
Dengan berpegangan pada lengan suaminya, Paris keluar dari kamar mandi. Meski tidak seperti tadi, perutnya masih tidak nyaman.
"Duduklah dengan nyaman," pinta Biema seraya menyelipkan bantal di punggung istrinya. "Aku akan mengambilkan air untuk minum. Kamu tidak boleh dehidrasi."
Paris mengangguk. Setelah menunggu, Biema muncul lagi dengan gelas berisi air di tangannya. Kemudian membantu Paris untuk minum. Di tangannya yang lain sudah ada pil obat pereda mual ibu hamil. Setelah Paris minum air sedikit, ia menyodorkan pil itu. Setelah menelan pil pereda mual, ia minum lagi.
"Setelah jam delapan, kita akan berangkat ke dokter untuk periksa." Biema menjauhkan gelas dari Paris dan mengusap bekas air yang menempel di ujung bibir.
"Kamu enggak kerja?"
"Kerja, tapi aku harus mengantarmu dulu kesana. Kita akan konsultasikan lagi soal mualmu. Mungkin ada lagi obat lain yang lebih ampuh," kata Biema. Paris mengangguk.
"Peluk aku," pinta Paris sambil merentangkan tangan dengan manja. Biema meletakkan gelas di atas meja kemudian masuk kedalam lengan itu dan memeluknya.
"Kenapa istriku manja sekali?" ledek Biema.
"Karena aku masih bocah," sahut Paris asal. Biema tergelak dalam pelukannya.
***
Ternyata obat yang di berikan pada Paris untuk mengurangi mual sudah termasuk sangat ampuh. Hanya saja morning sick memang tidak bisa di hindari ibu hamil. Itu sudah menjadi salah satu bagian rutinitas ibu hamil.
__ADS_1
"Aku antar ke bunda, ya ..." Biema menyarankan. Ia tidak ingin Paris sendirian di rumah. Kepala Paris manggut-manggut. Biema mengelus kepala istrinya. "Tidur saja dulu. Nanti setelah sampai, aku bangunin," kata Biema.
"Enggak. Aku tidak ingin tidur saat bareng kamu. Karena sebentar lagi kamu mau kerja." Paris malah mendekat dan meletakkan kepalanya pada bahu Biema. Pria ini mengerjap. "Aku maunya tetap membuka mata. Kalau mau tiduran nanti saja setelan sampai rumah bunda."
Bibir Biema tersenyum. Tentu saja dia sangat senang istrinya terus saja bermanja-manja padanya.
"Baiklah."
Setelah perjalanan beberapa menit, mobil tiba di rumah bunda. Paris sudah memberitahu. Ini seringkali terjadi. Biema menitipkan istrinya untuk tinggal dengan bunda.
Mendengar deru mobil, Asha yang sedang bergelut di dapur menoleh.
Tangannya melambai pada Paris dan Biema yang keluar dari mobil. Bibir Paris tersenyum.
"Belahan jiwamu," kata Biema yang tahu Paris sangat dekat dengan Asha. Paris tersenyum.
"Itu belahan jiwanya kak Arga. Belahan jiwaku adalah kamu. Titik. Enggak pernah berubah," kata Paris menegaskan.
"Baguslah kalau begitu.” Biema tergelak. Asha mendekat.
__ADS_1
“Bunda sedang keluar. Jadi hanya ada aku di rumah,” kata Asha yang sudah mendekat ke arah dua orang ini.
“Arash ikut?”
“Iya. Bocah itu jadi lebih kerasan sama uti-nya. Ayo masuk lewat belakang. Biar Biema langsung berangkat kerja,” ajak Asha. Dia meminta tas yang di bawa Biema.
“Ya, sudah. Aku berangkat ya ...” Biema mengecup kening Paris. Lalu mengelus perut yang masih kecil itu. “Jangan bikin mama kamu sakit ya sayang ... Biar papa aja. Coba usahakan transfer rasa sakitmu ke aku,” ujar Biema membuat Paris tergelak.
“Aku transfer beneran nih rasa sakitnya,” ancam Paris dengan jenaka.
“Enggak apa-apa. Aku justru bersyukur bisa ikut mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan.” Biema tulus mengatakannya. Mendengar ini Paris mencebik.
“Mana ada yang begitu.” Paris menyangkal itu ada.
“Ada kok Paris.” Asha ikut bicara. “Saat ibu hamil, ada yang rasa sakitnya malah di rasakan oleh suami.”
“Beneran?” tanya Paris tidak percaya. Asha mengangguk.
“Aku juga bereaksi sama sepertimu saat pertama mendengarnya, tapi itu nyata. Mungkin enggak murni suami aja yang mengalami gangguan saat ibu hamil, tapi lebih seperti suami ikut sakit saat kita sakit. Seperti itu.”
________
__ADS_1
PENDAMPING UNTUK PARIS