Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Ruang kepala sekolah


__ADS_3


"Kami ingin bertemu dengan pihak yang punya wewenang atas pengeluaran siswa bernama Paris Hendarto," ujar Fikar sopan.


"Paris?" Bola mata perempuan itu menatap ke arah satu-satunya gadis di antara mereka berdua. Melihatnya dengan seksama. Paris langsung melepas genggaman tangan Biema dan mengangguk sopan. Bermaksud menyapa ibu gurunya. "Oo ... siswi yang sudah menikah itu ...." ujar guru perempuan ini tanpa sadar. Sedikit ada nada meremehkan di sana.


Biema yang tahu guru itu mengamati Paris ikut menoleh pada gadisnya. Lalu menemukan Paris melipat bibirnya perlahan. Merasa terpojok karena bersalah.


"Ya. Dia memang sudah menikah. Dia istri saya." Biema menimpali.


"Ha? Istri Anda?" tanya perempuan itu terkejut. Bahkan tadi dia langsung menoleh cepat pada Biema karena mendengar informasi yang baru di katakan. Paris menghela napas.


"Benar. Dia di keluarkan dari sekolah karena menikah dengan saya." Bukannya bersembunyi, Biema justru memamerkan statusnya tanpa malu. Kemudian tersenyum dengan dingin ke arah perempuan itu. Fikar menggelengkan kepala. Paris mengerjapkan mata sekilas saat mendengarnya.


"Maaf." Beliau segera meminta maaf saat sadar kalimatnya tidak sopan. Sementara itu dari dalam ruangan, seorang pria sedang menjulurkan kepala. Melongok keluar karena mendengar ada yang membahas siswi yang di keluarkan.


"Sepertinya ada yang mencari Anda, Pak," ujar pria yang menjulurkan lehernya kepada wakil kepala sekolah.


"Siapa?" tanya wakil kepala sekolah yang tengah asyik duduk di sofa ruangan kepala sekolah.


"Kurang tahu. Emm ... Sepertinya wali murid dari siswi yang Anda keluarkan waktu itu."


"Oh, yang seringkali membuat putriku kesal itu?"

__ADS_1


"Ya. Dia membawa dua pria dengan memakai setelan jas bagus. Apakah Bapak mau menemuinya?"


"Tidak perlu, aku sedang ingin bersantai." Namun ternyata guru perempuan tadi sudah mempersilakan mereka masuk.


"Gawat, Pak. Bu Amel sudah menyuruh mereka masuk ke dalam ruangan," seru guru BP panik.


"Aduh. Aku tidak bisa melanjutkan bersantai ini," keluh pria paruh baya ini.


"Ada yang mencari bapak wakil kepala sekolah Pak," ujar Bu Amel kepada guru BP. Lalu langsung di jawab dengan anggukan. Setelah itu menyuruhnya keluar ruangan dengan cepat.


Decakan kesal terdengar pelan dari mulut wakil kepala sekolah. Orang ini akhirnya bangkit dari tempat duduknya sambil memberi kode pada guru BP. Dari posisi guru perempuan tadi, tingkah wakil kepala sekolah memang tidak terlihat. Makanya dia menyuruh guru BP yang bicara.


"Oh, iya Bu. Suruh duduk di sofa saja." Guru BP menanggapi. Setelah mempersilakan Biema dan yang lain duduk, guru perempuan itu keluar.


"Selamat siang," sapa Fikar.


"Siang," sahut wakil kepala sekolah datar. "Ada kepentingan apa?" tanya pria tua ini sambil duduk di kursi. Bola matanya beredar ke satu persatu orang di depannya. Sementara guru BP yang sepertinya jadi asistennya itu berdiri di sebelahnya.


"Saya datang kesini untuk mempertanyakan keputusan sekolah ini mengeluarkan Paris Hendarto," ujar Fikar sambil menunjuk ke arah Paris tanpa basa basi. "Dia yang seharusnya sekarang sedang mengerjakan soal ujian negara, tapi kini justru berada di sini."


"Paris Hendarto ... Mmm ...," Wakil kepala sekolah berpura-pura berpikir. Bola matanya memandang Paris. Gadis ini tidak terima di keluarkan dari sekolah? Bebal juga. Apalagi dia juga membawa walinya yang merupakan CEO perusahaan textil itu. "Anda tidak tahu penyebab anak ini di keluarkan dari sekolah?" tanya wakil kepala sekolah dengan ekspresi wajah merendahkan.


