Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Akhirnya


__ADS_3

Semua bersorak-sorai gembira setelah mendapat pengumuman kelulusan masing-masing dengan pasti. Itu artinya mereka akan terbebas dari sekolah. Namun Paris masih cemas karena surat kelulusan belum sampai di tangannya.


Sandra ingin ikut bersorak sorai di luar kelas dengan yang lain, tapi itu tidak mungkin di lakukannya karena ada kakak iparnya yang tengah bersedih.


"Apa aku enggak lulus?" tanya Paris.


"Pasti lulus, Paris ..."


"Lalu? Lalu kenapa aku belum dapat surat kelulusan?" tanya Paris melebarkan tangannya mempertanyakan soal itu.


"Bukannya Bu guru masih mencarinya tadi," ujar Sandra menenangkan iparnya. "Pasti sebentar lagi beliau menyerahkan surat itu padamu. Enggak mungkin hilang bukan? karena itu dokumen penting."


"Ya. Aku dengar, tapi pasti karena aku tidak termasuk murid yang lulus. Makanya surat kelulusan ku enggak di kumpulkan jadi satu dengan teman-teman yang lain," tukas Paris memprediksi.


"Jangan asal menebak. Berpikir positif sajalah. Jangan berpikir yang tidak-tidak," ujar Sandra yang khawatir dengan tebakan dan dugaan asal gadis ini. Paris meringis tiba-tiba. Tangannya mengusap perutnya berulang-ulang.


"Perutmu sakit lagi? Aduh ... Aku bilang apa ... Jangan berpikir macam-macam," ujar Sandra dengan panik. Ia menggeser pantatnya lebih mendekat ke Paris. Lalu mengelus punggung Paris. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Jadi dia hanya berusaha membuat iparnya nyaman dengan menggosok punggungnya.


Paris mengatur napas dan menarik napas dalam-dalam. Lalu menghembuskan pelan-pelan.


"Hhh ..."


"Sudah baikan?" tanya Sandra masih cemas. Paris tidak menjawab, tapi dari napas Paris yang teratur menandakan ia baik-baik saja. "Sekarang tenang saja. Enggak usah mikirin soal lulus. Kak Biema bisa menerima itu kok. Yang penting kamu dan bayi kamu sehat," ujar Sandra prihatin. Paris mengangguk. Ternyata saat dia berpikir keras, janinnya bereaksi.


**


Tidak perlu butuh waktu yang sangat lama untuk Paris mengetahui soal surat kelulusan itu. Dia di panggil ke kantor untuk menemui wali kelasnya.

__ADS_1


"Saya sudah mendapatkan surat pemberitahuan kelulusan milikmu," kata beliau yang tampak lega juga. Menjadi tanggung jawabnya jika itu hilang.


"Terima kasih, Bu," kata Paris.


"Ibu lupa kalau kamu ujian menyusul waktu itu. Jadi memang di sendirian dari pusat. Bukan bareng dengan teman sekelasmu, tapi bareng dengan anak-anak yang ujian menyusul juga waktu itu," tutur wali kelas membuat Paris mengerti. Ya, dia memang ujian menyusul karena drama itu. "Ini punyamu." Wali kelas menyerahkan amplop itu.


"Terima kasih, Ibu. Saya permisi."


Di luar kantor, Sandra sudah menunggu.


"Gimana?" tanya gadis ini langsung. Paris menunjukkan amplop putih dengan kop surat sekolah. "Syukurlah." Mereka bergegas menjauh. Tepat di taman, kaki mereka berhenti. Paris menarik napas sebentar sebelum membuka amplop. Setelah itu baru ia mulai mengeluarkan surat tanda lulus atau tidak dari amplop.


...----------------...


Biema yang sedang melewati lorong tersenyum. Ia mendapat kabar baik dari Paris.


"Ya," jawab Biema.


"Apa Paris lulus?"


"Tentu saja. Ia memberitahuku lewat chat barusan." Biema menunjukkan dia ikut berbahagia dengan berita itu.


"Akhirnya gadis itu benar-benar akan menjadi istri yang sebenarnya," ujar Fikar.


"Dia memang istriku yang sebenarnya, Fikar ...," desis Biema.


"Hei ... maksudku ia tidak akan lagi bergelut dengan dunia SMA-nya lagi, tapi ... berganti profesi menjadi istrimu," ralat Fikar yang jadi kelabakan.

__ADS_1


"Aku tahu itu," tukas Biema.


"Jadi dia akan merayakan momen berharga ini bersama teman-temannya?" tanya Fikar penasaran. Mendadak ia jadi mengenang waktu hari kelulusan dulu.


"Aku rasa tidak."


"Tidak?" seru Fikar seakan tidak percaya.


"Sepertinya dia akan langsung pulang karena dia tidak ingin pergi bersama teman-temannya."


"Kamu melarangnya?"


"Tidak. Itu hanya sikap tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Dia tidak ingin pergi sembarangan tanpa ijin dariku."


"Itu sikap yang cukup dewasa, tapi ... entah kenapa aku merasa prihatin dengannya."


"Kenapa?" tanya Biema dengan kedua alis bertaut. Dia tidak setuju.


"Bisa kamu bayangkan betapa menyebalkannya jika kita melewatkan hari kelulusan dengan berdiam diri di rumah. Itu sungguh konyol, Biem ...," kata Fikar.


"Diam di rumah dengan tidak ikut keramaian yang tidak berguna bukan konyol, Fikar. Itu pilihan tepat." Lagi-lagi Biema tidak setuju dengan pendapat Fikar.


"Oh, ya? Apa kamu lupa kalau kamu akhirnya ikut berkonvoi denganku karena tiba-tiba setuju dengan pendapatku?" Fikar berusaha mengingatkan lagi soal mereka berdua kala masa sekolah dulu. Biema terdiam dan teringat lagi cerita itu.


"Karena kita tidak akan mengulang lagi masa seru lulus sekolah?" kata Biema yang ingat apa yang di koar-koarkan Fikar saat Biema akan memilih pulang daripada bergembira ria bersama kawan-kawannya.


"Benar. Kamu masih ingat itu." Fikar senang saat Biema mengatakan lagi kalimat itu. "Ini masa yang tidak akan pernah terulang lagi Biema. Jadi aku rasa sungguh memprihatinkan jika seseorang melewatkan masa seru ini dengan pulang ke rumah."

__ADS_1


......................


__ADS_2