
Di saat Paris pusing mengerjakan soal ujian, di kantor Biema juga pusing karena memikirkan gadis itu. Dia merasa bersalah membuat Paris lesu.
"Apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah membuatnya lemas," sesal Biema. "Sebaiknya aku membawanya ke dokter. Dia terlihat tidak bertenaga. Dia butuh banyak vitamin," gumam Biema di kursi kerjanya. "Meskipun dia jarang belajar, aku yakin dia kebingungan saat mengerjakan soal. Dia pasti marah padaku." Saat itu Fikar yang berjalan masuk ke ruangannya mendengar.
"Sepertinya bukan hanya kesehatan Paris yang harus di perhatikan." Fikar mengemukakan pendapatnya.
"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Biema tidak suka Fikar bicara.
"Kamu harus membiarkan dia punya waktu belajar."
"Kamu meremehkan, Paris?" desis Biema tidak terima.
"Aku tidak berniat meremehkan siapapun. Hanya saja kamu sudah menyita banyak waktu gadis itu. Dimana waktu dia seharusnya belajar, tapi kamu gunakan untuk dirimu sendiri," kata Fikar geram. "Kamu mulai lupa diri."
Mendengar itu Biema tidak membantah. Itu kenyataan. Dia bukannya mengawasi gadis itu belajar, justru dia membuat gadis itu tidak memikirkan belajar sama sekali. Rasa capek yang timbul membuat Paris malas.
"Berhenti mengoceh. Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" ujar Biema selanjutnya. Fikar menghela napas.
"Beri kejutan para guru dengan nama Paris." Sebenarnya sudah sejak awal hubungan pernikahan mereka berdua terkuak, Fikar ingin mengusulkan ide ini. Hanya saja belum sempat bicara. "Lalu kamu juga bisa muncul di sana. Dia akan senang mendapat kejutan ini."
"Muncul di sana?" tanya Biema ragu.
"Sebagai ucapan terima kasih kepada kepala sekolah juga karena sudah membantu kamu waktu itu. Kita belum mengucap terima kasih," ujar Fikar mengingatkan.
"Okelah. Atur semuanya dengan baik. Aku ingin bertemu dengannya siang ini," ujar Biema sambil tersenyum. Membayangkan akan bertemu istrinya, Biema bahagia. Namun dia tidak menduga bahwa akan melihat Paris berdekatan dengan seorang pria.
Pemuja Paris?
__ADS_1
Juna melirik ke arah gadis di sebelahnya. Lalu melirik lagi ke arah pria yang menyebut dirinya sendiri sebagai pemuja Paris. Fikar juga sedang melirik ke arah Biema yang terus saja memandang tajam ke arah Juna yang memang tampak kelihatan lebih dewasa karena memakai seragam dari tempat kerjanya. Dia juga tidak tahu siapa cowok di samping istri atasannya ini.
Kakak memang memuja Paris sekarang. Sandra tersenyum senang mendapati kakaknya bertingkah lucu. Meskipun menegangkan, ada lucunya juga.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Biem?" desis Paris perlahan. Bola matanya membelalak menemukan pria ini muncul di sekolah. Dia tidak memperdulikan kata-kata Biema yang sempat membuat dia berpikir tadi. Paris sangat terkejut. Namun bukan langsung menjawab pertanyaan istrinya, Biema justru memberikan kode. Dagunya bergerak ke samping. "Apa?" tanya Paris yang tidak peka. Juna hanya diam dengan ponsel di tangannya.
"Hei, terus cari yang tadi," perintah Paris pada Juna sambil menepuk lengan cowok ini dengan punggung tangannya. Paris tidak membiarkan Juna berdiam diri saja. Dia masih ingin tahu soal kejutan ini.
"Oh, oke," sahut Juna dengan santai. Kemudian kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.
Rahang Biema semakin mengetat. Melihat interaksi ini Biema tambah kepanasan. Kini bukan hanya dagu saja yang bergerak. Melainkan tangan pria itu juga ikut bergerak ke samping. Bola mata Biema juga membelalak dengan kesal.
