Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Ayah sakit


__ADS_3

Walaupun raut wajah Arga terlihat tenang, tapi tidak begitu dengan hatinya. Tangannya mengepal menahan gelisah. Asha yang saat ini menggendong Arash melirik, lalu mencoba menggenggam tangan pria ini. Menyalurkan sedikit rasa tenang yang ia punya, untuk suaminya. Arga menoleh. Asha tersenyum memberi kekuatan. Kepala Arga mengangguk kemudian.


"Benar, apa yang kamu katakan Biema?" tanya ayah masih dengan lembut.


"Iya Ayah."


"Karena apa? Apa dia sudah melanggar peraturan sekolah?" Ayah masih bertanya dengan nada yang sama.


"Paris di keluarkan dari sekolah karena ketahuan sudah berstatus menikah saat masih menjadi seorang pelajar. Itu melanggar peraturan sekolah, Ayah ...," ujar Biema mampu mengatakan semuanya dengan pelan, tapi tegas. Tuan Hendarto terdiam.


Tangan bunda terulur menutup mulutnya. Sungguh mengejutkan mendengar berita itu. Kepalanya menengok ke arah putrinya. Tidak menduga bahwa alasan putrinya di keluarkan dari sekolah adalah menikah. Dan semua orang tahu bahwa ide menikah itu berasal dari dirinya dan mama Biema. Setelah melihat ke arah Paris dengan segala keterkejutannya, bunda melihat ke arah Biema lagi.


Tuan Hendarto masih terdiam setelah mendengar berita ini. Napas beliau terlihat naik turun lebih cepat. Sesaat semua terlihat menyatukan pandangan ke satu arah, yaitu tuan Hendarto. Atmosfir ruangan mendadak begitu menegangkan.


"Ayah tidak apa-apa?" tanya bunda khawatir. Tuan Hendarto mengangguk yakin. Namun yang tampak tidak begitu. Napas Hendarto terlihat tidak beraturan.


Ayah!


Paris ingin mendekat, tapi entah kenapa kakinya tidak bisa di gerakkan seakan di paku di atas tanah. Arga dan Asha mendekat. Papa dan mama Biema ikut berdiri melihat keadaan Hendarto di atas ranjang. Menilik keadaan besannya yang tampak mengkhawatirkan.


"Aku panggilkan perawat," ujar bunda panik.


"Tidak. Ambilkan air saja," pinta Hendarto.


"Tapi ... " Bunda ragu.


"Aku tidak apa-apa. Berikan airnya," ujar Hendarto bersikeras. Arga mengambilkan air minum untuk bunda di atas nakas lalu menyerahkan pada beliau. Kemudian bunda menyodorkan kepada suaminya dengan segera.

__ADS_1


Semuanya pucat dan khawatir dengan keadaan beliau. Setelah meminum air, beliau menghempaskan sesak yang sempat singgah dan terasa menyumbat napasnya.


"Semuanya tenanglah. Ayah ini tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu di khawatirkan," ujar beliau berusaha menenangkan semua orang di sana. "Besan juga duduklah lagi. Tidak ada yang perlu di di cemaskan."


Mama dan ayah Biema yang tadi khawatir kini bisa lebih tenang. Mereka menuruti apa yang di katakan Hendarto. Kembali duduk di sofa tadi.


"Paris," panggil ayah selanjutnya dengan suara tegas dan serak. Bunda menyodorkan minuman lagi pada suaminya. Beliau meminum seteguk lagi. Paris mengerjapkan mata. Dia terkejut ayah memanggilnya. Asha dan Arga menoleh pada adik mereka.


"Maaf Ayah. Kami hanya ingin semuanya beres tanpa menyusahkan Ayah dan Bunda ... " Biema sengaja menyela demi membuat ayah mertua tidak memanggil istrinya. "Maaf juga soal tadi, Bun. Tadi kami sengaja mengaku bahwa Paris pulang dari ujian. Itu semua kami lakukan karena takut bunda makin tertekan dengan kejadian itu. Karena selain memikirkan ayah yang saat ini masih sakit, juga harus memikirkan Paris yang di keluarkan dari sekolah. Aku dan Paris tidak ingin melihat bunda tertekan." Biema berusaha menjelaskan lagi.


Bunda mengangguk. Namun itu tidak mengurungkan niat Hendarto memanggil putrinya.


