Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Perkelahian


__ADS_3

"Pilihan Mela memilih perusahaan kita adalah tindakan benar. Bukan begitu, Pak Biema?" tanya Fikar seraya menoleh pada pria itu.


"Jadi kamu akan tetap memaksa kerja sama dengan perusahaanku meskipun aku menolak?" tanya Biema menghentikan suapannya.


"Jadi ... kamu menolak tawaranku?" tanya Mela balik. "Aku ragu soal itu." Mela mengangkat alisnya. "Kamu tidak pernah menolak permintaanku Biem. Seperti biasanya ..." Mela terlihat yakin. Fikar makan sambil menoleh pada Biema. Dia menanti jawaban Biema atas pertanyaan wanita cantik teman masa kecil atasannya.


Hhh ... Mela tidak salah. Biema seringkali menuruti permintaan wanita ini sejak dulu. Karena Biema begitu tergila-gila padanya. Gadis kecil yang manis yang selalu memberi perhatian padanya.


"Ini tidak seperti biasanya Mela, tapi karena aku yakin kamu melakukan pekerjaanmu dengan baik, aku akan menerima tawaran kerja sama ini." Biema menyetujui penawaran ini pada akhirnya. Fikar menarik ujung bibirnya. Dia menduga, biema takkan sanggup menolak tawaran Mela. Itu sudah pasti. Pria ini sepertinya masih menyimpan rasa pada Mela.


"Aku tahu kamu pasti menerima tawaran ini." Mela tersenyum dengan wajah penuh kemenangannya. "Akhirnya kita akan bekerja sama."


"Nah, kita bertiga akan sering bertemu karena pekerjaan nih. Sering-sering saja traktir kita berdua makan siang seperti ini, Mel," kata Fikar dengan mata berbinar. Dia memanfaatkan kesepakatan ini. Meskipun belum resmi.


"Traktir? Siapa? Siang ini aku hanya mengajak kalian makan siang bersama. Soal biaya makan dan minuman tentu harus bayar sendiri dong," ujar Mela santai membuat Fikar mendelik.


"Ya. Kamu benar Mela. Ini bukan traktiran. Tidak masalah denganku," kata Biema menambahi. Dia setuju.


"Hei ... masa kalian begitu padaku? Aku ini orang yang kekurangan." Fikar memelas. Akhirnya Mela tertawa. Geli dengan Fikar yang terlihat mengiba.


"Iya. Aku traktir kalian makan siang kali ini," ujar Mela membuat Fikar lega.


"Terima kasih, Mel."


"Sama-sama, Fik. Lalu, mana nih ucapan terima kasih dari orang ini?" ujar Mela sambil menggerakkan dagunya menunjuk Biema.


"Ucap terima kasih juga, Biem." Fikar menowel lengan Biema. Sorot mata Biema langsung menatap Fikar tajam.

__ADS_1


"Aku tidak perlu berterima kasih. Karena aku berada di tempat ini bukan karena keinginanku. Aku di sini karena seseorang ... dan itu kamu Mela. Kamu yang mengajakku ke cafe ini dan makan siang. Padahal aku sudah punya jadwal makan siang dengan Fikar, tapi kamu merusak acara kami." Penolakan serta penjelasan dari Biema panjang dan lebar membuat Fikar menipiskan bibir merasa temannya sungguh keterlaluan. Padahal jadwal makan siang yang di katakan Biema tidak pernah ada.


"Benar sekali. Kamu memang benar, Biem. Dasar ... Biema yang cerewet. Penjelasanmu sungguh panjang." Mela memaki Biema dengan jenaka.


"Itu kebenaran." Biema menanggapi dengan serius. Mela menipiskan bibir mencela Biema.


"Tante bagaimana kabarnya, Biem?" tanya Mela.


"Baik. Sangat baik."


"Jadi kangen." Mela meminum minuman di depannya. "Masih tinggal di sana, kan?"


"Ya."



Di luar cafe ada sedikit keributan. Sepertinya ada sebuah perkelahian. Dan pemainnya adalah murid-murid sekolah. Terlihat dari seragam yang di pakainya. Mereka masih pelajar SMA. Beberapa anak terlibat sebuah perkelahian.


