
Langkah Paris terhenti. Ia membalikkan badan untuk menoleh ke asal suara. Itu Biema. Pria ini makin tampan dengan setelan jas abu-abunya. Asha urung mendekat
"Biema," ucap Paris terkejut.
"Aku sudah menunggumu lama, tapi ternyata kamu lebih tertarik dengan yang lain." Bola mata Biema bergerak menunjuk ke arah Lei yang sibuk dengan beberapa orang. Bola mata gadis ini nanar. Ia tahu sudah membuat suaminya salah paham.
"Bukan. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Bukan seperti itu, aku ..." Biema mendekat dan menangkap tangan istrinya yang panik.
"Aku tahu," sahut Biema menenangkan. Menggenggam tangan istrinya dengan erat. "Aku tahu apa yang kamu maksud."
"Tahu? Benarkah?" tanya Paris ragu. Sudah jelas Biema menyoroti Lei dengan tajam meski sekilas tadi. Namun ia segera memfokuskan perhatian pada suaminya.
"Aku tahu kamu tidak bermaksud mendekati Lei dengan tujuan tertentu." Sepertinya perlahan semua tamu mulai mengalihkan perhatian pada mereka. Paris terkejut. Ada bunda dan ayah bersama si gembul Arash. Kakak tersayangnya juga sedang tersenyum ke arahnya disana. Mama Biema dan papa juga tersenyum senang melihat kearahnya. Jadi ... Sandra pasti ada disini. Tidak jauh dari mereka, Juna mengangkat tangan menyapa dirinya. Bersama dengan sobat sekaligus iparnya, Sandra.
"Biem ... Sebenarnya ini pesta apa? Ini pesta siapa? Kenapa semua orang yang berhubungan denganku ada di sini?" bisik Paris masih dengan tatapan bingung.
"Tenangkan dulu dirimu."
"Aku tidak tenang karena kebingungan dengan semua ini, Biema." Biema menghela napas.
"Maaf, rupanya kejutan ini terlalu berat untukmu. Padahal aku pikir ini kejutan yang tepat." Biema merasa bersalah.
"Kejutan? Kejutan apa?" tanya Paris cepat. Biema tersenyum menang.
"Pesta ini untukmu Paris."
"U-untukku?" tanya Paris hingga tergagap.
"Ya. Selamat ulang tahun, Paris ...," ujar Biema sambil mengecup punggung tangan istrinya. Seperti mendapat kode, perlahan sebuah kue tart tinggi menjulang muncul di tengah-tengah mereka. Tepuk tangan bergemuruh di rumah makan yang ternyata sudah di booking oleh Biema.
__ADS_1
"Biem ..."
"Ya. Aku tahu ini hari bersejarah mu. Hari kamu di lahirkan di dunia untuk bisa bertemu denganku," ujar Biema membuat mata Paris nanar. "Sekali lagi selamat ulang tahun, sayang ..." Paris langsung masuk dalam lingkaran lengan Biema yang kuat. Pria itu memberi pelukan hangat. Karena terjadi banyak hal, Paris lupa akan hari lahirnya. Ia tidak ingat sama sekali akan hal itu.
"Cium! Cium!" teriak teman-teman sekolah Paris heboh. Bola mata Biema melirik ke arah para undangan yang heboh itu.
"Cium? Mereka tidak tahu saja bahwa tanpa di suruh pun aku akan menciummu. Bahkan bisa melakukan lebih dari itu jika saat ini kita hanya berdua di atas ranjang," bisik Biema membuat Paris merona.
"Jangan bicara sembarangan, Biem." Paris memukul dada pria ini.
"Tidak ada yang dengar. Aku hanya berbisik lirih untukmu ..." Biema mulai mencium bibir istrinya yang membuat teman-teman sekolah menjerit kegirangan. Arga memeluk istrinya yang sudah bergabung dengannya. Kembang api bermunculan. Berisik dan memekakkan telinga. Namun menambah keseruan pesta malam ini. "Ada satu hal lagi yang ingin aku bagikan pada semua," kata Biema setelah ciumannya usai.
"Apa? Kejutan lagi?" tanya Paris waspada. Biema tersenyum.
"Buat kita sudah bukan kejutan lagi, tapi sebuah anugerah ... Namun bagi teman-teman kamu mungkin itu adalah sebuah kejutan yang mencengangkan." Biema membimbing istrinya menuju ke tengah pesta.
"Apa?" tanya Paris ingin tahu lebih cepat.
Awalnya sempat terlintas dalam benak mereka bahwa kemungkinan Paris hamil saat masih sekolah dan sebagainya. Namun pikiran itu lenyap perlahan saat kembang api kembali pecah di tengah pesta.
"Mereka kan menikah, jadi wajarlah kalau hamil."
"Ya ... menikah kan juga ingin punya anak."
"Lagipula Paris sudah lulus. Apalagi? Ya udah. Mau lahiran sekarang juga enggak apa-apa."
Berbagai pikiran positif mulai memenuhi benak mereka. Suasana pesta yang di penuhi makanan mewah membuat mereka terhanyut dan tidak peduli lagi dengan pikiran untuk menggosip. Pesta ulangtahun tanpa menerima kado ini sungguh-sungguh menyenangkan. Mereka datang gratis tanpa syarat apapun.
**
__ADS_1
"Sepertinya ulang tahunku tidak pernah seheboh ini sebelumnya," ujar Paris yang berdiri di pinggir bersama Biema merasa benar-benar surprise.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah mengadakan pesta atau semacamnya. Ini tidak biasa, tapi aku suka." Biema menatap raut wajah Paris yang mengatakan ia bahagia. "Terima kasih sudah menyiapkan ini semua."
"Bukan masalah. Aku memang harus selalu memberi kejutan yang membahagiakan istriku." Paris memeluk Biema.
"Terima kasih sudah jadi suamiku, Biem ... Meski awalnya kita saling membenci, tapi membuka hati ternyata lebih baik."
"Kata siapa aku membencimu?" tanya Biema membuat kepala Paris mendongak.
"Bukannya kita di jodohkan tanpa cinta?"
"Meski begitu, bukan berarti aku benci kamu. Tidak."
"Lalu?"
"Tentu saja aku mengiyakan perjodohan itu bukan tanpa sebab. Aku setuju karena aku tahu mungkin denganmu aku bisa membuka hati." Paris tergelak mendengar ungkapan hati suaminya.
"Iya, iya. Aku memang pelarian yang tepat," canda Paris. Biema tidak suka candaan itu. Ia meraih dagu Paris dan mendekatkan tubuh itu padanya. Bibir Paris terdiam karena melihat sorot mata serius tapi lembut milik Biema.
"Kamu bukan tempat pelarian. Kamu adalah tempatku pulang." Biema mencium bibir istrinya dengan lembut. "Aku mencintaimu, Paris."
.......
.......
.......
__ADS_1
...T A M A T...
...Terima kasih untuk yang pernah baca, vote, like, komen dan mendukung cerita Paris dan Biema. Juga buat yang sering DM buat nanya kapan up dan kasih support. Kalian semua penyemangat ku. Maaf sempat menghilang😅....