"Ya. Kami tahu. Justru karena kami tahu, kami datang ke sini ingin bertanya lebih lanjut keputusan sekolah mengeluarkannya." Fikar menjawab pertanyaan dengan tenang. Biema sengaja membiarkan Fikar yang menjawab.

__ADS_1


"Seperti yang Anda ketahui, gadis ini telah melanggar peraturan sekolah dengan menikah saat masih menjadi siswi sekolah ini. Jelas sekali bahwa tidak perlu di bicarakan lagi disini. Anda hanya perlu menuruti dan menerima, bahwa siswi ini tidak dapat meneruskan sekolah. Meskipun itu sedang ujian." Dua orang ini merasa yakin dan menang. "Saya rasa itu ide yang sangat konyol. Menikah di saat dirinya justru belum menjalani ujian negara." Wakil kepala sekolah mendengkus. Mencibir tindakan siswinya yang tidak menaati peraturan. "Saya jadi ingin melihat suaminya sekarang," kata wakil kepala sekolah dengan sikap congkaknya. Guru BP mengangguk setuju saat kepala wakil kepala sekolah menoleh ke arahnya.


Bola mata Fikar melirik ke arah Biema. Ini secara tidak langsung telah menghina Biema dengan terang-terangan. Namun pria itu hanya diam dengan tenang. Tidak terprovokasi dengan kalimat wakil kepala sekolah.


"Tuan ini yang menjadi suami dari Paris Hendarto, Bapak," ujar Fikar memperkenalkan Biema secara terbuka. Memberi tekanan pada kalimatnya agar mendapat fokus penuh dari Wakil kepala sekolah. Mendengar itu, dia menoleh lambat-lambat pada Biema.


"Jadi Anda adalah suami dari gadis ini?" tanya wakil kepala sekolah sedikit terkejut. Orang di sampingnya juga terkejut.


"Tuan Biema tidak akan repot-repot datang kesini jika gadis ini bukanlah istrinya. Beliau cukup menyuruh saya sebagai bawahannya untuk menyelesaikan masalah ini." Fikar tersenyum untuk balik menyerang senyum sinis pria paruh baya ini tadi.


"Sungguh di sayangkan orang sepintar Anda justru melakukan hal seperti ini, Tuan. Dia masih sekolah. Dia harus menuntaskan dulu kewajiban bersekolah, baru kemudian menikah. Bukankah urutan itu yang tepat?" tanya wakil kepala sekolah seperti mendapat angin segar untuk menghina Biema. Dia punya ruang untuk melawan.


"Menikah itu adalah kewajiban seseorang jika sudah dewasa dan mampu bertanggung jawab. Saya sudah mampu bertanggung jawab akan dirinya sepenuhnya. Jadi daripada berkeliaran kesana kemari dengan pasangan tidak jelas, menurut saya ... menikah adalah pilihan tepat." Biema menjawab dengan bijak.


"Bagaimanapun menikah saat dalam masa sekolah itu tidak bisa di terima, Tuan." Orang di samping wakil kepala sekolah ikut menyuarakan ketidaksetujuannya. "Apalagi dia juga menjadi gadis tidak benar di luar sana," imbuh orang ini membuat Biema menyipitkan mata. Paris memandang gurunya dengan geram.


Pasti dia juga membahas soal gosip itu. HH ... buat apa soal itu di bahas ... ujar Paris di dalam hati.


"Ya. Gadis ini menjadi sudah menjadi gadis panggilan," ujar wakil kepala sekolah ikut membenarkan. Dia bangga sudah mengungkapkan aib itu. Tangan Paris mengepal. Dia sangat kesal dengan lagak mereka berdua. Persis dengan Priski. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mereka mirip. Tangan Biema terulur menahan kepalan tangan Paris. Dia tahu itu dan mencoba menenangkannya. Paris menoleh. Saat itu Biema menatapnya lembut. Seakan memberi ketenangan untuk Paris.


Bahu Paris menurun. Itu menandakan dia tidak lagi menegang karena geram. Semuanya luruh berkat Biema yang senantiasa mendinginkan suasana hatinya. Namun rupanya Biema tidak bersikap demikian terhadap mereka berdua. Pria ini justru menajamkan pandangan seakan ingin membunuh para orang-orang sekolah yang ada di depannya saat ini juga. Fikar menemukan itu saat melirik ke arahnya.


__ADS_1


__ADS_2