Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Masalah ibu hamil


__ADS_3

Paris sudah pulang ke apartemen. Pagi ini dia ada kegiatan di sekolah. Seperti mengisi dokumen untuk kelulusan nantinya. Jadi dia akan berangkat ke sekolah.


"Aku membuatkan sarapan pagi yang banyak untukmu." Biema menghidangkan makanan di atas meja di sambut dengan senyuman Paris. Makan banyak adalah favoritnya sekarang. Dia tidak memilih menu apa yang harus di makan. Karena Paris jadi menyukai semuanya.


"Aku di buatkan jus?" tanya Paris yang sedang memeriksa masakan yang akan di makannya.


"Tentu. Ini ..." Biema mendekat dengan segelas jus alpukat.


"Kenapa satu? Bukannya itu favoritmu juga?" tanya Paris seraya menerima sodoran gelas jus padanya.


"Aku ... tidak ingin meminumnya," kata Biema membuat Paris terkejut.


"Kamu tidak suka?" Paris tidak percaya. Biema mengangguk. "Sejak kapan? Bukannya ini favorit kamu?" Kening Paris mengernyit.


"Entahlah. Ayo sarapan. Kamu tidak boleh kelaparan di sekolah." Biema yang duduk di sebelah Paris mengusap rambut istrinya berulang-ulang. Paris mengangguk. Biema melihat istrinya dengan senang. Dia tidak tahu Paris sedang gundah.


**


Mobil Biema tiba di pelataran sekolah. Ini tidak seperti biasanya. Karena Biema akan mengantarkan istrinya di luar halaman sekolah. Tepatnya di depan gerbang.


"Kenapa sampai mengantarkan aku di halaman sekolah sih," protes Paris. Biema tidak peduli. Sambil turun dari mobil, Paris membenarkan letak tas ranselnya. "Aku masuk nih. Kamu bisa pulang," pamit Paris. Namun tidak ada pergerakan dari tubuh pria ini. "Kenapa tetap di situ? Pulanglah. Kamu mau berangkat ke kantor kan?" tegur Paris melihat Biema terpukau melihatnya sambil menggerakkan jari-jarinya.


"Sepetinya aku berat melepaskan mu," ujar Biema dengan wajah tidak rela. Dia melangkah maju dan memeluk tubuh istrinya.


"Hei!" teriak Paris panik. Karena itu membuatnya malu. "lepaskan Biema. Lepaskan," pinta Paris dengan memaksa. Lahirnya Biema melepaskan pelukannya. "Jangan bertindak gila, Biem ... Ini sekolah," desis Paris dengan rasa geram yang tertahan.


"Aku berhak memelukmu karena aku suamimu." Biema tidak setuju.


"Kamu berhak memelukku atau melakukan apapun yang kamu mau dariku, tapi aku siswi sekolah ini sekarang. Tindakanmu barusan akan memancing gunjingan dari pihak siswa-siswi.


"Kenapa?" tanya Biema.


"Kenapa masih bertanya kenapa? Mereka pasti juga ingin berpelukan seperti kita tahu ..." Mendengar ini Biema tersenyum geli.


"Jadi mereka iri pada kita?" tanya Biema sambil tersenyum.


"Tentu saja."

__ADS_1


"Jadi kalau dirumah aku bisa melakukan apapun padamu?" tanya Biema dengan raut wajah menggodanya.


"Hentikan berwajah seperti itu."


"Jawab dulu," paksa Biema.


"Terserah. Aku pasrah. Jadi lepaskan aku dan pulanglah."


"Oke kamu janji." Biema melepaskan tangannya dari mencekal tangan istrinya. "Sehat selalu sayang ... " Biema mengelus perut Paris yang belum terlalu terlihat. Ini membuat gadis ini terkejut.


"Biema ...," potong Paris kesal.


"Oke. Aku akan mencoba rela membiarkan kalian berdua tanpa aku. Aku pulang Paris," pamit Biema sambil mengelus lembut rambut gadis ini.


"Ya. Hati-hati di jalan."


"Jangan macam-macam saat di sekolah," ujar Biema memberi peringatan. Paris menipiskan bibir sambil mengangguk malas.


......................


Bola mata Paris melihat ke kanan dan kiri. Raut wajahnya terlihat cemas. Menurutnya, kehamilannya ini suatu keajaiban. Bagaimana tidak? Ia yang sekarang masih memakai ransel sekolah di punggungnya, kini juga tengah menggendong janin di dalam perutnya. Ia tidak menyangka status pelajar dan seorang istri ia jalani bersamaan.


