
Mungkin benar jika halaman sekolah sepi, tapi di dalam ... semua tampak ramai. Ada beberapa kelas yang mulai duduk rapi di dalam kelas. Namun ada beberapa kelas yang muridnya masih berkeliaran di depan kelas. Termasuk kelas Paris. Sandra yang melihat kakak iparnya sumringah. Dia langsung menghampiri Paris.
"Aduhhh ... aku pikir kamu enggak muncul di hari kelulusan ini," ujar Sandra terlihat panik.
"Enggak mungkinlah aku enggak datang."
"Mungkin saja. Karena kamu enggak akan peduli soal lulus atau tidak karena sudah ada suami tercinta di rumah," cibir Sandra membuat Paris membungkam mulut iparnya dengan tangan. Hingga gadis itu memukuli tangan Paris untuk bisa lepas. "Hh ... Hh ... Hampir saja aku mati kehabisan napas," ujar Sandra meringis.
"Tidak usah bahas soal suami di sini," desis Paris.
Dari ujung lorong sekolah, terlihat wali kelas yang pastinya akan menuju ke kelas mereka. Tanpa di komando, semuanya masuk ke kelas dengan segera. Paris mengekori Sandra yang lebih dulu masuk ke dalam kelas. Setelah itu wali kelas muncul dengan beberapa amplop yang banyak di yakini itu adalah surat kelulusan mereka.
Semua duduk di bangku masing-masing dengan ketegangan yang luar biasa. Baik itu anak yang paling tengil maupun yang paling rajin. Satu persatu wajah mereka menunjukkan rasa gelisah yang tidak bisa di sembunyikan tanpa terkecuali.
Paris mengepal dan menyentuh perut buncitnya bersamaan di bawah meja. Seperti ikut merasakan ketegangan akan pengumuman lulus atau tidaknya, janin di dalam rahimnya membuat perutnya terasa kaku. Bibir Paris sempat mendesis merasakan itu. Sandra yang mendengar itu menoleh.
"Kenapa, Paris? Perutmu sakit?" tanya Sandra cemas. Paris mengangguk pelan dengan wajah menahan sakit. "Mau pulang?" tawar Sandra yang langsung menawarkan itu sekarang. Paris menggeleng.
"Enggak mungkin."
__ADS_1
"Atau ke UKS?" bisik Sandra lagi.
"Aku enggak apa-apa. Sepertinya hanya tegang karena menunggu pengumuman," sahut Paris masih berbisik-bisik. Sandra mengangguk mengerti, tapi dia berkali-kali melihat ke kakak iparnya ini untuk melihat keadaan.
Ibu wali kelas memberikan sedikit wejangan sesaat sebelum surat kelulusan itu di bagikan. Semua mendengarkan dengan setengah hati. Pikiran mereka sudah penuh dengan pikiran soal kelulusan.
Wejangan selesai. Satu persatu di panggil untuk menerima surat kelulusan.
"Yeeyyy! Aku lulus!!" teriak cowok di ujung. Semua menoleh lalu tersenyum senang. Rasa bergemuruh di dada kembali terdengar saat menunggu giliran di panggil.
"Aku lulussss ..." Gadis di tengah dekat bangku Paris juga demikian. sambil memeluk temannya. Semua kembali ikut tersenyum. Rasa tegang makin tinggi.
"Sandra!" panggil Bu guru.
"Gimana? Lulus kan? Pasti lulusan?" tanya Paris sebenarnya tidak tenang.
"Sebentar. Aku harus tenang dulu. Lihatlah tanganku gemetaran," kata Sandra menunjukkan tangannya. "Oke. Sekarang aku akan membuka amplopnya. Setelah membuka amplop dan mengintip, bibir Sandra melukis senyuman. "Aku lulus," ujar Sandra gembira.
Tanpa di beritahu pun, Paris tahu apa yang ada di dalam amplop kelulusan itu dari reaksi yang di tunjukkan Sandra. Gadis ini pasti lulus. Standar langsung memeluk Paris.
__ADS_1
"Selamat ya ...." bisik Paris. Sandra melepas pelukannya sambil mengangguk. Gadis di bangku di sebelah bertanya pada Sandra apakah gadis ini lulus. Sandra menjawab dengan ramah. Tinggal Paris yang masih was-was.
Satu persatu terus saja di panggil. Rupanya panggilan siswa-siswi ini berurutan sesuai dengan abjad. Jika itu P dari huruf depan nama Paris, bukankah seharusnya sudah tadi Paris di panggil sebelum Sandra? Namun sampai pada huruf W, nama Paris belum di panggil.
"Kenapa aku enggak di panggil, ya?" tanya Paris mulai gusar dan makin gelisah.
"Iya. Kok kamu lama? Bukannya seharusnya sebelum aku, kamu di panggil dulu?" Sandra mulai sadar juga. Ia menoleh ke sekeliling dan berpikir bahwa hampir seluruh siswa kelas ini mendapat surat kelulusan. "Sepertinya tinggal siswa yang punya nama depan huruf z saja, yang belum di panggil. Tuh, si Zara belum memegang amplop," tunjuk Sandra dengan dagunya. Paris mengikuti arah dagu Sandra yang menunjuk ke bangku depan. Apa yang di katakan Sandra benar.
"Ya."
"Lebih baik tanya saja pada Bu guru," usul Sandra. Paris mengangguk.
"Maaf, Bu. Mau tanya." Paris mengangkat lengannya sambil berdiri.
"Ya Paris."
"Saya belum mendapat surat kelulusan. Apakah nama saya terlewat?" tanya Paris. Wali kelas terkejut. Beliau mencoba melihat lagi satu persatu amplop yang masih di pegangnya. Namun sayang amplop itu tinggal tiga nama. Di mulai dari huruf y dan dua huruf Z. Itu berarti tidak ada amplop untuk Paris.
"Maaf, Paris. Bu guru tidak menemukan amplop milikmu. Sebentar lagi akan ibu cari di kantor setelah membagikan amplop yang tersisa ini," kata Wali kelas merasa khawatir juga.
__ADS_1
"Baik, Bu. Terima kasih."
......................