Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Kata Mama


__ADS_3


Mama mengantarkan menantunya ke kamar tidur. Sandra mengikuti mereka di belakang. Paris berbaring di atas kasur dengan mata tertutup. Ia mencoba mengahalau rasa tidak nyaman itu.


"Jadi kondisi Paris yang pucat ini karena ia tidak suka parfumnya Sandra?" tanya Biema ingin tahu apa pendapatnya benar. Karena itu juga aneh di telinganya.


"Mungkin." Mama masih tersenyum. Beliau seperti tahu sesuatu. Paris yang tadi memejamkan mata karena ingin tidak nyaman pada perutnya tidak mengganggunya, kini membuka mata. Ia mendengar perbincangan mereka semua. Namun ia sendiri tidak paham apa yang di bicarakan mereka. "Istirahat saja kalian. Biema mungkin masih belum seratus persen sehat. Paris juga mungkin kelelahan dan sebagainya. Mama akan turun ke bawah dan panggil dokter kesini," kata mama.


"Paris enggak apa-apa, Ma," kata Paris berusaha bangun.


"Jangan. Jangan bangun. Mama tahu. Baiklah. Kamu bisa istirahat." Mama tersenyum. "Sandra, ayo kita keluar. Bukannya tadi kamu mau pergi?"


"Ya. Sandra mau jalan-jalan sama teman," Sandra antusias. Gadis itu menjawab dengan riang. Suara langkah mama dan Sandra perlahan menghilang. Mereka sudah turun ke lantai bawah Sepertinya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Biema yang mulai rebahan di sampingnya. Paris yang tadinya melihat ke pintu, kini menoleh pada Biema.


"Ya."


"Wajahmu terlihat pucat. Aku yakin kamu sakit." Biema mendiagnosa sendiri. Kepala Paris menggeleng.


"Aku enggak sakit. Perutku hanya tidak nyaman saja. Sekarang bahkan tidak apa-apa."


"Benarkah?" tanya Biema terus saja khawatir. Paris menyelipkan tangannya pada bawah lengan Biema. Memeluk pria itu dengan erat.


"Lihatlah. Aku bisa memelukmu seperti ini. Itu artinya aku sehat," ujar Paris yang menempelkan pipinya pada dada bidang pria ini.


"Apakah tadi karena kamu alergi aroma parfum?" Biema memeluk tubuh Paris juga.


"Aku tidak paham, tapi mungkin saja. Aroma parfum Sandra memang begitu menyengat tadi, aku merasa ingin muntah," curhat Paris. Biema mengelus rambut istrinya dengan lembut.


"Benar. Parfum Sandra memang menyakitkan Indra penciuman orang," ejek Biema. Paris tergelak pelan. "Jangan sakit. Aku terus cemas."


"Aku juga cemas saat kamu yang biasanya sehat dan kuat, tiba-tiba sakit." Paris membalas. Mereka masih berpelukan.

__ADS_1


"Kuat ya ..." Biema tersenyum miring.


"Kenapa ketawa? Bukanya itu tidak lucu?" tanya Paris.


"Tidak apa-apa. Aku akan cepat sembuh. Karena aku juga tidak suka sakit. Aku lebih suka sehat dan kuat." Biema mengecup pucuk kepala istrinya.


"Sandra. Sebaiknya kamu jangan terlalu mendekat ke kakakmu," pinta mama saat mereka berdua tiba di lantai bawah membuat langkah gadis ini berhenti.


"Kenapa?" Sandra terheran-heran.


"Sepertinya kakakmu ini sangat sensitif dengan aroma parfum," ujar mama menjelaskan. Rupanya beliau sadar. Biema menoleh. Dia yang sejak tadi melihat ke arah istrinya dengan khawatir, mulai terusik dengan kalimat mamanya.


"Sensitif? Sejak kapan? Setahu aku, Kak Paris itu tidak pernah terganggu dengan wangi parfum apapun." Sandra tahu benar kesukaan Paris karena mereka adalah sahabat.


"Tidak lama. Mungkin mulai belakangan ini saja. Atau bahkan mulai hari ini," ujar mama sambil tersenyum. Sandra mengerutkan kening masih belum paham.


**


Matahari meredup berganti bulan. Sore pun lenyap berganti malam. Biema turun dari lantai atas. Kakinya melangkah menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering. Ia ingin minum untuk membasahi kerongkongannya.


