
Paris muncul di dapur. Dimana semua orang sedang sibuk menyiapkan keperluan untuk arisan.
"Kak Biema tidur?" tanya Sandra. Paris hanya mengangguk.
"Mau ngapain sayang?" tanya mama mertua.
"Mau ngambil makan buat Kak Biema, Ma. Tadi kan belum makan" jawab Paris.
"Minta sama bibik. Makanan buat Biema, Bik," ujar mama meneruskan pesannya pada pembantu.
"Iya, Buk," jawab pembantu itu. Paris menghampiri Bibik. Perempuan tua itu sedang mengambil piring.
"Saya ambil sendiri saja, Bik," kata Paris. Bibik mengangguk dan menyerahkan piring pada Paris. Gadis ini membuka tutup magic com dan membuat aroma unik dan khas dari nasi. Mendadak Paris tidak nyaman. Ia menggelengkan kepala demi menghalau bau uap nasi dari magic com yang mendadak membuatnya tidak suka.
Kenapa aroma ini membuatku tidak nyaman? kata Paris dalam hati. Perlahan ia mencoba menarik napas. Kemudian menghelanya pelan dan melanjutkan mengambil nasi untuk suaminya.
Paris tiba di lantai atas sembari membawa makan untuk Biema. Gadis ini membangunkan Biema yang tengah terbaring miring bergelut dengan guling.
"Biem ... Biema sayang ... Bangunlah sebentar. Kamu harus makan dan minum obat," ujar Paris mengguncangkan tubuh suaminya pelan. Namun tidak berhasil. Paris mendekat untuk bisa melihat lebih dekat wajah suaminya. Kecupan pelan mendarat dengan sempurna di pipi pria itu. Baru saat Paris selesai melakukan kecupan singkat itu, Biema bergerak. Pertanda ia bangun.
"Paris ..." lirih Biema lemah.
"Ayo bangun sebentar. Kamu harus makan untuk minum obat setelahnya," ujar Paris. Biema mengangguk setuju. Dengan bantuan Paris setengahnya Biema akhirnya bisa duduk sambil bersandar pada bantalan ranjang yang menempel pada dinding. Tidak lupa Paris memberikan bantal di belakang tubuh Biema, agar punggung pria ini nyaman.
Paris mengambil air minum dulu untuk membasahi tenggorokan. Setelah itu mengambil piring berisikan nasi dan lauk yang di letakkan di atas nakas.
"Kamu menyuapiku?" tanya Biema.
"Tentu saja. Kenapa kamu heran? Bukankah aku wajib melakukannya saat suamiku lemah tidak berdaya seperti ini?" kata Paris sambil bersiap menyendok nasi. Biema tersenyum senang. Meskipun tidak bisa menunjukkan ekspresi kegirangan karena perlakuan istrinya, Paris tahu Biema senang saat dirinya menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut pria ini.
__ADS_1
Biema mengunyahnya perlahan.
"Aku ... jadi merasa lapar juga," kata Paris kemudian di saat dirinya sedang menyuapi Biema.
"Kamu belum makan, Paris?" tanya Biema khawatir. Padahal dirinya saja masih sakit. Hingga membuat Paris tersenyum.
"Saat ini yang sedang sakit itu, kamu. Kenapa malah mencemaskan aku?" Paris mendekat sambil mengulurkan tangannya. Menyentuh kening Biema dan mengusap rambutnya. "Aku sudah makan tadi, tapi ... entahlah. Aku merasa masih lapar."
"Berikan padaku piring itu. Kamu bisa ambil nasi dan makan." Biema mengulurkan tangan dengan pelan.
"Kamu akan makan sendiri? Tidak boleh," kata Paris memberi larangan. "Kita akan makan bersama. Aku akan mengambil nasi dulu di bawah. Tunggu sebentar. Aku turun ke bawah dulu." Tanpa meminta persetujuan dari Biema. Paris segera turun mengambil satu porsi makan.
"Kak Biema mau nambah makannya?" tanya Sandra terkejut. Karena piring yang tadi saja belum turun, tapi sekarang kakak iparnya ini sudah mengambil seporsi lagi. Paris mengangguk ragu. Dia tidak ingin nafsu makannya yang tiba-tiba membesar di ketahui Sandra atau bahkan mertuanya. Sandra akan meledek habis-habisan karena itu. Mama yang sedang menata kue menoleh.
