
"Aku bukan tertarik padanya, tapi mungkin lebih ke aura bahagia mereka berdua. Biema dan Paris," ralat Mela. "Bukannya mereka di jodohkan?" Kali ini Fikar melepas pistol gamer di tangannya dan menoleh ke samping.
"Trus kenapa?"
"Di jodohkan, meski awal tanpa cinta ... ternyata bisa juga menciptakan kebahagiaan. Aku iri. Aku juga ingin seperti itu. Di jodohkan, lalu bahagia." Mela berangan-angan.
"Kalau gitu, bilang saja pada keluargamu kalau kamu ingin di jodohkan," tukas Fikar enteng.
"Nyatanya tidak semua perjodohan itu berhasil dan membuahkan kebahagiaan." Mela mendesah lelah.
"Sepertinya kamu memang harus segera menikah," kata Fikar lalu meneruskan lagi gamenya. "Bukannya waktu itu kamu sedang dekat dengan seorang pria ..." Mela tidak menggubris. Dia melihat ke arah Paris dan Biema yang sibuk bercanda berdua.
...****************...
Rupanya Mela masih betah bersama Paris dan Biema. Sepertinya dia sedikit menikmati kemesraan Paris dan Biema yang mulai terlihat menyenangkan baginya.
"Kalian mulai terlihat sebagai sepasang suami istri sesungguhnya," celetuk Mela saat mereka makan es krim karena ibu hamil itu sedang menginginkannya.
"Kita memang suami istri," sahut Biema singkat, padat, dan tegas. Paris mengangguk mengiyakan. Setelah melihat sikap Mela sejak tadi di game center, Paris tidak terlalu over protektif pada suaminya. Karena Mela bukan lagi mirip predator wanita di depannya.
"Tentu saja begitu. Bukannya Paris saat ini sedang hamil," tutur Fikar membuat Mela terkejut.
__ADS_1
"H-hamil?" tanya Mela sampai tergagap. Lalu melihat Paris dengan cepat. Meneliti tubuh gadis itu dengan seksama.
"Tidak begitu kelihatan karena masih beberapa bulan," kata Biema yang tahu maksud Mela.
"Jadi ... Apa yang di katakan Fikar itu sungguhan?" tanya Mela tidak percaya.
"Tentu saja. Kamu pikir aku berbohong? Kamu pikir mereka makan es krim malam-malam begini untuk apa? Itu karena ibu hamil itu sedang ngidam es krim," imbuh Fikar yang langsung di kasih jempol oleh Paris. "Jadi aku akan dapat bonus karena sudah menerka dengan benar, Nyonya Biema?" canda Fikar.
"Tentu tidak. Aku pelit kalau soal bonus karyawan," kata Paris menimpali kalimat Fikar. Biema tertawa.
"Bukannya istrimu ini masih belum lulus sekolah?" tanya Mela. Mungkin masih tidak percaya.
"Lalu bagaimana jika dia tidak lulus?" tanya Mela penasaran. Paris yang tadi menyendokkan es krim ke mulutnya berhenti.
"Tentu saja aku tidak peduli. Surat kelulusan hanyalah formalitas saja. Aku sudah menerimanya menjadi istriku sejak awal," jawab Biema. Fikar ikut mendongak mendengarkan Biema bicara. Paris tersenyum senang. Lagi-lagi bocah ini memberikan jempolnya sebagai tanda penghargaan. Kali ini untuk suaminya. "Aku menerima itu jika kamu menganggap itu sebagai kekurangannya. Karena aku bersedia menerima semua hal yang ada pada diri istriku. Hanya status tidak lulus tidak membuatku mengurangi rasa cinta ku padanya," imbuh Biema yang membuat Paris jadi haru.
Tanpa melihat situasi, tiba-tiba saja gadis ini mendaratkan ciuman ke atas pipi Biema. Mela dan Fikar terkejut. Apalagi Biema. Dia tidak menduga bahwa istri kecilnya akan melakukan itu di depan semua orang. Paris mengerjapkan mata ikut tidak menduga akan tindakannya barusan. Namun secepatnya ia meringis mengurangi rasa malu. Bersikap tidak apa-apa dia bersikap seperti itu karena mereka adalah suami istri.
"Dingin," ujar Biema merespon tindakan tidak terduga barusan. Tangan Paris terulur mengusap bekas eskrim yang menempel di pipi Biema.
"Sori," ucap Paris sambil tergelak sebentar.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," ujar Biema seakan ingin Paris mencium pipinya lagi. Namun tentu saja tidak di lakukan oleh Paris.
"Selamat ya, untuk kalian," ucap Mela tulus.
"Ya. Terima kasih Mela," sahut Biema.
Setelah menuntaskan acara jalan-jalan malam ini, Biema memaksa Paris untuk pulang. Karena tidak mungkin dia membiarkan istrinya yang tengah hamil terus saja melakukan banyak kegiatan di luar. Apalagi waktu sudah merambah malam.
"Sudah lega? Enggak muram lagi?" tanya Biema. Paris yang bersandar dengan santai di badan kursi mobil menoleh ke samping perlahan.
"Kurang. Aku masih butuh banyak waktu bermain," tukas Paris.
"Kurang?" tanya Biema terkejut. Dia yang hendak menjalankan mobil urung.
"Aku masih muda, Biema sayang ... Mohon di maklumi. Karena aku juga akan memaklumi kamu yang sudah tua," caci Paris dengan wajah penuh cintanya.
"Aku lupa itu. Aku harus punya banyak stamina jika punya istri masih muda seperti kamu," ujar Biema tersenyum memahami. "Tapi aku masih punya stamina jika lanjut lagi untuk melakukan kegiatan selanjutnya," kata Biema penuh arti
"Kamu mau mengajak aku kemana?" tanya Paris. Tubuhnya langsung bangkit dan menghadap ke arah suaminya dengan wajah sangat penasaran.
......................
__ADS_1