"Ya, Ma."


"Mama bilang Paris juga sakit. Bagaimana keadaanya?" tanya papa.


"Ya. Namun tidak apa-apa. Sepertinya dia kelelahan menjagaku saat sakit." Biema menjelaskan.


"Kamu sendiri bagaimana?" tanya papa lagi.


"Sudah mendingan, Pa," sahut Biema.


"Untung saja Biema sudah mulai enakan, Pa. Jadi enggak semuanya sakit." Mama menambahi.


"Benar. Syukurlah. Kalian tidak usah pulang dulu. Menginap saja lagi." Papa memberi nasehat.

__ADS_1


"Ya," desah Biema. "Aku memang belum berencana untuk pulang." Setelah percakapan usai ia menuju ke belakang. Mengambil gelas dan membuka pintu lemari es. Menuangkan air ke dalam gelasnya. Kemudian meneguk air dingin itu. Terasa segar di kerongkongannya.


"Biema, lebih baik kamu antar istrimu ke dokter." Mama muncul di dapur menyusul putranya. Beliau mengambil buah di atas meja makan.


"Ya. Sebenarnya aku mau mengantarnya ke dokter besok pagi. Karena sepertinya dia masih enggak mau di periksa sekarang. Apa dia harus memeriksa karena alergi parfum itu, Ma? Mama khawatir soal itu kan ..." tanya Biema sembari mendekati meja makan.


"Bukan. Mama bukan khawatir soal itu." Mama yang masih memutar untuk mengambil pisau buah tersenyum mendengar pertanyaan putranya.


"Lalu? Sepertinya dia kelihatan sehat meski sedikit pucat. Mungkin tidak perlu ke dokter." Biema mulai duduk di meja makan. Mama yang sudah mengumpulkan pisau dan buah di tangannya berhenti di meja makan. Menoleh keluar sebentar, kemudian Ikut duduk bersama putranya.


"Mama tahu, tapi ... kamu harus tetap membawanya ke dokter. Karena mungkin saja dia hamil," ujar mama langsung membuat Biema membeku sejenak.


"Bisa di ulangi lagi, Ma?" tanya Biema kemudian, karena merasa tidak yakin dengan apa yang sudah di dengarnya barusan.


"Iya ... Mungkin saja istrimu itu sedang hamil." Dengan senang hati mama Biema mengatakannya lagi. Beliau tersenyum saat mengatakannya. Biema menatap mamanya tidak percaya.


"H-hamil, Ma?" tanya Biema yang mencondongkan tubuhnya ke arah mamanya dengan terbata. Gelas di tangannya sempat bergetar karena pria ini begitu terkejut. Kepala mama mengangguk sambil tersenyum di bibirnya.


Biema bergerak mundur meletakkan punggungnya pada badan kursi. Menghela napas panjang.


"Sudah. Mama mau ke depan. Papamu ingin makan buah pir." Mama berdiri. Kemudian menyentuh tangan Biema sebentar, sebelum pergi meninggalkan putranya sendirian. "Biema. Kamu bisa membeli tes kehamilan dulu jika tidak ingin segera ke dokter." Setelah memberitahukan itu, beliau berjalan menjauhi dapur.


"Hamil? Paris?" Raut wajah Biema yang tadinya membeku karena tertegun mendengar kabar gembira ini, kini merebak bahagia. Ia langsung menghabiskan minumannya dan menuju ke lemari es lagi. Mengambil sekotak agar-agar dingin lalu naik ke atas.


Langkahnya lebar karena senang. Wajahnya juga cerah bahagia. Pria ini kesenangan. Lantai atas ini terasa begitu dekat. Karena dia sudah sampai dengan cepat kesana. Biema membuka pelan pintu kamar.


"Biema?" Rupanya Paris sudah bangun. Dia sudah membuka matanya sambil masih berselimut.


"Aku pikir kamu masih tidur. Tidur saja lagi karena kamu memang butuh istirahat." Biema menutup pintu.


"Enggak. Aku ingin bangun. Itu apa?" tunjuk Paris pada kotak yang di bawa suaminya.


"Agar-agar. Kamu mau?" tawar Biema sambil memamerkan wadah itu. Paris mengangguk-anggukkan kepala antusias. Dia senang. Sepertinya ia begitu menyukai agar-agar.

__ADS_1



__ADS_2