
Paris yang berjalan menjauh dari toilet mengambil ponsel dari dalam tas pestanya. Gawai pipih itu berdering sejak tadi.
"Halo."
"Paris," tegur Biema di sana. "Kenapa kamu lama sekali?" tanya Biema yang ternyata sudah menyusulnya. Paris tersenyum dan mematikan sambungan ponsel. Pria itu menghela napas dengan wajah khawatir.
"Biema. Kamu muncul disini?" tanya Paris yang segera mendekat.
"Aku datang kesini karena kamu lama. Aku khawatir." Karena Paris lumayan lama untuk hanya ke toilet, Biema menyusul. Bibir Paris tersenyum mendengar pengakuan itu. Tubuhnya mendekat dan memeluk lengan pria ini.
"Aku tidak apa-apa, kok." Paris bergelayut mesra di lengan pria ini.
"Sepertinya kamu bicara dengan seseorang di dalam," kata Biema seraya menatap lorong me menuju toilet dengan curiga.
"Jangan berpikiran macam-macam. Itu Priski," jelas Paris.
"Priski? Dia berulah lagi?" tanya Biema langsung menghentikan langkahnya. Dengan setengah mendorong lengan pria ini, Paris mengajak Biema menjauh dari lorong menuju hall pesta. Penjelasan Paris langsung mengubah roman muka pria ini mengeras. Paris yang mendongak tahu.
"Tidak. Dia hanya mengatakan hal yang tidak perlu. Juga ... Dia bicara tentangmu," kata Paris tersenyum geli.
"Aku? Apa yang ia katakan?" Biema mengerutkan kening.
"Jangan terlalu serius." Paris mengelus garis wajah pria ini dengan tersenyum. Biema menghela napas.
"Soal dia aku memang harus selalu serius, Paris. Jika aku lengah, bisa saja gadis itu mengganggumu. Aku harus selalu waspada soal itu. Untuk membuatmu aman."
"Aku yakin aku akan aman."
"Sebaiknya aku memberi dia pelajaran," ujar Biema menggebu.
"Kita juga bersalah soal menikah. Jadi tidak perlu." Biema menghela napas lagi mendengar Paris bicara.
"Tidak ada yang salah dengan pernikahan kita. Aku memang menginginkannya. Jadi jangan berkata bahwa pernikahan kita adalah salah." Biema mengatakan itu dengan tegas.
"Bukan begitu ... Aku sudah melanggar peraturan sekolah yang melarang siswa siswi nya menikah sebelum lulus. Jadi bisa di bilang aku juga salah kan ..." Paris menjelaskan. Biema tetap bersikukuh tidak mau di bilang salah menikah. Paris membimbing pria ini melangkah menjauh dari pintu hall dan mendekat ke meja dessert.
__ADS_1
Paris hendak mengambil minuman, tapi Biema yang sudah paham segera mendapatkan minuman itu dan diserahkan pada istrinya.
"Terima kasih." Paris meneguknya dengan segera.
"Apa yang ia tanyakan padamu?" tanya Biema tidak lupa apa yang di katakan istrinya tadi. Ia menunggu setelah Paris selesai minum.
"Kata Priski suamiku tampan," ujar Paris.
"Pembicaraan apa itu?" tanya Biema yang terkejut. Paris tersenyum geli. Alis Biema mengerut melihat bibir Paris. "Kenapa tertawa. Bukannya aku memang tampan?"
"Iya. Aku tahu. Kamu memang suamiku yang tampan. Makanya aku setuju saat gadis pengganggu itu mengatakan tentangmu."
Perbincangan demi perbincangan pun terlewati. Mereka akhirnya berpamitan pulang karena waktu sudah merambah malam. Gadis ini juga perlu istirahat untuk melanjutkan ujian.
Dengan bergandengan tangan mereka keluar hall acara.
"Hotel ini bagus. Aku suka," kata Paris sambil melihat ke sekitar.
"Apa sebaiknya kita menginap di sini?" tawar Biema yang mendadak mendapat ide dari bibir gadis ini.
"Kita belum pernah honeymoon, sayang ...," bisik Biema seraya mendekatkan wajahnya pada telinga Paris. Dia ingin menggoda istri kecilnya.
"Aku tahu." Mendengar jawaban ini, Biema langsung menjauhkan wajahnya dari Paris dan menatapnya.
"Kamu tahu?"
"Tentu saja," jawab Paris pelan sambil mendengus. Biema tergelak.
