
Biema menghela napas mendengar Mela akan ke apartemennya. Tidak banyak perkiraan ada apa gerangan wanita itu datang menemuinya. Namun dia tidak terlalu memikirkannya.
"Aku belum mandi. Sebaiknya aku mandi dulu sebelum mereka datang. Setidaknya membilas tubuhku dengan air karena tadi," kata Biema berencana sambil tersenyum mengingatnya. Dia urung membereskan kekacauan pantry akibat perbuatan dia dan istri tercintanya.
Namun saat dia berpikir hendak ke kamar mandi, suara bel dari pintu masuk di pencet seseorang. "Itu pasti mereka." Biema menarik kaos oblong di atas sandaran kursi makan di dekatnya. Memakainya sambil jalan menuju pintu. Melalui mesin video intercom, Biema bisa melihat Fikar berada di depan pintu bersama Mela. "Ternyata memang dia," desah Biema lelah melihat memang ada Mela di balik pintu apartemen.
Biema membuka kunci dan melihat mereka berdua.
"Masuklah ...," ujar Biema mempersilakan mereka masuk dengan enggan. Fikar meminta Mela masuk ke dalam lebih dulu.
"Aku pikir kamu pulang karena sakit atau apa." Mela melihat punggung lebar pria ini dari belakang. Dengan memakai kaos, tubuh itu terlihat lebih menonjol daripada biasanya. Karena kaos itu bisa menjiplak tubuh bagus milik Biema dengan jelas.
"Fikar tidak memberitahumu?" tanya Biema tanpa menoleh.
"Tidak. Dia hanya tersenyum dan berkata kamu ada di apartemen sekarang. Jadi aku ingin tahu sendiri kabarmu bagaimana." Mendengar ini Biema melirik pada Fikar yang jauh di belakang Mela.
"Tidak. Aku bukan sakit. Hanya ingin pulang karena ingin bersama Paris." Di sini Biema tidak menutup-nutupi apapun.
"Paris? Istrimu ada di sini?" Bola mata Mela melihat ke kanan dan ke kiri mencari sosok gadis itu di sana.
"Tentu." Biema tergelak pelan mendengar pertanyaan wanita ini. "Aku tidak mungkin ingin pulang lebih cepat jika di rumah tidak ada siapa-siapa." Biema duduk di sofa. Fikar mendekat. Dia ingin ikut duduk, tapi ternyata Mela masih berdiri. Jadi Fikar urung duduk. Dia ikut tetap berdiri. "Duduklah," ujar Biema. Beruntung Biema mengatakan itu. Jika tidak, Fikar akan tetap berdiri di sana. Berbeda dengan Mela yang tetap memilih berdiri.
Di tangan Mela ada sesuatu. Semacam bingkisan. Namun Biema tidak bertanya itu apa. Dia membiarkannya.
"Ini untukmu." Mela menunjuk parcel yang di bawanya. Rupanya itu buah-buahan.
"Tidak perlu membawa sesuatu," ujar Biema.
__ADS_1
"Aku membawa ini karena aku pikir kamu sakit lagi setelah dari perjalanan bisnis," ujar Mela memberi alasan. Biema memberi kode pada Fikar untuk mengambil parcel di tangan wanita itu.
"Biar aku saja yang letakkan ini di meja sana," ujar Mela setelah melihat pantry. Fikar yang tadinya akan berdiri tidak jadi. Pria itu kembali duduk. Mela melangkah sendiri menuju pantry. Biema melirik sekilas. Dia ingat sesuatu. Jejak-jejak percintaannya dengan Paris belum selesai dia rapikan dan bersihkan. Semuanya masih berserakan di sana karena dia memilih menyegerakan untuk membuka pintu. Hingga urung mengumpulkan pakaian Paris yang masih di atas lantai.
Dia pasti menemukannya, ujar Biema di dalam hati.
Kaki Mela baru saja menginjak lantai pantry. Bola matanya menemukan ada sepotong pakaian di lantai. Awalnya dia pikir itu mungkin karpet lantai, tapi saat di dekati itu adalah sebuah kaos. Setelah meletakkan keranjang buah di atas meja, tubuhnya merunduk mengambil kaos berwarna biru laut itu.
Saat Mela hendak berdiri, matanya terpaut pada seonggok pakaian yang lain. Kenapa masih ada pakaian lain?
