Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Bangun tidur


__ADS_3

Sedikit mengejutkan melihat porsi makan gadis ini. Biema sampai mengerjapkan mata tidak percaya.


"Kamu terkejut ya ... Aku makannya banyak sekali hari ini?" tanya Paris menyadari bahwa suaminya tertegun melihat isi makanan di atas piringnya hampir penuh.


"Emm ... tidak," jawab Biema supaya Paris nyaman.


"Bilang saja iya. Aku tahu dari kedua mata kamu bicara begitu," kata Paris tidak bisa di bohongi.


"Ya. Aku sangat terkejut." Biema mengaku. Mendengar ini Paris terkekeh.


"Kamu terlihat sehat," ujar Paris seraya menyentuh kening Biema. Pria ini bersikap seolah dirinya sedang tidak demam. Namun badan pria ini masih panas. "Ternyata hanya berpura-pura sehat. Ayo minum obat." Paris mempersiapkan obat yang akan diminum suaminya.


"Kamu enggak makan?" tanya Biema yang sepertinya lebih suka mengurusi soal makan istrinya daripada dirinya yang sedang demam. "Hatsyii!!" Biema mulai bersin. Tangan Paris segera menarik tisu dan menyodorkan pada Biema. Pria itu mengelap hidungnya yang berair.


"Sudah. Enggak perlu mengurusi aku makan. Kamu segera minum obat dan tidur lagi." Paris menyerahkan obat-obatan yang harus di minum Biema. Kemudian pria ini meminumnya dan segera meneguk air guna mendorong pil-pil itu masuk. Membantunya dan mengecup kening Biema. "Tidurlah sayang ..."


Setelah Biema memejamkan mata. Paris mengeksekusi seporsi besar makanan di atas piring. Bukan hanya Biema, gadis ini sendiri pun terkejut dengan nafsu makannya.


"Hmm ... rasa masakan mama mertua enak. Jadi mungkin ini penyebab aku ingin makan banyak." Paris mengunyah makanan di atas piringnya dengan lahap.


**


Tubuh Biema masih melingkar di balik selimut meskipun terik matahari sudah menyoroti kamar tidurnya. Sesaat setelah mampu membuka mata, ia melihat ke sekeliling sekejap. Saat itulah ia melihat pigura yang di pajang di atas dinding. Potret dirinya yang sedang tersenyum tipis di depan gedung perusahaan terpampang di sana. Itu pertama kalinya ia datang ke perusahaan sebagai pekerja.


Kenapa foto itu ada di kamar ... Matanya menyipit ketika melihat ke langit-langit kamar, dinding dan perabot. Ia merasa sedang berada di kamar orang lain. O ... ini kamarku di rumah mama. Ia baru sadar bahwa dirinya masih ada di rumah keluarganya. Menyadari Paris tidak ada di samping dan bahkan tidak menunggunya bangun, tangan Biema menyingkap selimut tebal itu dan beranjak berdiri.

__ADS_1


"Oughhh ..." Rasa kaku pada tubuhnya membuatnya sedikit kesakitan. Tidur seharian ternyata membuat badannya yang terbiasa aktif justru sakit. Hanya cuci muka dan gosok gigi, Biema turun ke bawah mencari-cari kekasih hatinya. Ia ingin segera bertemu Paris. Meski tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya, Biema sadar bahwa semalaman istrinya itu menjaganya yang menggigil.


"Kamu sudah sehat, sayang ..." Mama muncul dari pintu dapur. Mendekat, dan akan memeriksa kening putranya. Namun sebuah pertanyaan tegas segera menghentikannya.


"Mana Paris?" tanya Biema tidak mempedulikan kalimat mamanya yang begitu perhatian.


"Ada." Tangan mama urung menyentuh.


"Dimana, Ma?" tanya Biema menggebu. Pria ini sedikit menggeram saat bertanya. Mama mengerjap. Putranya seperti sudah lama tidak bertemu dengan istrinya setelah sekian lama.


"Di ... dapur," tunjuk mama Biema lambat karena tertegun putranya tegang saat bertanya tentang istrinya. Tanpa bicara lagi, Biema segera melesat menuju ke dapur. Kakinya melangkah dengan cepat. Bola mata mama mengerjap melihat kepanikan putranya saat baru saja bangun tidur. Beliau memandang dengan terheran-heran ketika punggung tetap itu membelakanginya.