"Jika tahu, kenapa tidak mengabulkan permohonan ku?" Paris hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan Biema sambil memukul lengan Biema pelan. Pria ini tergelak. "Oke. Tunggu di sini. Aku akan mengambil mobil. Kakimu lelah jika harus menuju ke area parkir," kata Biema.
"Baiklah." Paris mengangguk.
Setelah sepuluh menit menunggu, pria itu belum muncul. Paris celingukan ke seluruh penjuru lobi hotel.
__ADS_1
"Kemana Biema ya?" gumam Paris. Ponselnya mati jadi tidak bisa menelepon Biema. "Sebaiknya aku kesana saja. Membosankan jika harus menunggu saja." Paris berinisiatif menyusul. Kakinya melangkah pelan menuju area parkir bawah tanah.
"Awww!!" Paris terkejut mendengar teriakan dari suatu tempat di area parkir yang sepi. Hanya penuh dengan mobil. Kepala Paris melihat ke sekitar. Mencoba menemukan darimana teriakan tadi berasal. Namun dia masih belum menemukan siapa yang berteriak barusan.
Kakinya melangkah lagi. Samar-samar dia mendengar perbincangan di balik salah satu mobil yang ada disana.
"Aww!" teriakan itu terdengar lagi. Paris makin mempercepat langkahnya. Namun karena memakai high heels, langkahnya agak lambat. Gadis ini berinisiatif melepas high heelsnya dan menghampiri suara barusan dengan cepat.
Dia meyakini suara itu dari sebuah mobil di pojok. Setelah berhasil mendekati mobil yang ia curigai, akhirnya ia bisa menemukan asal suara tadi.
"Lepaskan!" teriak seorang gadis.
"Priski?" tegur Paris terkejut. Pria dan Priski menoleh bersamaan ke arah dirinya. Pria itu tengah menarik rambut Priski, hingga gadis itu meringis kesakitan. Pakaiannya sudah ganti. Bukan seperti saat tadi bertemu gadis itu di toilet. Lebih terbuka. Dan juga, kali ini tampilannya acak-acakan. "Apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Paris keras dan tetap waspada.
"Paris, aku ... Aw!" Priski mungkin hendak mendekat ke arahnya, tapi pria itu justru menarik rambut gadis itu hingga tubuhnya terpelanting ke arahnya lagi. Gadis itu meringis merasakan sakit di akar rambutnya. "Lepaskan aku!" teriak Priski sambil memukul-mukul dada pria itu. Namun pria itu tetap menahan tubuh Priski dan juga menjambaknya.
"Hey, diam," desis pria itu pada Priski yang berontak dari cekakan tangannya. "Kamu tidak boleh pergi setelah melakukan itu padaku," kata pria itu geram pada Priski.
"Lepaskan aku!" Priski tetap berusaha melepaskan tangan pria itu darinya.
"Lepaskan dia!" teriak Paris yang sempat kebingungan tadi. Pria itu menoleh pada Paris dengan mata merahnya.
"Siapa kamu? Kenapa muncul dan mau mencampuri urusanku?!" tanya pria itu melotot pada Paris dengan tangan mencekal Priski.
"Aku mengenalnya." Paris menunjuk ke.arah Priski yang terlihat menyedihkan. "Jadi tolong lepaskan dia."
"Lepaskan? Kamu tidak tahu apa-apa, hei anak kecil." Pria itu tersenyum sinis ke Paris. Priski meringis kesakitan dengan cekalan tangan pria itu pada pergelangan tangannya, juga pada rambutnya. Paris menipiskan bibir. Jika dirinya anak kecil, lalu apa bedanya dengan gadis yang sedang di siksanya itu?
"Aku yakin dia tidak suka di perlakukan seperti itu. Jadi tolong lepaskan dia." Paris melihat wajah memelas milik Priski. Sepertinya gadis itu sempat di tampar tadi. Ada jejak kemerahan pada pipinya.
"Dia ini milikku. Jadi aku berhak memperlakukan dia seperti apa." Pria itu menunjukkan kekuasaannya atas diri Priski. Bibir Priski tidak mengatakan apa-apa kecuali merintih sambil berontak. Ingin lepas dari cengkeraman laki-laki itu.
Siapa om buncit itu? Kenapa dia memperlakukan Priski seperti itu? Lalu ... Apa yang di lakukan Priski hingga membuatnya harus mendapatkan jejak tamparan di pipinya?
__ADS_1