Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Masih mengantuk


__ADS_3

Tidak ada pergulatan panas setelah ciuman itu. Biema cukup tahu diri saat ini istrinya tidak bisa di ganggu dengan hal-hal seperti itu. Cukup kelelahan karena kemarin saja, yang membuat Paris tidak berdaya. Jadi pagi ini ciuman di bibir saja sudah cukup.


Bibir Paris bergerak-gerak merasakan bekas ciuman barusan. Dia masih berada pada posisi malas. Usai membungkuk untuk menggapai bibir Paris, Biema mulai menegakkan punggungnya. Lalu mengusap kepala gadis ini pelan. "Ayo makan. Aku akan mengantarmu." Paris masih enggan. Biema menarik bahu kursi. Memberi ruang pada kakinya untuk duduk. "Semua pasti kecewa jika kali ini ujian mu gagal lagi. Terutama ayah dan Bunda." Sebuah nasehat yang bagus. Juga tepat sasaran. Karena akhirnya ada reaksi dari Paris.


Paris mengangkat kepala dan tubuhnya dengan enggan. Seragam gadis ini sedikit kusut di beberapa sisi. Namun itu tidak memudarkan kilau seorang Paris bagi Biema.


"Curang, memakai nama ayah dan bunda," sungut Paris.


"Bukan curang. Hanya cara yang jitu." Biema meneguk air putih dulu sebelum mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Lagipula kamu mau, bersedih soal di keluarkan dari sekolah akan sia-sia? Padahal aku dan kak Arga juga sudah berjuang untuk itu." Paris mencibir. Biema tidak mendebatkan cibiran Paris yang justru membuat Biema senang karena keimutannya yang tidak di buat-buat. Maksud Paris adalah mengejek, tapi justru terlihat menggemaskan baginya.


Tangan Paris mulai bergerak mengangkat sendok. Badan serasa remuk.


"Aku boleh makan sambil tiduran ya ...," pamit Paris. Lalu kembali menyandarkan kepala di atas meja. Biema menghela napas. Lalu dia berdiri dan berjalan mendekati sisi Paris. Mengambil piring gadis itu.


"Ayo duduk. Aku suapin," kata Biema. Dia berdiri di samping Paris. Karena kursi hanya cukup untuk dua orang.


"Enggak mau. Kayak bocah," ujar Paris yang langsung menegakkan tubuh.


"Memang masih bocah."


"Tapi sudah di gituin sama kamu," sungut Paris. Biema tergelak.


"Ayo buka mulut." Meskipun menolak, tapi Paris mengikuti apa yang di katakan Biema. Mulutnya terbuka. Biema menyuapinya dengan telaten. Mulut Paris bergerak-gerak sambil merasakan masakan buatan Biema yang lezat.


"Enak," komentar Paris singkat. Biema hanya tersenyum.


"Makan yang banyak." Biema berjalan ke sisi lain. Bola mata Paris memperhatikan. Rupanya Biema ingin mengambil kursi. Karena kursi makan mereka hanya ada dua. Dia ingin duduk di samping Paris. Jadi menyuapi lebih mudah.


"Kamu enggak bisa makan dong," kata Paris kasihan. Dia melihat piring Biema di tingglakan begitu saja. "Sini. Biar aku makan sendiri aja," ujar Paris seraya ingin meraih piring yang di pegang Biema.

__ADS_1


"Enggak. Biar aku suapi. Katanya capek." Biema menjauhkan piring dari jangkauan tangan Paris.


"Tapi kamunya jadi enggak makan," paksa Paris. Dia berusaha meraih piring itu.


"Sudah. Aku enggak apa-apa. Kalau kamu harus segera sarapan karena bentar lagi berangkat sekolah. Harus ada makanan yang masuk ke perut karena nanti akan mengerjakan soal ujian. Kalau aku bisa makan menunggu selesai nganterin kamu. Lagipula bukannya stamina pria lebih kuat daripada wanita?"


"Aku yakin soal stamina itu," ujar Paris sambil membuang muka ke arah lain. Dia tersipu sendiri dengan kalimat menjurus ke arah 'sana'. Biema tersenyum.



Makan pagi Paris sudah tuntas. Sekarang waktunya Biema mengantar istrinya menuju ke sekolah. Mata Paris masih sedikit lesu saat masuk mobil. Hingga gadis itu terlelap begitu saja saat mobil melaju. Tidak bisa di debat lagi dia begitu lelah.


