Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Semoga


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Biema mengantar istrinya ke dokter kandungan. Seperti yang di anjurkan mama, sepertinya ada kemungkinan istrinya mengandung. Karena bisa saja tes pack yang di pakai sudah kadaluarsa atau tata cara penggunaan yang salah. Biema ingin mewujudkan harapan yang secuil itu.


Mobil melaju dalam kecepatan normal di atas jalan raya. Paris terlihat lesu lagi. Dering ponsel menggerakkan tangan Biema untuk meraba-raba ponsel pada cerukan dekat kursi mobil. Paris menoleh ke samping. Ia berinisiatif membantunya. Bergerak mencondongkan tubuhnya, lalu meletakkan headset bluetooth di telinga Biema.


"Terima kasih, sayang ..." ucap Biema sambil tersenyum manis. Telunjuk dan ibu jari Paris melingkar membentuk kata 'OK'. Kemudian gadis ini kembali menyandarkan punggungnya pada badan kursi mobil.


"Halo," sapa Biema.


"Bagaimana keadaanmu, Biem?" tanya Fikar yang tidak di ijinkan menjenguk kala itu menggebu.


"Ya. Aku sudah sehat."


"Apakah kamu akan datang ke kantor hari ini?" tanya Fikar yang sepertinya sudah rindu bekerja dengan Biema.


"Ya.Aku akan datang ke kantor setelah mengantar istriku ke dokter," ujar Biema.


"Dokter? Ada apa dengan istrimu? Sakit?" tanya Fikar terkejut.


"Tidak. Dia sehat. Hanya memeriksa saja," sahut Biema sambil menoleh ke samping. Ke arah Paris yang bersandar pada badan kursi mobil dengan santai.


"Apa yang perlu di periksa, jika tidak sakit ..." tanya Fikar heran. Biema tergelak sambil menggelengkan kepala pelan.


"Sudahlah. Aku hampir sampai di tujuan."


"Kamu pasti datang ke kantor, kan? Pihak perusahaan Haga Corporate menelepon."


"Oh, dia. Ya. Aku akan datang nanti. Kamu bisa menyuruhnya meneleponku jika penting."


"Dia tidak mau mengganggumu jika posisi kamu tidak sedang bekerja, Biema. Dia mengerti."


"Begitu ya ... Dia yang terbaik. Aku akan datang nanti siang."


"Oke."


...****************...


Kaki Paris bergerak-gerak dengan cemas saat sedang duduk di kursi ruangan dokter kandungan. Jari-jarinya bertaut dengan sedikit berkeringat. Ia kembali gugup dan tegang. Setelah sempat lega karena indikator tes pack menunjukkan hasil negatif, kini dia harus menunggu lagi seperti tadi pagi.


Dia sudah menjalani pemeriksaan. Kini waktunya mereka mendapatkan kabar tentang hasil pemeriksaan.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dokter?" tanya Biema pada dokter Ciara yang berjalan mendekat ke kursi.


"Biarkan Saya duduk dulu, Tuan ..." ujar dokter kandungan yang sudah senior itu dengan jenaka.

__ADS_1


"Ah, maaf. Silakan Anda duduk terlebih dahulu." Biema mengangguk sambil tersenyum. Dokter Ciara tergelak. Paris hanya melirik saja.


"Anda ingin segera tahu, ya ..." tebak dokter Ciara sambil sedikit bercanda.


"Tentu saja," jawab Biema yakin.


"Ya ... Hasil pemeriksaannya baik."


"Apakah istri saya hamil? Atau hanya nafsu makannya saja yang besar?" Biema sungguh tidak sabar. Dokter perempuan itu tersenyum lagi.


"Istri Anda memang hamil, Tuan ..."


"Oh, astaga." Biema menggenggam jari-jari Paris dengan cepat. Ia menatap istrinya dengan bahagia. Sementara Paris mengerjapkan manik matanya dan menatap dokter kandungan di depannya dengan tertegun.


"Jadi ... Saya ... hamil, Dokter?" tanya Paris lambat. Ada rasa tidak percaya disana.


"Benar. Kehamilan Anda sudah menginjak hampir dua minggu," jelas dokter Ciara.


"B-benarkah?" tanya Paris tidak percaya. Biema ikut melihat ke arah istrinya.


"Apa Anda tidak merasakan gejala-gejala umum ibu hamil?" tanya dokter Ciara. Kepala gadis ini menggeleng.