"Tidak apa-apa. Supaya Biema cepat sehat, ya ...," ujar mama memberi dukungan.
"Iya, Ma," jawab Paris sambil tersenyum. Sandra masih melihat kakak iparnya heran.
"Ambil masakan yang baru mama buat itu," tunjuk mama pada masakan untuk arisan nanti.
Tenang, tenang. Kamu akan makan semuanya, lirih Paris pada perut laparnya.
Gadis ini tidak main-main saat bilang lapar. Dia mengambil banyak macam makanan ke atas piringnya.
"Apa itu benar untuk kak Biema?" tegur Sandra yang tanpa terdengar langkahnya, tiba-tiba saja berada di dekat Paris berdiri.
"Ya ampun," seru Paris terperanjat kaget. "Sandra ...," desis Paris geram. Karena piring di tangannya hampir saja terjatuh. Mama hanya menoleh sekilas.
"Pasti itu bukan untuk kak Biema, kan?" tanya Sandra seperti sedang menyelidiki. Bola matanya melihat ke arah piring yang di bawa Paris dengan curiga.
"Kenapa?" tanya Paris mengelak.
__ADS_1
"Kak Biema mungkin memang banyak karena dia lelaki. Namun aku rasa, sekarang ... saat dirinya sedang sakit, pasti nafsu makannya berkurang." Sandra bak detektif.
"Kamu tidak suka ya, kakakmu itu cepat sembuh?" tuding Paris tentu dengan nada yang sudah di atur sedemikian rupa. Agar tidak terlalu menarik perhatian mertua.
"Bukan. Bukan aku enggak suka, tapi aneh aja kak Biema bisa makan sebanyak itu." Sandra masih saja membahas soal banyaknya makanan di atas piring Paris. "Dan lagi, kak Biema bukanlah penyuka makanan laut. Dia tidak bisa makan, makanan laut." Mendengar penuturan Sandra, Paris segera menoleh pada piringnya dengan cepat.
Adik iparnya itu benar. Di atas piringnya ada udang crispy kesukaannya. Itu memang bukan makanan favorit suaminya. Itu semua kesukaannya. Paris menata sikap. Ia segera menarik piring itu agar tidak terlalu terekspos isinya.
"Bukannya itu kesukaan kamu, Paris ..." Sandra menambahi kalimatnya. Ini juga menambahi ketidaknyamanan dirinya. Mama mertua menoleh lagi.
"Paris juga bisa makan lagi kalau masih lapar. Makanan masih banyak. Ambil masakan yang baru mama buat juga enggak apa-apa." Beliau justru memberi wewenang buat Paris untuk makan lagi.
"Ah, iya ...." Paris tersenyum kaku. Ia merasa ketahuan oleh mama. Namun setelah mengatakan itu, mama kembali menyibukkan diri dengan bahan suguhan dan kotakan untuk arisan nanti.
"Jadi ... itu bukan buat kak Biema, kan?" tanya Sandra menang. Sepertinya gadis ini sudah mau meledeknya habis-habisan.
"Kenapa?"
"Lha ... buat kamu sendiri kan Paris ...," bisik Sandra tepat. "Kenapa nafsu makan kamu jadi begitu besar. Bukannya kamu enggak bisa makan nasi untuk kedua kalinya?" Paris tersenyum mendengar itu.
"Aku harus segera ke atas. Dia sedang menunggu ku." Paris punya jurus kabur. Ia punya alasan untuk segera pergi dari sana, yaitu Biema. Dan itu benar. Pria itu memanglah sedang menantinya, hingga ia ketiduran dengan posisi duduk bersandar bantal di punggungnya seperti tadi.
Oh, tidak. Aku terlalu lama di bawah, hingga dia tertidur, sesal Paris. Namun pria itu justru membuka matanya saat Paris duduk dengan hati-hati di atas ranjang.
"Kamu sudah kembali?" kata Biema merasa lega.
"Maaf, ya ... Aku kelamaan di bawah."
"Tidak apa-apa. Kamu juga butuh makan. Waktu untuk ke lantai bawah juga tidak sebentar," kata Biema mengerti. Membuat Paris tersenyum. Biema sedikit terkejut melihat piring dengan porsi tidak wajar berada sejajar dengan piring nasi miliknya tadi. "Emm ... itu punya kamu?" tanya Biema penasaran. Paris menoleh ke belakang. Dimana piringnya di letakkan. Lalu kembali menoleh pada Biema.
"Ya."
__ADS_1