
"Biema, jaga istrimu dengan baik. Mama titip dia sebagai menantu mama yang pertama." Mama Biema juga memberi pesan-pesan pada putranya.
"Iya, Ma. Biema mengerti." Terakhir Asha mendekat pada Paris bersama Arash.
"Jangan lupain Arash ya, aunty ..." Asha mengajak tangan putranya untuk melambai pada Paris.
"Selamat ya, Arash. Kamu sudah terbebas dari aku. Enggak ada lagi yang bakal gangguin kamu," ujar Paris sambil menciumi pipi Arash dengan gemas.
"Ya, sudah. Mama tinggal, ya ..." Bunda melambai tangan meninggalkan putrinya dan Biema di depan pintu. Setelah bunda menghilang di belokan, Paris segera kembali masuk ke dalam apartemen duluan. Biema pun mengikuti dari belakang.
"Cepat, tunjukkan kamar tidurku," ujar Paris ketus.
"Kamu bisa memakai kamar di sebelah kamar tidur ini." Biema menunjuk kamar di samping kamar yang sudah di siapkan.
Kaki Paris melangkah untuk melihat. Ternyata kamar itu kosong melompong tanpa perabot. Kepala Paris menoleh ke belakang dengan maksud bertanya kenapa kamarnya kosong.
"Aku tidak berniat menyediakan dua kamar, tapi karena aku sudah berjanji padamu jadi terpaksa kamar yang tidak di rawat itu yang akan di pakai."
Hhh ... Paris menghela napas.
"Aku akan mengisi dengan perabot yang kamu sukai. Kita keluar sekarang untuk membeli perabot."
"Tidak perlu." Paris segera menjauh dari pintu kamar.
"Lalu? Tidak mungkin kamu meminta pada keluargamu perabot yang di butuhkan bukan?" Paris berdecih. Kalimat Biema benar. "Ikut saja denganku. Pilih apa yang kamu mau. Aku akan membelikan untukmu."
Mereka berdua sampai di sebuah mebel. Paris tahu tempat ini karena berada di dalam mall. Tempat dia biasa nongkrong selain mall milik keluarganya.
"Pilihlah yang kamu butuhkan dan suka." Paris pun menyusuri perabot yang berjajar di sana tanpa mengajak Biema. Dia ingin memilih sendiri perabot yang akan mengisi kamar tidurnya.
Meskipun gengsi meminta Biema membelikan perabot, kali ini dia harus membuang rasa gengsinya itu jika ingin tinggal dalam kamar tidur yang berbeda.
Ranjang, lemari baju, nakas, dan sofa single untuk bersantai. Gadis ini memilih banyak barang. Paris tidak peduli dia seperti memanfaatkan ini. Toh, Biema sendiri yang menyuruhnya membeli.
__ADS_1
Biema terlihat berbincang dengan seseorang. Perempuan. Paris hanya menoleh sekilas tapi tidak memperhatikan. Bukan sengaja memata-matai pria itu, tapi dia tidak sengaja.
Sebenarnya dia enggan mendekat, tapi dia sudah selesai memilih. Ini waktunya membayar. Dia tidak ingin berlama-lama di sini. Jadi dia mendekat ke arah Biema yang ternyata menyudahi perbincangannya.
"Aku sudah memilih. Silakan kamu membayar." Biema menoleh ke belakang. Entah kenapa, dia seperti terkejut seraya menoleh kedepan. Dia terlihat tengah mencari seseorang. "Biem ..." panggil Paris merasa terabaikan.
"Ya. Aku dengar."
"Bagus," ujar Paris puas. Pria itu segera menuju ke kasir. Sementara Paris melihat-lihat barang di dekat dinding kaca. Saat itu dia bisa melihat perempuan yang berbincang dengan Biema tadi di luar mebel. Perempuan dengan tinggi tubuh semampai. Wajahnya kurang terlihat jelas. Namun Paris yakin dia cantik.
"Perempuan cantik ...," gumam Paris dan melihat-lihat barang lagi. Saat mengangkat wajah dan melihat keluar lagi, dia di kejutkan oleh teman-teman sekolahnya. Dengan masih memakai seragam mereka berjalan santai di dalam mall.
Kaki Paris menjauh dari dinding kaca. Tidak mungkin dia muncul di hadapan mereka yang mengira dirinya sedang sakit. Ternyata bunda meminta ijin sakit untuk Paris. Hanya dua hari. Karena berjalan sambil melihat sesekali ke arah luar, Paris tidak tahu Biema sudah ada di depannya.
"Aduh," keluh Paris saat kepalanya terbentur dada Biema.
"Memangnya kamu sedang apa?"
"Ada teman sekolah. Tidak mungkin aku muncul di sini. Apalagi denganmu." Sambil meringis dan mengusap keningnya, Paris terus saja menjauh dari dinding kaca. Biema menghela napas sambil mengikuti Paris dari belakang.
