
“Mama!”
Mendengar suara Biema yang terdengar setengah panik, dua perempuan di dapur menoleh bersamaan.
"Kenapa mengajak Paris masak di dapur, Ma?" tanya Biema tidak setuju. Kakinya melangkah cepat menuju ke meja dapur. Mama langsung ikut panik.
"Mama ..."
"Itu aku, sayang. Aku yang memaksa ikut mama untuk memasak." Paris langsung pasang badan untuk mertuanya.
"Kenapa kamu ikut memasak? Kamu tidak boleh melakukan apa-apa sekarang. Nanti kamu mual dan muntah, sayang ..." Biema langsung mendekat dan mencubit hidung Paris dengan gemas. Mama tersenyum.
"Soalnya itu ..." Paris melirik ke arah persiapan memasak di atas meja.
"Jangan bilang kamu enggak enak sama mama," tebak Biema. Dia tahu alasan Paris sebenarnya.
"Enggak enak sama Mama?" Mendengar itu mama terkejut. Paris panik. "Kenapa enggak enak sama, Mama? Mama enggak apa-apa, kok."
Paris meringis karena ketangkap basah.
"Iya. Karena mama memasak untuk Paris, dia merasa enggak enak kalau enggak membantu. Makanya dia memaksakan diri untuk membantu," ungkap Biema membeberkan semuanya. Dan itu bukan bohong. Itu benar.
Paris menyenggol lengan Biema karena mengungkap semuanya. Bibirnya mengerucut.
"Aduh menantu Mama ..." Mama mendekat ke Paris. Wajah Paris langsung dibuat normal. "Manis banget." Kini giliran pipinya yang di curi oleh jari-jari mertuanya. "Mama enggak butuh bantuan kamu meski Mama masak buat kamu." Tangan beliau mengelus lengan Paris penuh sayang.
__ADS_1
"Seperti yang aku bilang," ujar Biema bangga. Paris mendelik sekilas padanya.
"Lagipula ini masakan gampang." Mama menjentikkan jarinya. "Mama bisa masak dalam waktu yang singkat. Jadi kamu enggak perlu repot-repot bantuin. Sudah sana. Ikut sama Biema. Kasihan dedek bayi ingin cepat makan ayam suwir," kata mama sambil mengelus perut Paris.
"Iya. Terima kasih lho, Ma."
"Ehh ... ini juga buat cucunya mama, kok. Ayo, bawa istrimu ke ruang tengah untuk istirahat," pinta mama pada Biema. Pria ini mengangguk.
***
"Ih, kamu kok gitu sih. Buka semuanya di depan mama?" sembur Paris saat mereka berdua sudah duduk di sofa.
"Kenapa?"
"Kalau iya, kenapa?"
"Ya janganlah. Kelihatan banget kalau kesininya bukan mau menjenguk orangtua, hanya karena mau minta di masakin. Apalagi ini malam. Kan aku jadi kelihatan jahat," kata Paris.
"Mana ada orang jahat menggemaskan seperti kamu," goda Biema. Tangan pria ini menowel dagu istrinya.
"Iya, tapi ..."
Biema langsung melahap bibir istrinya. Hingga Paris tidak bisa protes lagi karena bibir manis itu membungkamnya.
"Kita sedang di rumah mama," kata Paris setelah berhasil mendorong tubuh suaminya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Biema enteng, seakan itu bukan masalah.
"Jika ketahuan papa atau mama kita ciuman, aku malu banget tahu ..."
"Tanpa ketahuan ciuman pun, papa sama mama tahu kalau kita pernah melakukannya. Bahkan mereka tahu kita melakukan hal lain selain ciuman. Buktinya sudah ada janin yang ada di dalam perut ini." Biema mengelus perut istrinya. Paris memerah.
"Ih, kamu ini." Parsi mencubit perut Biema. Sampai pria ini tergelak renyah. Lalu menyandarkan tubuhnya pada badan sofa. "Kemana si Sandra? Kok sepi?" tanya Paris yang sadar adik ipar sekaligus sahabatnya itu tidak muncul.
Biema ikut melihat ke sekeliling.
"Mungkin jalan-jalan."
"Enak ya, dia masih bisa jalan-jalan. Kesana kemari tanpa takut di marahi suami," kata Paris.
"Kamu ingin jalan-jalan juga?" tawar Biema.
"Kok masih tanya? Seharusnya langsung ajak dong."
"Aku takut perut kamu kenapa-kenapa. Kalau memang mau, besok kita pergi jalan-jalan."
"Bukannya kamu kerja?"
"Ya. Aku akan luangkan waktu untuk kita berdua. Jalan-jalan. Kita akan kencan,” bisik Biema membuat Paris tersenyum.
______
__ADS_1