Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Kekanak-kanakan


__ADS_3


"Kha ... watir?" tanya Paris tidak percaya. Sampai dia harus mengeja kata itu karena terdengar aneh di telinganya.


"Ya. Aku khawatir karena aku merasa kamu akan terlibat sama masalah lagi. Kamu kan si perusuh." Wajah terpana Paris langsung lenyap mendengar penjelasan pria ini.


Sialan!


"Hoo ... karena alasan tidak menyenangkan itu?" Paris yang sudah merasa tercengang dengan kalimat Biema tadi, kini kembali naik darah. Giginya bergemeretak karena kesal.


Jadi di depan Biema aku tampak seperti perusuh? Bibir Paris tergelak dan mendengkus bersamaan. Sebuah cibiran untuknya karena sempat berpikir lain.


Gila! Memangnya aku sudah gila, berpikir dia beneran khawatir? Pikiran macam apa ini.


Biema melirik Paris yang terjebak dengan pemikirannya sendiri. Berkomunikasi dengan dirinya sendiri hingga menunjukkan bermacam ekspresi yang unik. Bibir gadis ini juga kadang mengkerucut.


Apa yang sedang di pikirkannya sekarang? Ekspresi apa itu? Biema mencoba membaca raut wajah gadis ini.


"Kamu marah?" tanya Biema seakan sengaja menyulut api.


Paris menoleh pada Biema dengan cepat. "Tidak mungkin. Hanya saja ... jangan membuat kalimat dan sikap yang ambigu, Biema," desis Paris tidak suka. Telunjuknya menunjuk ke arah dada pria ini dengan geram. Biema menunduk. Mengamati telunjuk Paris yang menekan di dadanya.


"Sebenarnya, apa yang kamu pikirkan?" tanya Biema.


Sherry tidak suka tatapan dan pertanyaan Biema yang terkesan menjebaknya. Mendengar ini Paris berniat keluar dari perlindungan payung Biema. Dia ingin menerobos hujan yang lebat. Namun tangan Biema dengan cekatan segera menahan bahu Paris.


"Mau kemana, Paris?"


"Lebih baik aku hujan-hujanan daripada berdiri disini terlalu lama denganmu."


"Jangan. Kalau kamu sakit aku merasa tidak enak pada keluargamu. Bundamu pasti sedih." Paris menoleh ke belakang. Ke arah Biema yang masih memegangi bahunya. Lalu menatap wajah Biema lurus. Bunda. Paris jadi ingat keluarganya. Paris menepis tangan Biema pada bahunya dan kembali berdiri di samping Biema.


"Memang di mata kamu aku ini hanya seorang perusuh, ya?" tanya Paris kesal.


"Tiga kali aku menemukanmu terlibat dalam perkelahian, julukan apa yang bisa aku berikan padamu selain seorang perusuh." Sepertinya Biema terus saja meledek Paris. Hingga gadis ini kesal.


"Meskipun begitu, aku enggak terima di sebut begitu. Dasar kamu kekanak kanakan," ujar Paris sengit.

__ADS_1


"Aku?"


"Jelas. Siapa lagi? Kalau aku kamu sebut kekanak-kanakan masih wajar. Aku masih dalam usia sekolah. Hanya saja seseorang dengan kejam dan bodoh merenggut kebebasan masa mudaku yang masih ingin bermain kesana kemari."


"Jadi kamu memakiku dengan terang-terangan sekarang?"


"Sebutan apalagi yang tepat buat orang yang menikahi gadis masih bersekolah sepertiku? Apalagi dengan alasan terpaksa. Sungguh keterlaluan itu," balas Paris. Biema terdiam.


"Jika aku menikahimu bukan karena terpaksa, bagaimana?" tanya Biema seraya menoleh ke samping. Lalu menatap Paris yang saat ini juga sedang menoleh ke arahnya.


"A-apanya yang bagaimana?" Tiba-tiba saja Paris gugup. Sialan pria ini. Dia selalu membuat sikap ambigu. Enggak jelas.


"Bagaimana sikapmu menghadapiku?" Biema masih meneruskan pertanyaannya.


"Hhh ... Tidak perlu bertanya dan ingin tahu. Jika memang kamu menikahiku dengan niat baik, tanpa di suruh juga kamu akan tahu bahwa aku akan bersikap sama, tapi maaf ... kita berdua tidak dalam situasi yang seperti itu," ucap Paris dingin. "Cepat antar aku pulang. Bukannya kamu di sini ingin mengantarku pulang?" tanya Paris dengan nada kesalnya.


"Kamu mau pulang denganku?" tanya Biema heran.