"Apa, sih?" tanya Paris ikut kesal.
Sandra melirik ke arah Juna. Eh, kakak mode cemburu nih? Dia enggak tahu ya ... kalau Juna itu adiknya kak Asha?
Aduh. Itu benar. Aku harus segera meluruskan salah paham ini. Kasihan sekali kakak terlihat tersiksa melihat Paris berdekatan dengan Juna. Sandra mulai cemas.
"Anu ...." Sandra berusaha mengemukakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun suaranya tertelan dengan perdebatan mereka yang sudah tidak mempedulikan orang lain. Bahkan Fikar memberikan kode pada adik atasannya ini untuk diam. Tidak boleh ikut campur perdebatan mereka.
Sementara itu Juna masih mencari nama pemesan yang sebenarnya di aplikasi layanan tempat dia bekerja paruh waktu. Dia sempat mencatat nama pemesan karena dari awal nama pemesan adalah orang lain, tapi beberapa waktu kemudian di ganti dengan nama Paris.
Ah, ini dia, seru Juna dalam hati senang akhirnya menemukan nama yang ia cari.
"Juna?" tanya Paris sedikit heran. Mendengar namanya di sebut, Juna mendongak.
Kenapa menyebut namaku? tanya Juna dalam hati. Dia memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
"Bahkan kamu menyebut namanya dengan mudah di depanku." Bukan mengiyakan, Biema justru semakin murka mendengar Paris menyebut nama pria lain dengan mudahnya. Wajahnya nampak terluka dengan penyebutan nama barusan.
"Kamu kenapa sih, Biema?" Paris jadi bingung melihat sikap Biema. Fikar menghela napas melihat dua pasangan ini.
Biema? Jadi pria ini Biema, kakak Sandra? Pria yang tampan, ucap Juna dalam hati. Karena kali ini Juna lebih fokus mendengar daripada tadi, dengan jelas nama itu terdengar di telinganya. Juga ... lebih dewasa dan terlihat mapan. Benar saja. Tentu dia juga orang kaya. Mungkin seumuran dengan kak Arga.
Rupanya Juna sudah bisa memanggil, Arga dengan sebutan 'Kak'.
Tidak ada rasa lain yang di pikirkan Juna selain ingin tahu karena dia adalah suami Paris. Namun berbeda dengan Biema yang tampak memandang Juna sebagai saingan.
Dia cemburu padaku? Juna menangkap maksud pria di depannya itu. Masa' sih? Bola mata Juna memperhatikan dengan seksama sorot mata tajam itu. Benar. Dia cemburu padaku! Yang benar saja. Juna berpikir sejenak.
Aku harus segera meluruskan ini. Mata pria ini bagai laser yang ingin menghancurkan aku dalam sekejap. Juna punya firasat yang bagus
"Maaf, aku Juna." Juna memberanikan diri menyela. Setelah tadi melihat Paris dengan dingin, kini bola mata itu bergeser melihat ke arah pria yang sudah mengusiknya sejak awal. Biema kini menatap Juna makin tajam.
"Kamu sedang memperkenalkan dirimu?" tanya Biema dengan raut wajah tidak bersahabat. Sapaan ramah Juna di mentahkan. Juna yang mengerti, tidak langsung termakan aura perseteruan yang dahsyat itu. Dia tersenyum terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu lagi.
"Ya. Maaf saya terlambat mengenalkan diri."
"Kamu tidak perlu memperkenalkan dirimu. Aku tidak butuh," sahut Biema pelan tapi kejam. Paris memutar bola matanya.
Waduh dia cemburu tingkat dewa, Juna bergidik.
"Kak, dia adalah ...." Sandra masih berusaha memberitahu.
"Saya Karyawan dari food truck yang Anda pesan," ujar Juna langsung dengan ramah. Paris menoleh.
__ADS_1