
Di sekolah.
Paris tertawa senang saat tahu dia lulus. Itu berarti kekhawatirannya tidak terbukti. Dia lulus. Mungkin kalau nilai tidak bisa di harapkan. Namun sudah dinyatakan lulus saja itu sudah begitu menggembirakan. Dia tidak harus ikut paket c mengulang ujian demi di nyatakan lulus. Karena akan berbeda dengan kelulusan seperti saat ini.
"Selamat ya, Paris," ujar Asha di seberang. Sebenarnya sudah sejak tadi perempuan ini bertanya soal kelulusan pada Paris. Namun, karena dia belum tahu pasti, lulus atau tidak karena masalah surat miliknya belum ketemu, Paris tidak berani membalas. Baru sekarang ia bisa dengan bangga memberitahu kakak ipar sekaligus teman curhat nya itu.
"Ya, Kak."
"Bentar, Bunda mau bicara juga," kata Asha yang sepetinya di kode nyonya Wardah untuk memberikan ponsel Asha pada beliau.
"Halo sayang ..."
"Halo Bun."
"Selamat ya ... Kamu akhirnya lulus juga. Setelah semua hal yang kamu lewati karena keputusan bunda untuk menikahkan kamu dengan cepat tanpa mau menunggu kamu lulus, akhirnya kamu Bunda bisa lega."
"Ya. Paris juga lega, Bun."
"Jangan ikut kegiatan aneh-aneh lho, ya ... Kamu enggak bisa ikut acara begitu karena ada Biema yang perlu kamu hormati. Cukup terima surat kelulusan dan pulang," pesan bunda.
"Kegiatan aneh apa, Bun? Paris mau pulang kok. Biema bentar lagi datang menjemput." Pembicaraan dengan bunda dan kakak iparnya selesai. Saat itu teman datang mendekat.
"Jadi?" tanya anak-anak pada Sandra. Gadis ini mengangguk. Paris kebingungan melihat Sandra dan anak-anak yang lain sedang menyusun rencana.
"Kamu mau ngapain?" tanya Paris.
"Ada deh," ujar Sandra penuh dengan teka-teki. Paris manyun karena tidak di beritahu.
"Kak Biema menjemput kamu sebentar lagi bukan?" tanya Sandra.
__ADS_1
"Ya, seperti biasa."
"Oke. Selamat beristirahat ya, Paris."
"Paris enggak ikut?" tanya yang lain. Sandra menggeleng.
"Sepertinya tidak bisa," jawab Sandra tanpa tanya pada Paris.
"Mmm ... Pasti enggak boleh suaminya ya? Kakak kamu melarangnya ikut ya?" tanya mereka pada Sandra lagi.
"Pastinya dong. Masa iya, Paris di biarkan bareng sama cowok lain. Bisa-bisa kak Biema marah besar. Bukan hanya pada dia, tapi sama aku juga," tutur Sandra yang makin membuat Paris penasaran. Yang lain ketawa.
"Kalian mau ngapain sih?" tanya Paris tidak sabar. Dia geregetan sendiri karena menjadi satu-satunya orang yang tidak paham apa yang sedang di biarkan di sini.
"Masa enggak tahu? Itu ... kebiasaan saat lulus sekolah. Pesta." Seorang gadis memberi kata kunci. Awalnya Sandra tidak mau membicarakannya dengan Paris, tapi mereka terlanjur bicara.
"Bukan pesta. Lebih ke perayaan bukan?" ujar yang lain. Paris berpikir.
"Konvoi. Aku mau ikut konvoi perayaan hari kelulusan," ujar Sandra sambil tersenyum tipis. Lebih tepatnya meringis.
"Konvoi? Sebentar lagi?" tanya Paris yang mulai mengerti. Sandra mengangguk. "Itu kan seru ...." Paris mulai terprovokasi. Ia mulai geregetan karena tahu bahwa sekarang ia tidak bisa mengikuti acara tahunan dan tidak akan pernah merasakannya lagi.
"Benar, tapi kamu kan enggak bisa ikut," kata yang lain makin membuat Paris gusar.
"Aaghh ... Ini tidak menyenangkan," gerutu Paris. Sandra melirik dengan sedih. Namun apa mau di kata. Tidak mungkin Paris ikut rombongan konvoi yang akan di ikuti para cowok-cowok juga. Biema akan berang dan menjadi pernah dunia jika Paris memaksa untuk ikut.
......................
Saling menyemprotkan pilox ke seragam sekolah mungkin terdengar seperti sudah biasa dan kuno, tapi itulah keseruan yang ada di saat tiba hari kelulusan. Tidak mungkin mereka menuliskan kata-kata mutiara atau apapun di seragam sekolah jika bukan hari ini.
__ADS_1
Sandra terlihat begitu menikmati hari ini. Rupanya dia sudah bersiap dengan membawa beberapa pilox warna warni. Gadis ini merencanakan ini tanpa dirinya. Sedikit sedih karena ia tidak lagi di ikutkan acara seru yang akan di ikuti Sandra.
Namun begitulah, Paris harus bisa menahan diri untuk tidak mengutamakan egonya karena ada Biema yang mesti di hormati juga. Seperti kata bunda.
"Jangan bilang Kak Biema aku ikut konvoi ya? Dia bisa marah-marah nanti," kata Sandra memberi pesan. Biema pasti tidak setuju jika adiknya harus mengikuti kegiatan semacam ini.
"Kenapa? Biar sekalian kamu pulang bareng aku dan tidak bisa ikut konvoi," sahut Paris asal.
"Ih, jahat. Jangan karena kamu enggak bisa bersenang-senang, orang lain harus ikut juga dong," kata Sandra tidak setuju.
"Bercanda. Masa iya aku tega begitu," sahut Paris terkekeh sambil memukul pelan lengan gadis itu.
"Kali aja. Mungkin saja kamu stress berat karena keinginanmu dulu enggak bisa di kabulin sekarang. Jadinya begitu. Rese sama orang lain," kata Sandra.
"Ih, kamu ini ... Aku bukan orang jahat tahu," kata Paris menjitak jidat Sandra. Gadis itu meringis.
Paris menunggu Biema di depan gerbang. Sementara anak-anak yang mau konvoi juga bersiap. Mata Paris melihat iri ke arah mereka. Namun kepalanya menggeleng secepatnya.
"Enggak. Enggak apa-apa. Aku harus pulang. Biema akan cemas jika aku menghilang untuk ikut mereka," ujar Paris menangkan dirinya sendiri.
Paris berulang kali melihat ke arah arloji di tangannya, tapi Biema belum muncul juga. Tidak ada tanda-tanda mobil pria itu muncul.
"Kemana sih, dia?" tanya Paris celingukan.
.......
.......
...B E R S A M B U N G...
__ADS_1