"Lalu kita tidak pulang?" tanya Biema yang berjalan sejajar dengan Paris.
"Kamu bisa pakai tudung jaketmu ini kalau hanya ingin menghindar dari mereka." Tanpa permisi Biema menarik tudung jaket Paris ke atas. Hingga menutupi sebagian wajahnya.
"Hei!"
"Hanya dengan ini cukup membuatmu tidak terlihat bukan?" Paris mengkerucutkan bibirnya sambil membenahi letak tudungnya. "Ayo pulang."
"Barang-barangku bagaimana?" tanya Paris melihat mereka akan keluar mebel tanpa barang yang sudah di pilih.
"Tentu saja lewat ekspedisi mereka. Tidak mungkin membawa semua furnitur itu dengan mobilku bukan?"
"Benar juga." Mereka pun keluar dari mebel. Sepertinya teman-teman berseragam Paris sudah tidak muncul di sana. Namun mereka justru bertemu Sandra.
"Kakak!" seru gadis ini mendekat. "Kakak sedang apa?"
"Belanja."
__ADS_1
"Belanja? Belanja apaan? Kok enggak bawa barang?"
"Belanja perabot."
"Memangnya kakak di apartemen enggak punya perabot? Bukannya sudah lengkap? Mungkin di dapur sih memang belum ada." Sandra tahu soal kepindahan kakaknya hari ini. Dia tidak ikut karena harus sekolah. "Lalu Paris kemana?" Sandra baru sadar bahwa istri kakaknya itu tidak bersama kakaknya.
"Apa? Aku disini," ujar Paris gusar sambil membuka tudung jaketnya.
"Eh, itu kamu? Aku pikir siapa ..." Sandra tersenyum di kulum. Paris menipiskan bibir.
"Sandra!" teriak teman-teman berseragam tadi.
Busyet! Paris terkejut dan segera memalingkan tubuhnya. Dia lupa memakai tudungnya. Biema mendekat. Mengangkat tudung itu dan memasangkan pada kepala gadis ini. Kemudiam memandang ke depan. Tepat memunggungi Paris.
"Eh, sedang bersama siapa San?" tanya mereka terkejut melihat Biema ada di sana. Bola mata mereka takjub melihat ke arah Biema. Bibir Biema tersenyum menyambut kemunculan mereka. Senyum mereka semakin mengembang tatkala melihat itu.
"Dia kakakku ...," ujar Sandra.
"Kakakmu? Cakeeepp ..." kata mereka pelan sambil senyum-senyum sendiri. Tangan mereka sampai memukul-mukul lengan temannya karena gemas. Biema mendengkus lucu melihat tingkah mereka.
Sementara itu Paris meringis mendengar pujian teman-temannya. Mendengkus kemudian. Geleng-geleng kepala menanggapi mereka. Biema menoleh ke belakang. Dimana gadis itu bersembunyi. Dia tahu gadis di belakangnya itu tengah menertawakannya.
"Boleh dong, di kenalin." Mereka tanpa malu mengatakan ingin berkenalan. Sandra menoleh ke arah kakaknya. Juga kakak iparnya yang sedang bersembunyi.
"Terserah kakakku. Dia mau kenalan apa enggak." Sandra menyerahkan keputusan pada Biema.
"Karena kalian teman adikku, jadi aku mau berkenalan," ujar Biema serasa sedang bertemu dengan anak-anak PAUD. Satu persatupun bersalaman dengan Biema.
"Eh, kak Biema. Kayaknya ada seseorang yang terus saja berada di belakang kak Biema deh," salah satu dari mereka menyadari keberadaan Paris. Yang lain jadi ikut fokus pada Paris yang berada di belakang Biema. Paris terkejut seraya mempererat pegangan pada tudung jaketnya.
"Tidak apa-apa. Dia anak temanku kerja. Tadi dia terlepas dari orangtuanya," ujar Biema asal membuat Paris mendelik. Tidak menyangka pria ini punya selera humor yang tidak lucu.
"Benarkah? Kelihatannya dia bukan anak kecil deh, kak."
"Badannya saja besar seperti kalian, tapi dia sebenarnya masih kecil," jelas Biema membuat mereka mengangguk paham. Sementara Paris menggerutu. Mencaci maki pria di belakangnya.
Sandra terus saja melihat ke arah belakang kakaknya. Was-was. Tidak tahu kapan bom waktu akan meledak. Dia tahu Paris tidak akan biasa saja di ledek seperti itu. Mungkin biasanya Paris cuek, tapi karena rasa tidak sukanya pada pernikahan ini, gadis itu seakan terus saja tidak bisa terima apapun yang di katakan Biema.
__ADS_1