Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Tentang mereka


__ADS_3

Bola mata mereka melebar tidak menduga. Karena menurut perhitungan mereka, gadis di depannya ini masih sekolah. Jadi sebutan suami untuk pria di depannya terasa masih asing.


"Suami yang bagaimana, Paris? Kayak yang menikah beneran aja ..." tutur Deni tidak yakin. Maksudnya bukan serius. Hanya bercanda saja, tapi pendapat ini mendapat sorotan tajam dari Biema. Andre menowel pantat temannya yang kebetulan berdiri di sampingnya. Deni menoleh ke kanan dan kiri. Mencari tahu siapa yang sudah menyentuh pantatnya yang perawan.


"Kita memang sudah menikah." Biema justru membuat pengakuan. "Menikah resmi. Sekarang dia lagi hamil. Kalian bisa datang ke apartemen kita untuk bertamu." Paris menipiskan bibir dengan senyum tipis dan gelengan kepala mendengar pengumuman itu.


"Hamil? Kamu hamil?" tanya mereka syok. Kabar bagus ini bukannya membuat mereka ikut merasa bahagia, tapi justru membuat mereka ke arah Paris dengan raut wajah tercengang. Mereka melihat ke arah Biema, lalu kembali melihat ke Paris. Melihat istrinya di perhatikan, Biema langsung melingkarkan lengannya ke perut Paris dan menarik lembut tubuh istrinya agar mendekat padanya.


"Hentikan raut wajah syok kalian," ujar Paris ingin menghentikan mereka takjub menghadapi kenyataan ini. Biema melirik Paris. Andre dan Deni meringis. Cakra hanya diam saja.


"Oke. Selamat atas kehamilan istrimu, e ..." Cakra mendengung karena tidak tahu nama suami Paris.


"Aku Biema," kata Biema.


"Ya. Biema. Selamat ya ...," lanjut Cakra mendapat petunjuk langsung dari orangnya.


"Ya. Terima kasih," sahut Biema. Andre dan Deni ikut mengucapkan selamat. Paris tersenyum. Rupanya mereka tidak hanya bertiga. Andre dan Cakra datang dengan kekasihnya. Karena setelah itu muncul dua perempuan yang kemudian mendekat pada dua pria itu. Tidak. Andre sudah menikah. Cakra belum. Jadi yang masih jomlo adalah Deni. Yang katanya pernah sempat naksir pada Asha itu.


Paris kenal dengan wanita yang mendekati Andre. Dia Hanny. Rupanya pria ini masih tetap dengan perempuan itu. Setelah itu mereka berpencar. Kemunculan dua wanita tadi membuat raut wajah Biema tidak lagi mendung. Biema menghapus rasa cemburu yang mencuat tadi


"Hanny tahu Arga?" tanya Biema saat tadi mendengar istri Andre itu bicara dengan Paris lebih akrab daripada kekasih Cakra.

__ADS_1


"Dia saingannya kak Asha. Calon tunangan kak Arga dulu," kata Paris sambil tersenyum sudah mengungkap tentang mereka.


"Jadi Arga juga pernah di jodohkan keluargamu?" tanya Biema.


"Bunda. Soal perjodohan itu pekerjaan Bunda," ralat Paris.


"Seperti kita, ya ..." kata Biema penuh arti.


"Ya, tapi sangat berbeda." Paris mendongak. Biema menundukkan pandangannya untuk melihat ke istri kecilnya. "Jika kakak tidak berjodoh karena hatinya hanya untuk Kak Asha, tapi kita bisa bersatu karena sama-sama mencintai." Bibir Biema tersenyum saat mendengarnya. Lalu mempererat pelukannya dari samping sembari tetap berjalan.


"Memangnya kita saling mencintai?" Biema mulai menggoda. Paris yang tadinya tersenyum, raut wajahnya langsung berubah masam.


"Apa-apaan itu? Jadi kamunya enggak mencintai aku, gitu? Trus ... kenapa bikin janin di perutku? Seharusnya bikin janin di perut orang lain dong. Biar mereka yang merasa mual dan muntah. Biar bukan aku yang tersiksa," omel Paris. Biema mencubit hidung Paris dengan gemas.


"Ayo deh cepat ke tempat makan. Aku lapar," ujar Paris yang sebenarnya ingin mengusir rasa tersipu karena ucapan Biema. Perjodohan memang terdengar mustahil di zaman sekarang. Namun semuanya mungkin jika keduanya mencoba membuka hati.


Seperti biasa, makan Paris dua kali lipat daripada biasanya. Biema tidak perlu mengkhawatirkan soal pertumbuhan tubuh istrinya yang bisa di pastikan membengkak dengan cepat. Bahkan ini mengasyikkan. Menyaksikan Paris yang sibuk mengunyah nasi di mulutnya, ada keseruan tersendiri baginya.


"Tambah lagi aja kalau masih lapar," ujar Biema. Kepala Paris mengangguk dengan mulut masih penuh dengan nasi. Karena keasyikan makan, Paris tidak tahu sedang di perhatikan suaminya.


"Kamu juga harusnya makan dong. Masa liatin aku aja," protes Paris. "Jadi saat aku kenyang, kamu juga wajib kenyang. Biar adil." Biema mengangguk.

__ADS_1


"Ya. Aku mau makan juga, tapi aku tertarik dengan istriku yang awalnya malas makan banyak, sekarang jadi doyan makan," kata Biema sambil tersenyum geli. Paris melebarkan senyum. Tangan Biema terulur menyentuh perut Paris.


"Makan yang banyak juga. Mama mu sudah beri kami nutrisi banyak untuk di ambil kamu juga," ujar Biema bicara pada perut Paris seakan bayi dalam kandungan sudah bisa mengerti. Paris hanya mengangguk-anggukkan kepala saja melihat tingkah suaminya.


Makan di lesehan sangat mengasyikkan. Karena ini adalah hal baru bagi Biema. Rupanya dia juga mulai nyaman dengan kesukaan Paris yang baru ia ketahui.


"Sebaiknya kita segera pulang," ajak Biema setelah mereka rehat sejenak karena kekenyangan.


"Oke. Ayo." Paris setuju. Mereka pun berjalan menuju area Parkir. "Aku merasa tubuhku sangat penuh," ujar Paris.


"Tapi masih bisa bergerak kan?"


"Tentu saja." Paris tertawa. Biema memacu mobilnya dengan cepat agar sampai di apartemen.


"Keburu banget," celetuk Paris.


"Iya. Ada hal penting yang harus segera di lakukan," kata Biema misterius. Paris mengerjapkan mata tidak paham. Biema hanya tersenyum saja di kursinya.


.......


.......

__ADS_1


...B E R S A M B U N G...


__ADS_2