Kaki Biema dengan cepat, tiba di dapur. Ia melihat Paris sedang berdua bersama bibik pelayan. Berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa Biema dengar karena suara mereka tidak terlalu keras. Tangan mereka juga sedang sibuk dengan sayuran.


Bibik melebarkan mata dan mengangguk saat Biema muncul di belakang. Membuat Paris menjeda kalimatnya dan menoleh ke belakang. Bibirnya tersenyum. Dia meletakkan sayuran di tangannya dan maju melangkah mendekat. Tanpa bicara Biema langsung memeluk istrinya. Ini membuat Paris terkejut.


"Aku mencarimu ..." keluh Biema makin erat memeluk tubuh Paris.


"Ini sudah ketemu. Jadi lepaskan dulu. Jangan memeluk lama-lama. Masih ada bibik di sini," imbuh Paris masih dengan berbisik.


"Bibik mengerti kok," bantah Biema. Paris kalah. Ia akhirnya membiarkan suaminya memeluknya lebih puas. Rasa malu Paris tadi kian bertambah saat mama mertua juga muncul di dapur. Pelukan Biema bahkan belum usai.


"Aduh, bayinya manja sekali ya Paris ...," tegur mama sambil menaikkan alisnya menunjuk putranya yang menempel pada istrinya. Senyuman beliau menunjukkan bahwa putranya sedang bersikap lucu. Paris tersenyum canggung lagi. Pada saat suara mama terdengar ini, Biema melepas pelukannya. Mengusap kepala istrinya dan menoleh pada mama.


"Kenapa Paris berada di sini, Mama?" tanya Biema. "Dia kan sangat lelah karena tadi malam terbangun karena menjagaku." Paris terkejut. Nada bicara Biema terdengar menyalahkan mama mertua. Pria ini sedang protes.

__ADS_1


"Eeehh ... jangan bertanya pada mama seperti itu. Aku di sini bukan sedang di suruh mama. Aku hanya sedang ingin melakukan sesuatu di dapur," ujar Paris mencegah pria ini makin protes. Mama hanya tersenyum. Sambil mendekati bibi, beliau membiarkan putranya salah membaca situasi yang sekarang terjadi.


"Benarkah?" tanya Biema tidak percaya.


"Tentu saja," sahut Paris yakin. Bola mata Biema melihat kearah meja dapur yang berisikan sayuran segar.


"Jadi kamu sedang apa?" tanya Biema.


"Sepertinya aku yang harus bertanya. Kenapa kamu berada disini saat kamu sedang sakit." Paris ganti bertanya. Biema terdiam.


"Aku merindukanmu," jawab Biema polos. Paris lagi-lagi terkejut. Andai saja Biema mengatakannya saat mereka berada di apartemen yang isinya hanya ada mereka berdua, mungkin Paris tidak canggung. Namun karena ada dua orang yang mulai berbisik dan tersenyum geli melihat keromantisan Biema, Paris sedikit memerah malu.


"Ehem." Paris berdehem menetralkan rasa malu pada mertua dan pembantunya. "Bukannya kita baru saja bertemu." Paris melebarkan manik matanya. "Kamu sakit dan harus tetap rebahan di kamar."


"Aku tidak tahu. Aku hanya berpikir ingin segera bertemu denganmu karena rindu," sahut Biema tidak peduli. Ia makin menggemaskan.


"Kamu temani saja, Biema. Bayimu itu sedang ingin di temani mamanya terus ya," ledek mama membuat Paris tersenyum canggung. Biema tidak mengubah mimik wajahnya meskipun mama sudah meledeknya. Paris melepas apronnya. Lalu membimbing punggung pria ini untuk menjauh dari dapur.


"Aku lapar," ujar Biema. Kepalanya menoleh ke belakang. Melihat Paris yang sedang mendorong tubuhnya.


"Kamu kembali tiduran di kamar aja, aku akan mengambilkan makanan."


"Tidak. Di sini saja. Aku lelah berada di kamar seharian," keluh Biema. Dia memegang tangan Paris dan meletakkannya di atas keningnya. "Badanku sudah tidak panas lagi. Jadi biarkan aku berada di luar kamar," pinta Biema. Paris menyentuh kening pria ini. Ya. Suhu tubuhnya normal.


"Oke. Duduklah di sini." Paris melepaskan tangannya dari genggaman Biema.

__ADS_1



__ADS_2