Tanpa sadar ia meraba perutnya pelan. Ia yakin saat ini perutnya belum kelihatan, tapi dia merasa was-was saja dengan orang-orang di sekitar. Mungkin hamil di anggap wajar karena dia memang sudah menikah, tapi me jadi tidak, jika dia masih menyandang status sebagai siswi.


Saat hampir sampai di kelas, Sandra muncul.


"Paris, kamu masuk juga?" tanya Sandra yang langsung menggandeng tangannya.


"Ya," jawab Paris malas. Sandra mendekatkan bibirnya di telinga Paris.


"Kamu jadi hamil ya?" bisik Sandra tepat di telinganya. Menurut orang sekitar, suara Sandra sangatlah pelan hingga tidak mungkin bagi mereka bisa mendengar apa yang sedang di katakan gadis ini, tapi bagi Paris itu seperti suara megaphone.


Manik mata Paris membulat sempurna. Ia terkejut dengan pertanyaan iparnya.


"Jangan tanya hal itu," desis Paris.


protes.

__ADS_1


"Sori. Jadi ... Mama bohong kalau kamu sedang itu?" Sandra masih bertanya. Paris melirik tajam.


"HH ... Iya. Aku memang itu. Sudah?" tanya Paris judes. Karena mereka bicara dengan bahasa kode, orang-orang yang lewat sempat mengernyitkan alis mendengarnya.


"Kok jutek?"


"Aku ... Hmmp ... " Mendadak Paris ingin muntah. Setengah berlari, Paris menuju ke toilet. Sandra panik sembari mengikuti kakak iparnya dari belakang. Beberapa siswa sempat melihatnya dengan heran. Paris membuka pintu toilet dan menutupnya segera. Sandra yang muncul segera setelah gadis itu masuk ke toilet, harus menunggu di luar. Karena Paris mengunci pintu.


Ada suara-suara samar di dalam. Sandra menajamkan pendengaran karena rasa cemasnya. Akan sangat menonjol jika ia menggedor pintu.Jadi tidak mungkin ia memaksa masuk dan membantu Paris di dalam sebisanya.


"Paris ... kamu enggak apa-apa?" bisik Sandra sangat cemas.


Keadaan Paris di dalam toilet sedikit mengkhawatirkan. Dia sedang membungkuk menghadap wc duduk. Namun karena pinggangnya sedikit sakit, ia ganti dengan berjongkok. Memuntahkan makanan yang di buatkan Biema tadi pagi.


Dengan tertatih-tatih, Paris meraih gayung dan menyiram bekas muntahannya.


"Hoek ..." Paris meredam suara muntahan sebisa mungkin. Agar orang di dekat toilet tidak bisa mendengarnya. Akan sangat menghebohkan jika orang-orang mendengar suara muntahan dari dalam kamar mandi yang berulang-ulang. Rasa curiga pasti menyerang mereka.


Setelah muntah dan menyiram WC berulang-ulang, Paris baru merasa lega.


"Hh ... " Paris menghela napas dengan berat.


"Paris ...," bisik Sandra lagi. Ia menjadi tidak tenang karena Paris tidak menjawab. Paris mengetuk pintu kamar mandi pelan. Ia menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa, tapi belum bisa bicara. "Oh, syukurlah ..." kata Sandra setelah mendapat tanggapan dengan ketukan pelan barusan.


Paris berkumur dengan air kran. Mencuci mulutnya dari rasa tidak nyaman muntahan tadi. Setelah itu perlahan membuka pintu. Dengan tidak sabar, Sandra menarik pintu itu hingga tampak tubuh Paris dari luar


"Paris ..." Sandra langsung berusaha menahan tubuh kakak iparnya yang lemas. "Kamu enggak apa-apa?" Paris mendongak dan tersenyum tipis.


"Bantu aku mencari tempat duduk," pinta Paris. Dengan cekatan Sandra membantu Paris berjalan. Meskipun lemas, Paris berusaha tetap dalam kadar kewajaran. Karena di satu sisi, mereka harus tetap sembunyi dari berita kehamilan ini. Paris tidak mau teman-temannya heboh.


.......


.......


.......


...B E R S A M B U N G...

__ADS_1


__ADS_2