"Kita baru saja menikah. Ini kehamilan pertama. Istri saya sudah mencoba tes pack, tapi indikatornya memberi hasil negatif. Makanya kita mencoba untuk langsung periksa ke dokter kandungan," jelas Biema. Dokter Ciara mengangguk mengerti.


"Mens saya tidak lancar. Kadang datang kadang tidak," ujar Paris. Biema yang kurang mengerti soal itu hanya diam sambil memegang punggung tangan istrinya.


"Mungkin itu penyebabnya ... Jadi saat Anda sedang benar-benar tidak mens karena hamil, Anda tidak menyadarinya." Dokter menjelaskan dengan sabar. "Kemungkinan Anda hamil sekarang ini seratus persen," imbuh dokter Ciara selanjutnya. "Selamat ya ... Untuk Anda berdua," kata dokter Ciara ikut bahagia.


"Terima kasih, Dokter," kata Biema menanggapi. Paris hanya tertegun saja tanpa tersenyum.


Akhirnya ... aku di nyatakan hamil juga.


Sorot mata Biema menunjukkan perasaan senang yang membuncah saat mereka berjalan menuju mobil.


"Kamu memang hamil, sayang ..." ujar Biema ketika kaki mereka baru saja masuk ke dalam mobil dengan takjub. Ia mendekatkan dirinya ke Paris untuk mengusap kepalanya. "Akan ada anggota baru di antara kita ..."


"Ya," sahut Paris lemah.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Biema panik. Dia langsung memeriksa tubuh istrinya.


"Tidak. Aku tidak apa-apa."


"Benarkah? Wajahmu lesu."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja." Mungkin karena kehamilan ini, Paris yang tidak pernah merias diri dengan benar tampak pucat.


"Jangan di pendam sendiri jika kamu merasakan ada yang aneh dengan tubuh mu," pesan Biema. "Aku tahu kamu ingin mandiri, tapi tidak untuk kali ini. Tidak saat kamu sedang hamil."


Paris hanya manggut-manggut saja.


...****************...


Mendengar suar deru mobil putranya datang, mama Biema yang sedang di taman depan mendongak.


"Mama lagi ngapain?" tanya Biema yang melihat mamanya membawa sekop dengan jari-jarinya sudah berselubung sarung tangan.


"Mama sedang membantu menanam. Bunga ini berguna juga lho, Biem ..." Mama menunjukkan tanaman dengan berbentuk daun yang keras dan panjang. Paris muncul dan berdiri di dekat Biema.


"Oh, lidah mertua," kata Biema tahu jenis tanaman yang di pegang mamanya.


"Kamu tahu?"


"Ya. Karyawan perempuan di kantor seringkali bicara soal tanaman ini," ujar Biema. Paris melirik tajam mendengar itu. "Mereka bicara dengan Fikar. Dia suka berkebun," ralat Biema cepat. Dia merasa ada laser yang akan memotongnya. Mama tersenyum geli. Paris langsung merubah raut wajah galaknya.


"Benar. Bagaimana hasilnya dari dokter kandungan?" tanya mama kemudian.


"Ya. Paris hamil," kata Biema sambil tersenyum penuh cinta pada istrinya. Tangan Biema merapatkan bahu Paris pada tubuhnya.


"Sungguh?" tanya mama takjub. Meskipun tadi sudah menduga bahwa masih ada peluang untuk hamil saat melihat nafsu makan Paris yang besar, beliau tetap merasa surprise. Spontan mama ingin memeluk Paris.


"Tangan mama masih kotor. Banyak tanah yang melekat pada sarung tangan," cegah Biema. Mama berhenti. Lalu tergelak.


"Iya. Mama lupa."


Aku hamil. Lalu ... apa yang akan aku hadapi nantinya ya? Apakah banyak hal menyenangkan atau menyebalkan? Walaupun masih pemula, aku harap mampu menjalani kehamilan ini dengan baik. Semoga ... harap Paris di dalam hati saat dia berjalan masuk ke dalam rumah.


"Aduh," keluh Paris tiba-tiba. Langkahnya jadi terhenti.


"Kenapa sayang?" tanya Biema khawatir.


"Anu ... perutku," kata Paris meringis.


"Perut kamu sakit?" Tangan Biema terulur menyentuh perut Paris yang masih rata. "Mau muntah atau bagaimana?" tanya Biema ingin mendapat kejelasan dari sakitnya perut istrinya.


"Bukan. Aku merasa lapar lagi," sahut Paris kemudian sambil tersenyum malu.


**

__ADS_1


__ADS_2