Biema tersenyum melihat istrinya tidur. "Dia tidur begitu lelap. Mirip sekali dengan bocah polos."


Pada dasarnya, Paris memang masih bocah jika di bandingkan dengan dirinya. Mungkin justru dirinyalah yang 'merusak' Paris untuk tidak jadi bocah lagi. Kepolosan Paris mungkin akan hilang berganti dengan kedewasaan untuk mengimbangi Biema. Seringkali saat usia sepasang suami istri terpaut jauh, justru wanita yang akan mengejar rentang umur yang ada. Jadi wanita akan terlihat dewasa menyamakan umur sang pria.


Tangan Biema segera menahan kepala gadis itu. Lalu perlahan meletakkan kepala itu pada bahunya. Biema mengemudikan mobil sambil memegangi kepala gadis ini agar tidak lagi mengayun.


Mobil sudah tiba di dekat sekolah. Namun Paris masih tertidur hingga Biema perlu membangunkannya. Sebenarnya tidak tega, tapi ini harus. Paris harus bangun demi mengikuti ujian.


"Paris ... Bangun ...," ucap Biema pelan membangunkan gadis ini. Namun Paris tidak bereaksi. Dia tetap terlelap. "Paris .. Kita sudah sampai di sekolah kamu. Kamu harus bangun," bisik Biema lagi.


"Nnggg ...." Paris bergumam pelan. Selanjutnya kelopak mata itu membuka perlahan. Tampaklah wajah tampan Biema di depannya, saat kedua bola matanya terbuka sempurna. Pria itu menatapnya lembut. "Biema ...," ucapnya lirih. Biema masih memegangi kepala gadis ini karena sepertinya gadis ini masih berada dalam separuh jiwa.


"Kamu bangun juga akhirnya." Manik mata Paris melihat ke kanan ke kiri.


"Aku tertidur rupanya." Paris menegakkan kepala menjauh dari bahu Biema. Lalu kembali bersandar pada kursi mobil. Tangannya mengusap wajah dengan lembut. "Kita sudah sampai?" tanya Paris lemas karena baru bangun tidur.


"Ya," sahut Biema.

__ADS_1


Paris mengucek matanya. Lalu melihat keluar jendela. Tampak pagar sekolah yang mengelilingi halaman depan.


"Baiklah aku harus sekolah. Ini harus," ujarnya menyemangati diri sendiri meski dengan suara lemas. Paris merapikan rambut dan pakaiannya. Biema mendekat untuk membantunya.


"Selesai. Istriku sudah cantik," kata Biema sambil melihat Paris dengan seksama. Kemudian menjauh dari kursi gadis itu untuk kembali pada kursinya sendiri.


Lalu Paris membuka pintu. Masih dengan tubuh dan ekspresi kelelahan. Dari pintu di sisi lain mobil, Biema juga ikut keluar. Paris menoleh saat pria itu mendekat ke arahnya.


"Kenapa ikut keluar?"


"Aku mau anterin kamu."


"Tidak perlu di antar masuk ke dalam. Aku tidak apa-apa," tolak Paris.


"Benarkah? Aku cemas."


"Tidak. Tidak apa-apa." Paris menggerakkan telapak tangannya untuk meyakinkan Biema bahwa dia baik-baik saja.


"Aku harap begitu."


Tanpa sadar Paris tiba-tiba mengulurkan tangan. Bola mata Biema menunduk, melihat ke arah tangan gadis ini dengan heran. Kemudian mendongak, menatap gadis ini.


Apa maksudnya? Apa kartu kredit sudah habis limitnya? tanya Biema menerka-nerka sendiri maksud gadis ini melakukan itu. Tidak mungkin berjabat tangan bukan? Ah sudahlah.


Biema memilih tidak ambil pusing. Dia mengikuti apa yang di lakukan gadis ini. Biema ikut mengulurkan tangan. Tiba-tiba saja Paris meraih tangan Biema dan meletakkan punggung tangannya ke arah pipi lembutnya. Biema terkejut. Bahkan meski Paris sudah melepaskannya, Biema masih terkejut.


"Aku masuk ya ... Doain aku bisa mengerjakan ujian ...," ujar Paris dengan gaya malasnya. Mata gadis ini seperti masih setengah sadar. Rasa kantuknya masih ada.


__ADS_1


__ADS_2