkan mata. Sementara Juna tidak banyak reaksi karena belum tahu siapa pria ini. Dia hanya mengenal Biema lewat nama dan ceritanya saja.


"Biema ...," ujar Paris terperangah kaget. "Kenapa kamu ada di sini?" tanya Paris masih tidak percaya pria ini muncul.


"Untung saja aku segera datang ke sekolah. Sepertinya aku datang tepat waktu," ujar Biema yang entah kenapa sangat dingin. Sedingin kutub Utara.

__ADS_1


Tepat waktu? Tepat waktu karena ini jam pulang? Begitukah? Tapi kenapa itu muka kaku banget. Bukannya kalau kita tepat waktu wajah itu bahagia? Ada apa dengannya ... Paris tidak mengerti arti wajah dingin itu.



__ADS_2