Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pindah rumah


__ADS_3


Setelah sampai di rumah ini? tanya Paris dalam hati. Dia tidak bisa lagi berpikir jernih.


"Bisa tidak, kamu segera memakai baju?!" perintah Paris masih membelakangi Biema dengan ketus.


"Kenapa?"


"Jangan tanya kenapa! Jelas tidak mungkin aku melihatmu telanjang!" teriak Paris kesal.


"Oh, itu ..." Respon Biema sungguh datar. Mendengar ini Paris tambah uring-uringan.


"Jangan merespon teriakanku dengan ucapan santai seperti itu Biema!"


"Lalu?"


"Ah, sudahlah! Cepat pakai bajumu


Jangan telanjang di kamar ini!"


"Kamu takut khilaf saat melihat lekuk tubuhku?" Pertanyaan ini jelas memprovokasi Paris yang memang selalu emosional bila berbicara dengan pria ini.


"Diam kamu! Aku tidak peduli!" Paris segera membalikkan tubuhnya dengan tekad. Rupanya Biema sudah berpakaian lengkap. Bahkan pria itu sudah menjauh dari lemari.


Sepertinya Biema sengaja mempermainkan dirinya tadi. Hingga Paris dengan kesal menjejakkan kaki di atas lantai.


"Kamu ..." Paris geram menunjuk Biema. Pria itu santai sambil membawa handuknya pergi.


"Segeralah mandi." Paris tidak menjawab dan segera melangkahkan kaki menuju kamar ke mandi.


......................



......................


Meja makan sudah berisi dengan masakan. Ruang makan ini awalnya sudah penuh dengan adanya Asha sebagai menantu. Kini semakin penuh dengan kemunculan Biema.


Bunda yang masih memakai kruk tersenyum saat Paris muncul.

__ADS_1


"Aduh, putri bunda semakin cantik." Pujian basi yang tidak begitu membuat Paris bahagia. Bola matanya melirik ke arah Biema yang duduk bersiap sarapan pagi bersama keluarga barunya. Lalu mendengkus saat melintasi pria itu. Biema mendengar itu tapi tidak merespon.


Asha melihat adik iparnya sambil menyuapi Arash di gendongannya. Jelas sekali Paris tidak dalam keadaan cantik hari ini. Wajahnya penuh rasa sebal dan kesal.


"Duduk di dekat suamimu, Paris." Bunda sudah mulai mengatur tempat duduknya. Kaki Paris yang akan duduk di dekat bunda berhenti. Tengkuknya merinding mendengar kata 'suami' dari bunda.


"Tempat duduknya kan banyak, Bun. Aku bebas duduk dimana saja bukan?" Paris hendak membantah.


"Aduuuhhh ... pengantin baru harus berdampingan. Masak jauh-jauhan ..." Bunda merajuk.


"Duduk di sini, Paris." Paris menoleh dan membeliakkan mata ke arah Biema yang ikut-ikutan menyuruhnya duduk di sampingnya. Dia memprotes pada pria yang di sebut orang banyak adalah suaminya itu. Seharusnya Biema menutup mulut. Bukan malah ikut-ikutan bundanya.


Asha tersenyum. Tidak menduga Biema bersikap lucu. Pria itu jarang melontarkan gurauan dan candaan, tapi saat dia mengatakan sesuatu apalagi yang ada hubungannya sama Paris, pasti mengandung rasa geli.


Arga menoleh pada istrinya. "Arash ... bundamu terhibur," ujar Arga sambil memainkan dagu dan pipi putranya. Ini membuat Asha mendelik. Meminta suaminya menutup mulut. Melarang berkomentar apapun.


"Iya, Biema. Paris memang harusnya duduk di dekatmu. Itu menambah ke akraban suami istri." Bunda senang mendengar Biema bersikap mendukungnya.


Sial!


Dengan bibir mengerucut Paris mendekati kursi di samping Biema. Tangannya menarik kursi dengan kasar. Lalu menghempaskan pantat di atas kursi dengan gerakan tidak sabaran. Ayah muncul kemudian.


"Bagaimana pertama kali tinggal di rumah ini, Biema?" tanya ayah kepada menantunya.


"Ini adalah rumahmu juga Biema. Rumah kedua." Bunda menimpali. Biema mengangguk.


"Baguslah ..." Ayah Hendarto tersenyum.


"Tersenyumlah Paris. Ini adalah hari bahagia. Semua tertawa, hanya kamu yang menekuk wajah dan bibir," celetuk Arga.


"Aku lapar. Sangat lapar. Bisa tidak kita segera sarapan?" Paris setengah menggerutu saat mengatakannya.


"Aduuuhh ... Kamu itu. Kalau memang lapar, segera bangun dan buat sarapan untukmu dan suamimu," cecar bunda. Paris semakin sebal mendapat teguran bunda.