"Paris. Mendekatlah," perintah tuan Hendarto lagi. Seperti tidak mempedulikan kata-kata Biema, Hendarto masih memanggil nama Paris. Arga dan Asha melihat Paris yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri dengan tidak tenang. Bunda menoleh pada suaminya. Hendak mencegah suaminya, tapi kepala beliau menggeleng. Mencegah istrinya berupaya menahan dirinya bicara. Bunda mengerti.


"Aku harap ayah dan Bunda tidak marah saat kami menutupi permasalahan ini." Biema tidak ingin ayah marah pada istrinya.


"Aku bilang tenanglah, sayang ..." sahut Yudhis pelan.


"Bagaimana aku bisa tenang kalau begini ..." Mama Biema tetap mencemaskan mereka berdua.


"Biema." Jika tadi beliau menoleh pada Paris, kali ini tuan Hendarto melihat ke arah menantunya.


"Ya, Ayah."


"Aku tanya. Apa sekarang masalah itu sudah di tangani?" tanya tuan Hendarto yang ternyata tetap tenang meskipun tadi ikut terkejut dan mengerutkan kening saat Biema mengatakan masalah itu.


Papa Biema tersenyum. Membuat mama Biema menowel lengan suaminya karena heran. Tersenyum di saat semua tegang itu sangat tidak sopan. Apalagi putra mereka sepertinya sedang terdesak. Telunjuk papa Biema tertahan di atas bibir. Menyuruh istrinya tidak ribut. Mama Biema mendelik sesaat. Tidak terima bahwa dia yang justru di tuduh ribut.

__ADS_1


"Ya, Ayah. Aku dan kak Arga yang menanganinya. Semuanya sudah selesai. Kini Paris sudah bisa mengikuti ujian lagi meskipun itu ujian susulan," jelas Biema. Ayah terdiam sambil mengangguk kecil sesaat. Menerima laporan dari menantu pria-nya.


"Maka dari itu biarkan Ayah ini memanggil Paris. Ayah ingin bicara dengan putri Ayah," pinta tuan Hendarto pada menantunya.


"Bicara pada Paris? Hanya bicara?" tanya Biema seakan ingin memastikan bahwa istrinya tetap aman. Bunda ingin tersenyum, tapi di tahannya.


"Tentu saja," jawab tuan Hendarto.


Papa Biema tergelak. Semua terkejut mendengarnya. Hingga fokus mereka semua berganti ke arah beliau. Sementara bunda dan ayah tidak begitu terkejut. Mama Biema memukul lengan suaminya karena merasa malu dengan suara tawa barusan. Lalu tersenyum tidak enak pada besannya.


"Apa yang kamu lakukan Biema? Kenapa kamu menghalangi orang tua yang ingin memanggil putrinya sendiri?" tanya Yudhis masih tertawa geli. Mama Biema mengerutkan kening tidak setuju dengan sikap suaminya. Biema mengerjapkan bola matanya.


"Benar kata Yudhis. Aku hanya ingin memanggil putriku." Tuan Hendarto menimpali lalu tersenyum penuh misteri. Membenarkan kalimat besannya. Paris yang awalnya ragu akhirnya berjalan mendekati ayahnya. Semua memperhatikan dengan seksama.


"Ayah bukan mau marah?" bisik Asha.


"Entahlah. Sepertinya iya. Ayah memang bukan sedang marah, tapi kita lihat saja. Yang terpenting ayah tidak kesakitan lagi seperti tadi," jawab Arga dengan berbisik juga.


Sandra yang sejak tadi ikut tegang melihat Ayah Hendarto kesakitan hingga kini bisa terlihat nyaman lagi, mulai bisa menurunkan bahunya perlahan. fyuhh ... Meskipun bukan pemeran utama dalam kisah yang bikin tegang ini, dia ikut merasakan apa yang di rasakan gadis itu.


"Mendekat dengan segera Paris. Ayahmu sedang menunggu," ujar bunda mulai gemas.


"Ah, iya." Paris menyegerakan kakinya melangkah. Hingga sekarang berdiri di samping ranjang sangat dekat dengan ayahnya yang duduk bersandar di sana. Bunda menarik lengan putrinya. Membimbing gadis ini menuju ke samping ranjang ayah.


Dada Paris berdegup kencang. Entah apalagi yang akan di katakan ayahnya. Ia hanya berharap ayahnya tidak akan terlihat sakit seperti tadi. Itu sangat mengkhawatirkan.


__ADS_1


__ADS_2