Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Biema cemas


__ADS_3

Di tempat kerja, Biema sedang gelisah. Pikirannya tidak tenang. Padahal harus saja mereka berpisah saat mengantar Paris sekolah.


Pria ini terus saja melihat arah jam dinding. Lalu menggeram pelan. Fikar yang ada di sofa ikut tidak tenang melihat temannya. Mendadak ia jadi takut.


"Kenapa? Apa pekerjaanku selama kamu tidak ada, salah?" tanya Fikar khawatir.


"Bukan itu. Pekerjaanmu sudah benar," jawab Biema. Lalu mendesah lelah sepintas.


"Lalu, ada apa dengan desah lelah barusan?" tanya Fikar lagi. Ia masih ingin tahu.


"Aku hanya sedang memikirkan istriku." Biema mendongak dan memilih berhenti melihat ke arah monitor.


"Ada apa? Baru saja kamu aktif bekerja, sekarang sudah ingin bertemu dengan istrimu. Sepertinya kamu tidak akan bekerja lagi karena selalu saja rindu pada istrimu," ejek Fikar.


"Istriku sedang hamil."


"Benarkah? Aku baru dengar berita bahagia itu." Fikar merasa surprise dengan kabar yang dikatakan Biema. "Jadi ... Dia akan segera menjadi seorang ibu?"


"Apa yang kau tanyakan? Itu tentu saja."


"Emm ... maaf jika menyinggungmu. Dia kan masih sekolah."


"Dia akan lulus sebentar lagi," potong Biema cepat.


"Oke. Apa dia baik-baik saja dengan kehamilannya?" tanya Fikar membuat Biema makin berpikir panjang.


"Aku rasa baik," sahut Biema tidak yakin juga.

__ADS_1


"Psikologisnya mungkin perlu adaptasi karena ini pertama kalinya. Dia harus menjadi seorang ibu saat dirinya masih belum menyelesaikan urusan sekolahnya. Sebaiknya kamu tanyakan tentang keadaan hatinya, di samping kamu juga harus mencemaskan kehamilannya," nasehat Fikar panjang. "Aku memang belum menikah, tapi aku rasa lebih baik kamu pikirkan soal kejiwaan Paris. Mungkin dia belum siap menghadapi kehamilan."


"Aku memang belum sempat menanyakan itu padanya," kata Biema.


......................


Memang aneh jika ia merasa tidak nyaman dengan kehamilannya. Karena ia sah menjadi seorang istri. Padahal banyak orang di luar saja yang merasa fine fine aja meskipun hamil dengan status belum sah.


Paris hanya merasa tidak tepat jika ia sengaja menunjukkan kehamilannya. Dia wajib menghormati mereka yang mengikuti aturan sekolah soal menikah setelah lulus.


Sandra menemukan tempat duduk, yaitu beton tempat bunga besar di tanam. Ia membantu Paris duduk.


"Hhh ..." Paris menghela napas lagi.


"Kamu enggak apa-apa?" tanya Sandra masih berdiri dengan wajah cemas di depan Paris. wa


"Aku carikan air, ya ...," kata Sandra iba. Paris menggeleng.


"Di tasku ada. Kakak kamu sudah menyiapkan semua." Setelah yakin perutnya nyaman, Paris mengambil botol minuman yang ada di sisi kanan tas ranselnya. Lalu meneguknya perlahan.


"Kamu pasti muntah karena aroma parfum ku ya ... " Sandra membaui tubuhnya sendiri. Merasa bersalah. Lalu mengangkat bahu karena menurutnya, aroma parfum yang di pakainya harum dan manis. Baginya itu tidak membuat mual dan muntah.


"Enggak juga."


"Enggak apa-apa kok kalau memang iya. Kata mama orang hamil itu tidak tahan sama parfum," bisik Sandra.


"Tenanglah. Kali ini bukan karena parfum kamu. Aku mungkin hanya tegang saja." Paris berusaha menenangkan Sandra yang merasa tidak enak hati dengannya. Mendengar itu, Sandra merasa iba. Ia kemudian duduk di samping Paris.

__ADS_1


"Berat ya jadi kamu?" tanya Sandra Melo.


"Kenapa?" tanya Paris agak terkejut. Sandra menghela napas.


"Kamu harus jadi seorang istri yang hamil ..." Paris masih berbisik saat bicara soal kehamilan. " ... sekaligus tetap menjalani kehidupan sekolah. Bukannya kalau lagi begitu, harusnya berada di rumah? Istirahat," kata Sandra membuat Paris mengangguk setuju.


"Kamu benar. Aku harusnya ada di rumah," ujar Paris menanggapi dengan jenaka.


"Kamu pasti menyesal sudah menikah dengan kak Biema. Dia kan sudah masuk hitungan pria dewasa, sementara kita ... masih gadis sekolah yang suka main kesana kemari. Jadinya dia pasti berambisi untuk segera dapat anak," kata Sandra mencibir kakaknya.


"Kakakmu harus mendengar ini," sahut Paris setuju lalu ketawa. Sandra ikut tersenyum melihatnya. Paris sudah terlihat tidak pucat dan lesu sepeti tadi.


"Ya. Dia harus mendapat hukuman karena sudah membuat sahabatku tercinta menderita seperti ini." Sandra pura-pura marah. Paris tergelak.


"Menderita ada. Ya ... kalau seperti tadi. Rasanya menderita sekali. Karena ini yang pertama, tapi ... menyesal sudah menikah dengan Biema ... Aku rasa tidak. Kamu tahu, aku juga heran bisa sesuka ini ke kakak kamu itu."


"Cie, ciee ... Jatuh cinta nih ya ke kak Biema," goda Sandra.


"Kalau enggak jatuh cinta mana ada ini di sini ...," tunjuk Paris pada perutnya.


"Benar-benar. Itu memang benar." Mereka berdua tertawa bersama. Ponsel Paris berdering. Dia mengambil dari sakunya dan melihat ke layar ponsel. "Siapa?" tanya Sandra ingin tahu. Karena saat melihat ke layar ponsel, bibir iparnya melukis senyum indah. Meskipun dia sempat mendengus karena dering itu.


"Kakakmu," ujar Paris sambil menunjukkan layar ponsel pada Sandra. Gadis itu tersenyum.


.......


.......

__ADS_1


...IG# LADY_VE...


__ADS_2