"Jadi ingat dulu sekolah," gumam Fikar. Mereka ikut menyaksikan beberapa murid SMA tengah berkelahi di luar sana. "Namun jika di pikir sekarang, apa gunanya berkelahi seperti itu." Fikar meneguk minumannya.


"Mungkin mereka merasa bebas dengan bisa mengeluarkan uneg-uneg lewat tendangan dan pukulan." Mela merespon komentar Fikar dengan bijak.


"Bebas mungkin iya, tapi bisa jadi itu mengganggu orang lain. Bahkan mereka membuat diri mereka sendiri kacau balau." Fikar menambahi.


"Habiskan saja makan kalian. Tidak perlu mengurusi anak-anak yang di luar sana." Biema yang sejak tadi tidak ikut menoleh mulai mengeluarkan kata-kata.


"Seperti biasa. Biema selalu jadi orang yang paling dingin dalam menangggapi sesuatu." Mela hapal itu. "Kamu seperti jadi pria jutek, Biem," tuduh Mela.

__ADS_1


"Jika tidak ada hubungannya dengan kita, kenapa kita harus repot-repot berkomentar dan memikirkan mereka," timpal Biema. Itu ada benarnya juga. Karena tidak baik mengurusi orang lain.


"Tunggu dulu. Sepertinya aku merasa kenal dengan salah satu anak-anak yang sedang berkelahi itu," ujar Fikar yang langsung membuat Mela menoleh sekali lagi ke arah mereka yang berkelahi di luar.


"Benarkah? Apa dia adikmu? Saudaramu?" tanya Mela yang mengelap bibirnya dengan tisu karena telah menghabiskan makan siang.


"Bukan." Fikar menggeleng tanpa menoleh pada Mela. Matanya masih fokus melihat ke depan. ke arah beberapa anak-anak yang masih memakai seragam sekolah itu.


"Dia tidak punya saudara atau adik yang duduk di bangku SMA." Biema tanpa menoleh memberi keterangan. Mela menoleh pada Biema.


"Benarkah? Lalu siapa yang kamu maksud Fik? Katanya kamu merasa tidak asing. Jangan-jangan kekasih kamu ya ...," ledek Mela.


"Itu juga bukan. Tidak mungkin. Tidak mungkin aku mau berpacaran dengan anak masih bau kencur begitu," kata Fikar tanpa sadar menyentuh titik sensitif di hati Biema.


Kepala Biema yang menunduk melihat ponselnya kali ini mendongak dan langsung melihat Fikar tajam. Setajam silet. Sesaat Fikar sadar bahwa dia sudah menyinggung atasannya. Bukankah Biema saat ini memperistri seorang gadis SMA? "Maksudku, adalah aku. Aku yang enggak mau pacaran sama anak SMA," ralat Fikar segera. Dia kelepasan ngomong.


Mendengar ralat Fikar, Mela menoleh pada Biema. Karena tadi Fikar meralat kalimatnya dengan menoleh pada pria itu. Lalu menoleh lagi pada Fikar.


"Aku tahu itu kamu. Memangnya siapa yang sedang pacaran sama anak SMA? Enggak ada kan?" tanya Mela menegaskan. Menoleh juga pada Biema untuk meminta dukungan. Biema hanya melirik melihat reaksi Mela. Dia meminum jusnya lagi.


"Lalu? Dia siapa?" tanya Mela lagi sambil menoleh ke arah Biema dan Fikar bergantian. Dia masih penasaran.


"Dia adalah Paris," sahut Fikar.


Paris? Biema mendongak. Tangannya yang hendak menekan tombol panggil pada nomor Paris terhenti juga. Kemudian melihat keluar dengan cepat. Melihat dengan kedua mata nyalang ke arah seorang gadis yang saat ini tengah melawan seorang cowok.


"Paris? Siapa itu?" tanya Mela ingin tahu. Nama yang terasa begitu asing di telinganya. Fikar diam seraya melirik ke arah Biema yang menghentikan seluruh gerakannya. Mendengar nama itu di sebut Fikar, Biema membeku.

__ADS_1


Paris. Itu memang Paris, desis Biema dalam hati. Apa yang sedang dia lakukan di sana?



__ADS_2