Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Melindungi suami


__ADS_3

Biema mendaftarkan nama Paris untuk mendapat kartu member. Meskipun ia tidak begitu suka game, ia terbiasa menemani orang lain untuk bermain.


"Aku mau main game apa, ya ..." ujar Paris berpikir sambil memegang kartu member yang sudah ada di tangannya. Bola matanya melirik ke arah dua orang yang baru saja masuk ke game center ini. Mata Paris sedikit melebar melihat Mela muncul bersama Fikar. "Kenapa dia bareng Fikar?" gumam Paris membuat Biema mendengar itu dan bertanya.


"Fikar? Ada Fikar?" Kepala Biema melihat ke sekeliling. Saat itu ia menemukan Fikar dan Mela. Matanya tertancap di sana. Sekarang mereka tidak sedang dalam waktu bekerja, kenapa bisa mereka bersama?


"Hai!" sapa Fikar tidak menyangka bahwa akan bertemu Biema dan istrinya di tempat ini. Ia tahu bahwa pria ini bukan penyuka game seperti dirinya. "Aku tidak berpikir akan bertemu denganmu di sini, Biema ..." Pria ini mengatakannya dengan wajah takjub. Paris yang awalnya sudah akan menggesek kartu membernya untuk bermain menjadi urung melihat kemunculan mereka.


"Suka main game? Bukannya kamu penyuka buku daripada hal seperti ini?" tanya Mela heran.


"Itu aku. Dia menemani aku untuk bermain," ujar Paris yang dalam sekejap berada di damping Biema dan melingkarkan tangannya pada lengan Biema. Pria ini tersenyum ke Istrinya.


"Oh, aku hampir lupa bahwa Biema selalu bersama istrinya. Halo Paris." Mela tersenyum menyapa. Paris menganggukkan kepala menerima sapaan Mela.


"Sungguh aneh melihat kalian berdua datang ke tempat ini bersamaan?" kata Paris masih tetap dengan lengan Biema yang di peluknya erat. Bibir Biema tersenyum saat melirik ke lengannya. Pria ini senang.


"Kita tidak datang bersama. Hanya tidak sengaja," ralat Mela.

__ADS_1


"Ya. Dia terlihat sedang sendirian di cafe sana. Jadi aku memintanya ikut denganku," ujar Fikar menunjuk ke arah luar game center. Rupanya mereka bisa bersikap informal saat di luar jam kerja.


"Aku hanya tertarik saat orang ini bilang mau main game. Selama ini aku tidak pernah menyentuh sekalipun mesin game." Saat mengatakan ini Mela terlihat memang saat ingin tahu. Paris yakin Mela tidak berbohong. Namun ia tetap tidak ingin melepaskan lengan Biema. "Sepertinya kamu takut seseorang mengambil suami mu," sindir Mela seraya melirik ke arah lengan Biema.


Paris menipiskan bibir sejenak mendengar sindiran itu. Biema hendak mengatakan sesuatu saat bibir Paris sudah lebih dulu bicara.


"Ya. Suamiku bukan pria biasa. Dia istimewa. Sangat istimewa. Jika mata perempuan melihat dia sendirian, aku yakin mereka tidak akan segan untuk mendekatinya. Bahkan untuk perempuan yang bersikap seakan tidak peduli sekalipun, aku harus tetap waspada. Karena bisa saja mereka lebih ganas daripada perempuan yang sengaja menunjukkan ketertarikannya," balas Paris dengan senyuman manis di bibirnya. Biema terkejut dengan kata-kata istri kecilnya.


"Cih," decih Mela merasa akan panjang jika menanggapi kata-kata Paris. Lalu ia berjalan mendekati Fikar yang baru saja datang dari tempat mengisi kartu membernya. Kepala Paris mengikuti perempuan itu hingga sudah agak jauh dari tempat Biema berdiri.


"Huh," cibir Paris menang. Dia tidak sadar sedang di perhatikan Biema. Saat akan melepaskan pelukannya, Biema mencegah.


"Apa?" tanya Paris tidak sadar sudah membuat suaminya terpana oleh kalimatnya.


"Suamiku bukan pria biasa. Dia istimewa," ulang Biema perkataan Paris tadi. Mendengar ini, Paris tersadar dia sudah bersikap posesif. "Apakah aku begitu istimewa?" tanya Biema dengan tatap mata berkilat penuh cinta di sana.


"Eh ... itu ... Itu tentu saja," ujar Paris mendadak tersipu. "Sudah. Lepasin tanganku. Aku mau main game," pinta Paris seraya memberontak pelan. Karena Biema mengunci pelukan tangan Paris pada lengannya.

__ADS_1


"Tidak semudah itu. Bukannya kamu memelukku karena ada Mela?" tanya Biema membongkar alasan Paris memeluknya.


"Enggak juga."


"Oh, ya? Bukannya barusan kamu cemburu melihat kedatangan dia?" Dagu Biema menunjuk Mela yang sedang berusaha bermain game meski tidak ahli.


"Bukan cemburu. Hanya bersikap sewajarnya saja sebagai perempuan yang sudah bersuami," elak Paris.


"Jadi ... seorang istri memang harus begitu?" goda Biema.


"Memangnya kamu lebih senang kalau aku biasa saja saat cinta pertama kamu itu datang? Kamu ingin aku membiarkanmu bicara sebebasnya dengan Mela? Begitu?" semprot Paris tidak terduga. Biema bukannya diam. Pria ini justru tergelak mendengar istrinya geram.


"Enggak. Aku suka Paris yang berapi-api seperti tadi. Aku mencintai istriku yang bersemangat menjauhkan semua perempuan yang terlihat akan mendekati suaminya," bisik Biema membuat Paris tersenyum kemudian.


"Udah ah. Aku mau main game." Setengah menyeret Biema, Paris menuju ke mesin arcade di sebelah kanan Fikar. Melihat mereka berdua bergandengan, Mela mendengus.


"Kenapa? Enggak suka, lihat orang bahagia? Cemburu?" tegur Fikar menyebalkan.

__ADS_1


"Jangan konyol. Aku tidak melihat Biema itu sebagai pria. Dia adik buatku. Adik yang tampan," protes Mela.


"Aku pikir kamu cemburu karena melihat Paris berhasil membuat Biema mengalihkan pandangannya hanya padanya," ujar Fikar.


__ADS_2