Mereka pun segera memulai sarapan. Arash di letakkan di dudukan bayi dengan pengaman, jadi Asha bisa ikut makan bersama yang lain.


"Biema suka masakan apa?" tanya Bunda.


"Saya bukan pemilih makanan. Masakan apa saja bisa aku makan."

__ADS_1


"Wahh ... beruntung sekali Paris yang minim sekali pengalaman memasak jadi istrimu. Maaf ya, Paris itu belum terlalu bisa memasak." Bunda mulai bisa membuka kekurangan Paris. Bukan maksud menghina, bunda hanya takut Biema terkejut bila tahu putrinya belum bisa memasak dengan benar. Jadi beliau mendahului mengatakannya agar Biema punya pandangan soal memasak ke depannya.


"Aku tidak masalah dengan itu, Bunda."


"Aduh senangnya ... Paris, meskipun Biema bilang tidak masalah, lebih baik kamu sesekali belajar memasak buat dia." Paris diam tidak menjawab. "Ehem. Parissss ..." tegur bunda yang tidak mendapat respon dari putrinya.


"Ya Bunda ...," jawab Paris. Berdecih dalam hati seraya melirik Biema.


"Bagaimana rencana pindah ke apartemenmu, Biema?" tanya Arga.


"Ya, sesegera mungkin."


Pindah? Biema akan pindah? Baguslah ... Bibir Paris tersenyum menang. Puas.


"Kalau menurutmu lebih baik begitu, Ayah dan bunda mendukung." Ayah bersikap bijak.


"Benar. Mungkin saja Paris akan menjadi lebih mandiri saat hidup jauh dari orangtua." Bunda menambahi.


Tunggu. Kenapa menyebut namaku? Paris yang menikmati makanannya karena mendengar Biema akan pindah kini mendongak. Berusaha mendengarkan dengan seksama.


"Wahh ... kini enggak lagi bisa bertemu aunty Paris setiap hari dong, Arash ...." Arga kembali menowel pipi gembul putranya. Bayi itu tertawa seraya kedua tangannya bergerak-gerak di udara. Saat akhirnya mengenai pipi Arga, bayi itu menepuk-nepuk pelan pipi ayahnya. Arga kegirangan mendapat tepukan sayang dari Arash. Asha tersenyum melihatnya.


"Tunggu. Bukannya Ayah dan Bunda sedang membicarakan Biema. Kenapa tiba-tiba menyebut aku juga?" tanya Paris. Semua menoleh dengan heran. Paris menemukan raut wajah keheranan mereka semua. "Benar, kan? Biema akan segera pindah ke apartemennya. Lalu hubungannya apa denganku?" Semua mendesah. Juga tersenyum.


"Adikku memang sangat polos." Arga tergelak. Asha memukul lengan suaminya pelan. Ayah Hendarto menggelengkan kepala lalu melanjutkan makan. Bunda menipiskan bibir gemas.


"Kamu ini bagaimana sih, Paris. Jika Biema itu pindah ke apartemennya, itu berarti kamu juga akan ikut pindah."


"Kenapa?" Biema melihat ke arah Paris yang bertanya.


"Kok kenapa? Bukannya kalian suami istri? Jadi wajar dong jika harus tinggal bersama." Bunda ikut menggelengkan kepala juga.


"Apa?!" Paris meletakkan sendok dan berdiri karena terkejut. Semua mengerjap memandang Paris. Setelah menelan ludah, Paris duduk lagi perlahan. Tertegun dengan ucapan bundanya.


"Ada apa Paris?" tanya ayah yang sudah terlanjur memperhatikan dirinya.


"Tidak apa-apa, Yah ..." lirih Paris. Asha melihat ke arah Arga. Iba melihat keterkejutan gadis ini yang tidak biasa. Paris sepertinya sangat terpukul. Arga meletakkan telunjuk ke arah bibirnya. Meminta Asha untuk tidak menyuruhnya berkomentar.


Setelah memberi jawaban itu Paris melanjutkan sarapannya. Bukan dengan semangat seperti tadi, tapi dengan lesu dan tak bertenaga. Benar kata bunda. Jika Biema tinggal di apartemen, itu berarti sebagai istri dia harus ikut. Namun itu akan terdengar menggembirakan jika pernikahan mereka adalah normal.

__ADS_1


Menurut Paris, pernikahannya sangatlah tidak normal. Dia masih belum lulus sekolah. Dia tidak begitu mengenal dengan baik siapa Biema. Mungkin juga sebaliknya. Pria itu mungkin tidak begitu mengenal dirinya. Apalagi, di hatinya tidak ada cinta. Paris tidak mencintai pria itu.



__ADS_2