Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Baby shop


__ADS_3

Biema hanya mengikuti keinginan istrinya. Malam ini mereka tiba di mall keluarga Paris. Langkah mereka menuju ke tempat pakaian bayi.


"Mau beli baju bayi?" tanya Biema. Paris menggeleng.


"Enggak. Masih belum boleh. Entar kalau perut sudah besar," sahut Paris sambil terus menyeret tangan suaminya untuk berjalan mengikutinya.


"Lalu kita ngapain ke sini?" tanya Biema heran karena Paris menyeretnya ke baby shop.


"Lihat-lihat. Oh, Biema ... " Paris melepas tangan Biema untuk segera mendekat ke arah pajangan dress pesta bertema unicorn yang begitu indah. "Lihatlah. Lihat. Dress ini sangat bagus dan indah kan?" Paris menunjuk dan sesekali menoleh ke arahnya untuk mengatakan bahwa dress mungil itu begitu indah.


Seorang pramuniaga mendekat.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya perempuan itu ramah.


"Kita masih lihat-lihat dulu. Tidak apa-apa," ujar Biema memberitahu. Pramuniaga itu mengangguk mengerti. Itu berarti pembeli tidak ingin di layani secara khusus.


"Baiklah Tuan. Anda bisa memanggil saya jika ada yang di perlukan."


"Ya. Terima kasih." Paris masih terus berjalan dan di ikuti Biema di belakangnya. Perempuan ini masih terus saja mengagumi dress anak perempuan yang lucu-lucu. "Kamu ingin anak kita nanti, perempuan?" tanya Biema. Paris menoleh sambil menyisakan senyum karena terpukau dengan gaun yang indah tadi.

__ADS_1


"Enggak."


"Trus? Kenapa kita lihat-lihat baju anak perempuan kalau kamu enggak suka anak perempuan?" tanya Biema heran. Sejak tadi ia berpikiran kalau istrinya sangat menginginkan anak perempuan karena sejak tadi berjalan di sekitar pakaian anak perempuan. Ternyata dugaannya salah.


"Karena itu kesukaanku dulu," kata Paris sambil melebarkan senyum. Rupanya ia sedang bernostalgia dengan masa kecilnya.


"Benarkah?" tanya Biema takjub. Karena jika gaun-gaun ini yang jadi kesukaan Paris dulu, kenapa gadis ini justru tumbuh jadi perempuan tangguh. Yang sepertinya jauh dari kata feminim.


"Dulu aku suka sekali memakainya," kata Paris seakan itu sangat mustahil juga.


"Istriku ini memakai dress yang begitu imut? Lalu bagaimana jadinya?" tanya Biema penasaran.


"Aku yakin itu benar. Karena sampai sekarang, kamu itu tetap lucu dan gembul. Sampai-sampai aku ingin mencubitmu dan menciumi kamu." Saat mengatakan ini, Biema mendekatkan diri pada wajah Paris, sampai membuat dirinya panik dan menutup bibirnya dengan rapat-rapat. Takut kalau pria ini benar-benar melakukannya di sini. Biema tergelak. "Protektif banget," cela Biema.


"Tentu saja. Aku takut kamu akan mencuri-curi waktu mencium bibirku di sini," sahut Paris masih dengan bibir di tutupi tangannya. Tangan Biema menangkup kedua pipi Paris.


"Benar. Aku ingin melakukannya, tapi enggak jadi. Banyak orang yang mulai melihat ke arah kita sekarang," kata Biema membuat Paris memaksakan bola matanya beredar ke seluruh penjuru baby shop. Benar. Mereka sedang di soroti banyak mata. Mungkin mereka tidak mengira bahwa gadis muda ini adalah seorang istri yang akan menjadi seorang ibu. Melihat wajah hemat Paris dan Biema, mereka berdua akan terlihat begitu, karena perbedaan usia. Jadi lebih mirip gadis yang sedang bermesraan dengan om-om.


"Sepertinya mereka salah paham. Sebaiknya kita keluar," kata Paris agak panik.

__ADS_1


"Benar." Biema tergelak. Lalu memeluk istrinya dan membimbing tubuh itu untuk keluar dari baby shop. Paris tertawa renyah saat sampai di luar baby shop. "Mau kemana ini?"


"Main game. Aku mau main game," ujar Paris.


"Game?" tanya Biema.


"Aku biasa main game saat suntuk. Tuh. Kita main di sana." Paris menunjuk ke arah game center di depan mereka. Biema melihat ke arah arena game dengan berbagai mesin permainan. Sudah lama dirinya tidak melihat mesin seperti itu. Sejak menjadi direktur di perusahaan keluarga, dia melupakan banyak hal yang ia lakukan dulu. Termasuk game itu.


Meski bukan mainan favorit, ia sering bersama Fikar ke tempat ini. Bukan dirinya yang bermain, tapi Fikar. Pria itu yang sering pamer pada cewek-cewek karena keahliannya.


Seperti biasa Paris berjalan lebih dulu. Biema menghampiri kemudian.


"Aku lupa enggak bawa kartu member. Daftarin dulu dong," kata Paris yang kelihatan sekali ekspresi mudanya. "Aku tunggu di sini ya ..." kata Paris sambil melihat-lihat ke sekitar area game.


"Baiklah." Biema melangkah setuju. Saat melihat punggung suaminya yang berjalan sendirian, Paris berubah pikiran. Ia menyegerakan kaki untuk mensejajari langkah pria itu. Lalu menyelipkan tangan pada lengannya. Biema menengok ke samping heran. "Katanya tunggu di sana? Kok ikut?"


"Aku enggak mau membiarkan suamiku berjalan sendiri. Karena itu membuat orang pikir kamu masih single," ujar Paris dengan mata berkilat serius. Biema tertawa. Saat itu ada Mela melintas di luar area game. Rupanya Paris tahu ada perempuan ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2