Paris mendengkus. "Karena tahu biasanya aku menolak makanya kamu mau berhujan-hujan ria di sini denganku?" Paris melirik ke arah bahu Biema yang jauh darinya. Dia melihat Biema sengaja memberikan perlindungan untuk dirinya sedikit berlebihan.


Bahu itu basah karena air hujan. Itu berarti pria ini sengaja membiarkan payung kecil yang di bawanya tidak melindungi dirinya sepenuhnya. Itu demi membuat Paris tidak kehujanan. Padahal tubuh Paris saja sudah basah karena tidak menemukan tempat berteduh yang layak.


Paris mulai merekam sifat Biema yang baru. Pria itu ternyata seringkali bersikap ambigu belakangan ini.



Hari ini, sepulang sekolah. Biasanya Paris berencana kabur dari Biema. Namun kali ini, Paris yakin pria itu tidak akan muncul di gerbang sekolahnya. Meskipun jam pulang sekolah berubah karena ada kegiatan untuk para guru, Paris merasa tidak tenang. Kalau biasanya pulang sekolah sekitar jam setengah 2, kini maju menjadi jam 11.


"Selamat siang, Nona Paris," sapa Fikar tepat saat Paris muncul di gerbang sekolah.


Ini membuat Paris terkejut. "Ya ampun. Ternyata tetap saja dia bisa tahu jadwalku pulang sekolah," gerutu Paris. Pria itu pasti punya orang dalam yang memberinya informasi. Siapa lagi kalau bukan Sandra. "Jadi Biema menyuruhmu menjemputku?" tanya Paris yang sudah ketangkap basah.


"Benar."


"Lalu kemana dia?" Paris tidak melihat pria itu di sekitar sana.


"Tuan Biema sedang ada keperluan di kantornya, jadi dia tidak bisa menyebut Anda. Silakan masuk ke dalam mobil," pinta Fikar sopan.

__ADS_1


Paris memicingkan mata mendengar gaya bicara Fikar. "Berhenti bersikap sangat formal padaku. Jika di rasa tidak nyaman, kamu cukup menghormatiku sebagai orang baru saja. Tidak perlu memanggilku, nona. Cukup dengan nama saja."


"Saya tidak ...."


"Stop. Bisa tidak, kamu bersikap tidak berlebihan? Toh, kamu teman Biema, kan?"


"Biema akan marah jika aku ... eh?" Fikar terkejut sendiri dengan bahasanya yang mulai terdengar lebih santai.


"Ya. Begitu saja. Aku dan kamu. Cukup itu. Aku bukan nyonya besar. Lagipula kamu pasti tahu pernikahan kita seperti palsu." Paris bicara blak-blakan soal itu. Membuat Fikar membulatkan mata tidak menyangka gadis ini bicara dengan santainya.


"Bila Biema mendengar, dia pasti akan geram." gumam Fikar.


Ponsel Paris berdering. Nama bunda muncul di layar.


"Paris, kalau ada waktu luang kesini yah ...," kata bunda.


Banyak. Aku punya banyak waktu luang, bunda. Kalaupun tidak ada, aku jelas lebih ingin kesana daripada ke apartemen Biema.


"Sekarang aku bisa kesana, Bun."


"Hah, sekarang? Bukannya kamu masih sekolah, sayang? Ini masih jam berapa?"


"Iya. Aku pulang sekolah pagi hari ini, Bun. Para guru ada kegiatan."


"Benarkah? Kalau begitu sekarang kesini ya? Kebetulan banget. Kamu pulang di jemput Biema, kan?"


"Enggak."


"Enggak? Dia enggak jemput kamu dari pulang sekolah?" Bunda terdengar kaget. "Padahal Bunda sudah bilang pada Biema untuk selalu jemput kamu. Bahkan dia sudah berjanji akan melakukannya setiap hari..." Jadi bunda yang menyuruh dia menjemput aku di sekolah? " ... Bunda akan tegur dia untuk selalu menjemputmu." Bunda terdengar benar-benar ingin segera menegur menantunya.


"Jangan, Bun. Dia selalu jemput kok," sergah Paris buru-buru.


"Kata kamu dia enggak jemput, sayang ...."


"Iya. Hari ini dia memang enggak jemput, tapi dia mengirim seseorang untuk menjemput aku. Sekarang pegawainya berada di depan sekolah untuk mengantarku pulang."


"Oh ... begitu. Oke, oke. Biema memang selalu bisa di andalkan. Dia pria baik kan Paris?" Bunda memuji menantunya itu. Paris mencebik mendengar itu.

__ADS_1


"Hmmm ...," sahut Paris tidak ikhlas.



__ADS_2