
Biema muncul saat menjelang petang. Dia baru saja pulang dari kantor. Paris juga ikut pulang ke rumah mereka. Karena di rumah bunda hanya menumpang saja saat dirinya sendirian di rumah.
"Bagaimana tadi? Apa perutmu nyaman?" tanya Biema seraya menengok ke samping. Tangannya juga ikut mengelus perut buncit itu.
"Sedikit." Paris menyandarkan kepalanya pada bahu Biema. Ia memeluk lengan pria itu dengan mesra. Biema tersenyum. Menurutnya sekarang istrinya makin menggemaskan.
"Kenapa?"
"Aku kangen," jawab Paris jujur. Biema mengelus kepala Paris. Namun ia segera kembali fokus menyetir.
"Sama. Aku juga ingin cepat-cepat pulang karena tahu ada kamu dan bayi kita menunggu," ujar Biema. Paris tersenyum. Mendengar itu ia makin mendekatkan tubuhnya pada lengan pria ini.
"Aku mau makan ayam suwir yang ada daun kemanginya," ujar Paris tiba-tiba.
"Ayam suwir? Tumben sekali."
"Iya. Pokoknya aku pingin makan itu sekarang. Enggak susah kan nyarinya," rengek Paris. Biema berpikir. Dia tidak tahu dimana makanan itu di jual. Bukan makanan langka, hanya saja dia tidak paham dimana mencarinya saat matahari sudah tenggelam seperti ini.
"Aku tidak yakin. Kamu tahu tempatnya? Kita akan berangkat ke sana."
"Enggak," jawab Paris polos.
"Lalu?"
"Ya ... nyari dong. Masak kamu mau biarin bayi kita kelaparan?" Bibir Paris mengerucut.
__ADS_1
"Itu enggak mungkin sayang," jawab Biema tegas.
"Bagus. Makanya ayo nyari."
"Iya." Biema menepikan mobilnya.
"Eh, kenapa berhenti di sini?" tanya Paris heran. Dia menjauh dari tubuh suaminya. Menoleh ke kanan dan kiri dengan bingung. "Di sini ada apa sih? Kok berhenti sini." tanya Paris lagi.
"Sebentar." Biema mengutak atik ponselnya. Sepertinya dia Googling tempat makan yang jual ayam suwir. "Nah, ayo kita berangkat."
"Ke tempat jual ayam suwir?" tanya Paris senang. Dia kembali mendekatkan tubuhnya pada lengan Biema.
"Enggak. Kita ke rumah mama," kata Biema seraya menyalakan mesin mobil lagi.
"Iya. Mama akan membuatkan ayam suwir yang ada daun kemanginya buat kamu," ujar Biema tidak kalah senang.
Apa?!
***
"Pariss ..." Mertua menyambut dengan hangat. Mama memeluk menantu satu-satunya. Tentu saja Paris tetap tersenyum meski terasa canggung. Ia datang bukan sekedar berkunjung. Melainkan karena ingin minta di buatkan ayam suwir. "Biema bilang kamu ingin makan ayam suwir ya ...," kata mama sambil mengelus perutnya.
"Iyaaaa ...," jawab Paris lambat.
Paris melirik ke arah suaminya. Bola matanya mendelik sekilas. Biema hanya melihat ke arah lain. Dia tahu Paris kurang setuju. Meskipun begitu, dia tidak menolak. Itu artinya mau, tapi tidak enak hati.
__ADS_1
Biema sudah menghilang entah kemana.
"Aduh. Kalau malam begini sangat jarang makanan seperti itu. Bukan makanan yang sulit sih, tapi nyarinya juga enggak gampang." Mama bercerita. "Mama bisa langsung biarin sekarang. Mumpung bahannya ada. Biema tepat datang ke sini," ujar mama seraya melihat ke arah putranya.
Karena sudah datang demi sepiring ayam suwir, mau tidak mau Paris terpaksa ikut membantu. Ia tidak mungkin diam saja saat mertuanya masak untuknya.
"Lho, kenapa kamu ikut di dapur? Duduk saja sana sama Biema." Mama terkejut lihat Paris muncul di belakang beliau.
"Tidak. Paris mau membantu."
"Aduhhh ... tidak perlu. Nanti kalau tercium aroma-aroma bumbu dapur, perut kamu bisa mual. Biema bilang kamu sering mual dan muntah." Mama mengingatkan.
"Iya, tapi enggak apa-apa kok Ma. Mungkin saja Paris bisa tahan kalau memasak sama Mama." Paris mencari alasan. Dia terlalu tidak enak kalau harus berdiam diri saja saat melihat mertuanya memasak untuknya.
"Begitu ya ... Bisa saja. Ya sudah. Kamu ikut mama memasak. Nanti kalau merasa lelah atau pusing karena aroma masakan, bilang."
"Oke, Ma." Paris menautkan jempol dan telunjuknya membentuk lingkaran.
Sementara itu Biema yang tadi masuk ke kamar mandi, kebingungan saat tidak ada istrinya di ruang tengah. Ia mengerutkan dahi saat pikirannya tertuju pada dapur yang menyala.
Dia tahu mama sedang memasak. Namun ia curiga bahwa istrinya juga berada di sana sekarang. Kakinya melangkah agak cepat. Dugaannya tepat. Paris sedang berada di dapur.
"Mama!"
________
__ADS_1