"Biem ... Pakaianmu berserakan di lantai. Mungkin Paris terlupa menjatuhkannya saat membawa pakaian," ujar Mela setengah berteriak. Biema mendengus merasa lucu.
"Ya!" sahut pria ini santai. Masih dengan menyisakan senyum di bibirnya. Fikar yang memperhatikan Biema merasa aneh. Senyuman aneh. Dia melongok ke arah pantry ingin tahu apa yang di maksud Mela. Namun perempuan itu tidak terlihat.
"Kemana dia?" tanya Fikar kebingungan. "Kenapa dia menghilang dari sana?" Fikar berdiri dan mencoba mencari Mela. Kemungkinan karena wanita itu masih merunduk.
Mela berdiri untuk melangkah mendekat ke arah seonggok pakaian yang ia lihat. Saat langkahnya hampir sampai pada pakaian itu, ia melihat bukan hanya satu tapi beberapa pakaian berserakan di sana.
Ada apa?
Mela membulatkan mata karena teringat sesuatu. Saat melihat ada satu set pakaian dalam yang ia tahu itu adalah milik seorang wanita dia sadar apa yang sedang terjadi di sini. Tangannya mengepal menyadari sepertinya sesuatu itu baru saja terjadi. Disini. Di pantry ini. Mela menahan napas sejenak karena tiba-tiba sekilas gambaran adegan yang terjadi itu melintas. Kepalanya menggeleng berulangkali berusaha membuangnya jauh.
Perempuan ini segera angkat kaki dari sana dan memilih mendekat ke arah sofa. Duduk segera dengan melipat kaki dan bersedekap. Wajahnya masam. Fikar terheran-heran melihat Mela kembali dari pantry dengan wajah di tekuk.
"Ada apa?" tanya Fikar heran. Biema hanya tersenyum. Apalagi saat Mela tidak bisa menjawab dengan jelas.
"Tidak ada. Tidak ada apa-apa," jawab Mela melihat ke arah lain. Enggan melihat ke arah pantry yang tepat ada di depan sofa tempat mereka duduk.
__ADS_1
"Kenapa kamu kembali dengan wajah masam?" tanya Fikar lagi ingin tahu.
"Aku bilang tidak ada apa-apa, Fikar." Kali ini Mela menjawab dengan ketus. "Berhenti bertanya ada apa di sana karena aku tahu pun aku tidak akan mudah mengatakannya." Manik mata Fikar mengerjap mendapat jawaban ketus dari Mela. Apalagi kalimatnya yang terdengar tidak jelas maknanya. Biema kembali tersenyum. Senyuman penuh arti.
Pasti ada apa-apa nih di pantry sana, ujar Fikar justru makin penasaran. Dia masih mencoba melirik ke arah pantry. Berusaha mengorek informasi dari penglihatannya. Namun nihil karena dia butuh mendekat.
Tadi Mela berteriak soal pakaian. Ada apa dengan pakaian yang Mela maksud?
"Apa yang sedang kamu pikirkan hingga kening mu berkerut, Fikar. Apa ada masalah di kantor tadi?" tanya Biema.
"Oh, tidak. Tidak ada masalah di kantor."
"Jangan ingin tahu soal apa yang di lihat Mela di pantry. Kamu tidak akan bisa menanggungnya," ujar Biema sengaja membuat Fikar tambah penasaran.
"Paris mana? Bukannya tadi dia ada di ruamh bersamamu?" tanya Fikar berusaha membuang rasa penasarannya dengan pertanyaan yang wajar.
"Dia tidur di kamar. Dia sedang kelelahan."
"Kelelahan? Dia sakit?"
"Tidak. Dia hanya kelelahan," sahut Biema.
"Kelelahan?" tanya Fikar. Pria ini Mengerutkan kening lagi. Entah mengapa arti kelelahan terdengar berbeda dengan arti yang biasa ia dengar. Mela menghela napas sebal mendengar Fikar yang belum paham maksud Biema.
"Paris saat ini kelelahan karena sudah bercinta dengan Biema," ujar Mela yang akhirnya memberi tahu sendiri apa yang dia hindari tadi. Dia mengatakan dengan kesal pada Fikar.
"Apa?" pekik Fikar mendengar itu.
__ADS_1